
Ghea mengerjap dan mengucek matanya berulang kali, sungguh dia tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini, Anggoro terlihat mengobrol akrab dengan Angga, sang kekasih.
Setelah sebelumnya dia melihat sang kakak yang ternyata mengenal Haris dan mengatakan kalau kakaknya merupakan bos besarnya, kini belum habis keterkejutannya tentang itu semua, dia harus di hadapkan dengan kejutan lainnya dimana ternyata Angga yang selama ini terkesan polos dan gampang sekali di atur olehnya itu mempunyai kedekatan dengan Anggoro yang menginginkan kematiannya, dan mirisnya disinyalir kalau mereka adalah merupakan ayah dan anak.
"Aaaarrrrgggg,,,, apa-apaan ini,! candaan macam apa yang sedang Tuhan lakukan dengan ku, kenapa semua orang yang sebelumnya sangat baik dan selalu di pihak ku tiba-tiba menampakkan sisi lainnya di belakang ku,!" teriak Ghea histeris, untung saja mereka berada di dalam mobil yang tertutup rapat, sehingga teriakannya tak akan terdengar ke luar.
Biru dapat mengerti kalau saat-saat seperti ini merupakan pukulan terberat bagi Ghea, sehingga dia tak menginnterupsi ataupun memojokkan Ghea seperti biasanya, saat ini Biru hanya ingin diam dan berusaha menjadi pendengar yang baik atas semua keluh kesah yang terus saja Ghea ocehkan tanpa henti dalam tangisnya yang lagi lagi harus pecah di hadapan Biru.
"Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa aku di hadapkan pada sebuah misteri yang penuh dengan tanya ini, aku bingung, aku tak tau harus percaya pada siapa sekarang ini, tak ada satupun yang tulus dan baik pada ku, aku bahkan tak tau wajah asli orang-orang yang mengaku sangat menyayangi ku dan ingin selalu melindungi dan menjaga ku itu." racaunya tanpa jeda.
"Kenapa kau diam saja, apa kau senang melihat ku hancur seperti ini? Atau jangan-jangan kau saat ini sedang menertawakan ku dalam hati?" tuduh Ghea, melampiaskan semua rasa marah dan kekesalannya pada Biru yang masih setia menemaninya dalam diam.
"Kau ingin aku berbuat apa? Bicara apa? Sedangkan semua kata-kata ku selalu kau patahkan, dan tak kau percaya!" kata Biru pasrah saat dirinya di jadikan sasaran kemarahan Ghea saat ini.
Tentu saja Biru bisa bertahan dan memaklumi dengan sikap Ghea saat ini, tak banyak orang yang masih mampu bertahan saat di rundung masalah bertubi-tubi seperti yang Ghea alami beberapa hari belakangan ini.
Untuk wanita manja sekelas Ghea, sungguh Biru memberikan apresiasi yang sangat tinggi akan ketangguhannya, meskipun terkadang dia cengeng seperti yang dilakukan Ghea sekarang ini yang sedang menangis tersedu-sedu.
"Wajah mu ternyata jelek juga kalau sedang menangis seperti ini," seloroh Biru, seraya memandangi wajah penuh air mata dan ingus wanita yang tak bisa berhenti menangis itu.
__ADS_1
"Sialan, apa maksud mu? Bahkan puteri tercantik se jagat raya pun akan terlihat jelek saat dia sedang menangis!" elaknya.
"O ya? Pantas saja, puteri tercanti sejagat raya saja bisa jelek saat menangis, apa lagi kau ya!" cicit Biru dengan polosnya.
"Ah, kau memang tak punya perasaan sedikit pun, bahkan aku yang sedang di rundunga banyak masalah seperti ini pun masih saja kau hina, dasar tak punya hati!" sewot Ghea dengan wajah garangnya.
"Apa ada yang salah dari kata-kata ku? Aku hanya mengulang apa yang di katakan oleh mu?"
