BIRU

BIRU
lipstick siapa?


__ADS_3

"Jadi cleaning service banget, nih?" gerutu Ghea, saat dirinya gendak masuk mobil dan akan di anter Biru menuju yayasan.


Sejak tadi subuh gadis itu sudah berkutat dengan segala macam alat-alat penyamarannya, bahkan saat semua sudah di pakainya dirinya malah gak pede dan tak berani keluar kamar, terjadilah drama gedor-gedor pintu yang di lakukan Biru yang tak sabaran menunggu Ghea selesai berdandan.


Keluar kamar dengan dandanan bak gadis culun dengan kacamata tebal sontak saja membuat Biru yang sedang menikmati kopinya langsung menyemburkan kopi itu dari mulutnya karena menahan tawa.


"Kenapa sih, emangnya dengan cleaning service? aku aja dulu pernah ngamen, pernah jadi tukang cuci piring di rumah makan, biasa aja!" ujar Biru santai.


"Serius, kamu pernah ngamen sama jadi tukang cuci piring? Ah, ngarang aja kali buat nyeneng-nyenengin aku aja. Sebenernya gak ada masalah sama cleaning service nya, cuma aku di sana pimpinan lho, sebelumnya. Kalo ada yang ngenalin aku gimana?" Ghea terlihat gusar.


"Yang jadi pimpinan di sana itu Ghea, sekarang nama mu Tini, inget Tini, jangan salah ya, ini kesempatan buat mu untuk lebih dekat dengan permasalahan mu, dengan dekatnya kamu pada masalah mu akan semakin mengerti dan tau bagaimana cara menghadapinya, karena masalah bukan buat di hindari, kamu udah siap, kan?" Biru terdengar seperti bapak-bapak yang memberi wejangan pada anak gadisnya yang akan bekerja di hari pertamanya.


"Hem, siap, selalu siap dan harus siap!" jawab Ghea penuh percaya diri.

__ADS_1


"Semangat Tini!" ledek Biru saat Ghea turun dari mobilnya di ujung jalan agak jauh dari gerbang yayasan.


"Ish, malah ngeledek," Ghea pura-pura ngambek dan berlalu meninggalkan Biru yang terus menatap punggungnya dari kejauhan sampai gadis itu benar-benar masuk ke gerbang yayasan.


Melepaskan Ghea ke luar sendirian untuk pertama kalinya setelah kejadian itu membuat pikiranya tak tenang, dia bahkan tak fokus dalam melakukan aktivitasnya.


"Kamu kenapa sih, dari tadi bengong aja, mikir apa?" tanya Yola yang kini duduk di sebelah Biru yang tengah mengemudi mengikuti iring-iringan kendaraan Baron yang hendak berkampanye di daerah pinggiran kota.


"Gak, cuma lagi males aja, agak gak enak badan," kilah Biru.


"Bisa lah, di kira robot apa!" kesal Biru.


"Yaudah istirahat kalo gak enak badan, ntar aku pulang sama bang Haris aja, kamu bisa langsung pulang kalau sudah sampai lokasi." usul Yola, dalam timnya memang salah satu aturan paling penting dalam melakukan kegiatan harus benar-benar dalam keadaan fit, karena salah-salah resikonya akan fatal, pekerjaan mereka itu berat, tak hanya memakai fisik tapi pikiran untuk menentukan strategi yang tepat.

__ADS_1


"Oh, oke!" jawab Biru antusias, tak tau saja dalam Hati Biru bersorak sorai karena akhirnya hari ini dia bisa menemui Ghea di yayasan demi meyakinkan dirinya kalau Ghea dalam keadaan baik-baik saja saat ini di sana.


"Biru, kamu punya pacar ya?" tanya Yola tiba-tiba membuat Biru sedikit gugup.


"Pacar? Gak lah!" tepisnya yakin.


"Trus ini punya siapa? Perasaan kamu gak pernah nyamar jadi bencong!" Yola menunjukkan lipstick yang di pungutnya dari bawah kursi mobilnya.


Sepertinya itu milik Ghea, dan terjatuh karena tadi terburu-buru saat turun dari mobilnya.


"Ah, emh,, itu---" Biru menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, dia kebingungan harus menjawab apa.


"Kapan-kapan kenalin, kayaknya cewek mu boleh juga, di lihat dari merek lipsticknya ini merek mahal," celoteh Yola lagi seakan tak memberi kesempatan Biru untuk memberi jawaban atau setidaknya beralasan untuk menyangkal.

__ADS_1


Yola yakin Kalau Biru menyembunyikan sesuatu sedari awal dengan sikapnya yang aneh, dan kali ini sepertinya dia sudah mendapatkan kesimpulannya sendiri kalau sikap aneh Biru itu berkaitan dengan pria itu yang diam-diam mempunyai kekasih, setidaknya itu yang Yola pikirkan.


Sementara Biru saat ini sedang kebingungan, takut kalau keberadaan Ghea yang kini selalu di dekatnya itu akan tercium oleh Yola atau Haris.


__ADS_2