"Entahlah, kau memang sangat menyebalkan!" Ghea memalingkan wajahnya memandang ke luar jendela mobil yang tertutup itu, seedih da sakit rasanya, dalam waktu yang hampir berdekatan dia harus dipaksa kehilangan kepercayaan pada dua pria yang sangat berarti dalam hidupnya selama ini.
Sungguh dia ingin menyangkal dan mengingkari semua yang tertangkap oleh kedua matanya itu, namun sepertinya menyangkal kenyataan tak semudah apa yang di bayangkannya, sepertinya itu akan lebih sulit dari menerima kenyataan.
"kau mau makan apa, kita take away saja dan makan di rumah, akan sangat berbahaya jika ada seseorang yang melihat mu berkeliaran dan sampai Haris tau." saran Biru.
"Cih, bukankah tak ada bedanya mau aku hidup ataupun mati, apa yang harus aku takutkan sekarang ini, toh aku sudah kehilangan orang-orang yang berharga dalam hidup ku!"
"Hahaha,,, aku pikir kau kuat, ternyata kau lemah dan payah!" Biru tertawa sumir, mengejek secara terang terangan, apalagi setelah mendengar kata orang berarti yang GHea ucapkan barusan, hatinya terasa panas mendengarnya, ya,,, Biru sepertinya sedang terbakar api cemburu.
"Terserahlah kau mau menertawakan ku, mengejek ku, atau bahkan benar-benar membunuh ku sekalipun, aku sudah tak peduli, aku merasa hidup ku mulai tak berarti," pasrah Ghea putus asa.
__ADS_1
"Ah memang wanita sialan kau, kalau kau ingin mati setidaknya kau katakan saat di hutan sana, jadi aku dengan mudahnya menendang mu ke jurang dan meninggalkan mu di sana, kalau aku membunuh mu di sini, akan menjadi pekerjaan lagi karena harus menyembunyikan mayat mu, ku potong-potong, lantas ku buang, ah,,, merepotkan!" cicit Biru dengan entengnya, sementara Ghea terbelalak mendengar kata-kata mengandung kekerasan dan kekejaman sehngga dia bergidik dan merinding saat membayangkan tubuhnya sedang di potong-potong menjadi beberapa bagian.
"Kau sadis sekali!" gumam Ghea menggeser posisi tubuhnya merapat ke arah pintu mobil karena mulai merasa ngeri dengan Biru yang di anggapnya sebagai pembunuh berdarah dingin itu.
"Bukannya kau ingin mati? Cemen!"
"Aku tak tau, aku bingung, aku kalut, aku kacau, aku merasa Tuhan mempermainkan nasib hidup ku, semua orang jahat pada ku, aku tak punya siapa-siapa lagi sekarang!" ratapnya pilu, namun sarat dengan emosi.
"Apa kau hanya ingin pasrah dan menyerah begitu saja?" tanya Biru.
"Aku tak tau!" lagi-lagi hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Ghea.
"Apa kau yakin tak akan mati penasaran karena tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi? Tak inginkah kau mengetahui dan mengungkap semua misteri ini, yaaa,,, setidaknya setelah semua tabir ini tersingkap dengan jelas, jika kau tetap ingin mati, kau akan mati dengan tenang, tanpa membawa banyak pertanyaan ke akhirat sana!" tantang Biru.
Lama Ghea terdiam mencera kata-kata biru yang terkesan dingin, menyebalkan dan kadang jahat, namun jika dia pikir-pikir, semua itu ada benarnya, dia harus tau apa yang sebenarnya terjadi, dan bukan saatnya dia untuk menyerah.
"Apa kau mau membantu ku mengungkap semua ini?" tanya Ghea dengan sangat yakin.
Senyum samar itu tersungging di bibir Biru, bahkan Ghea pun tak menyadari senyuman kemenangan itu, rasa puas Biru karena akhirnya telah berhasil menyalakan kembali semangat hidup Ghea hanya bisa Biru simpan dalam hatinya, cukup senyuman samar itu yang mewakili rasa bahagia yang di rasakannya saat ini.
__ADS_1