
"Berterima kasih dan berbaik-baiklah dengan nya, karena ular ini yang akan menggantikan nyawa mu," ucap Biru penuh misteri.
"Ha, bagaimana bisa begitu? Jangan bilang kalau aku akan di bunuh dengan cara di gigit ular berbisa ini!" ucap Ghea, namun tak terlihat rasa takut akan di bunuh lagi dari sinaran matanya, semua itu dia ucapkan hanya sebagai kelakarnya saja, sungguh saat ini dia sangat percaya kalau Biru beranda di pihaknya.
Tak berapa lama sampailah mereka di tepi jurang yang sangat terjal.
"Maafkan aku ular, sepertinya kau harus menyelamatkan nyawa seseorang dengan mengorbankan nyawa mu." Biru mengeluarkan sebilah belati dari balik celananya lalu tanpa ragu menyabetkan belati tajam itu ke kepala ular yang berada di kepalannya, sehingga tubuhnya terpisah dari kepalanya yang masih dalam kepalan tangannya.
Hal itu terlalu sadis bagi Ghea, sampai dia memejamkan matanya saat tubuh ular itu masih meliuk-liuk di tanah meski sudah tanpa kepala.
"Hey, kau kejam sekali,!" ucapnya dengan masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, namun sesekali mengintip dari sela-sela jarinya karena merasa penasaran.
"Mendekatlah!" kata Biru sambil melemparkan kepala ular itu ke arah jurang lalu memungut tubuh ular yang masih meliuk-liuk pelan.
Tanpa di duga-duga, Biru mengoleskan darah ular itu ke tubuh Ghea di bagian dada dan bahunya.
"Hey, kau gila, apa yang kau lakukan!" protes Ghea memundurkan kakinya beberapa langkah menjauh dari Biru.
__ADS_1
"Diamlah, kita bermain peran sebentar, ini harus terlihat sangat meyakinkan!"
"Ta-tapi ini sangat menjijikan!" tolak Ghea.
"Diamlah anggap saja sedang shooting film, ini untuk meyakinkan Haris bahwa aku benar-benar sudah membunuh mu," ujar Biru sambil mengerahkan gaya Ghea persis seperti fotografer profesional yang sedang mengarahkan modelnya.
"Tapi film gak pake darah ular kali, cuma pake pewarna makanan atau pewarna apa lah gitu, ini bau sekali, amis!" Ghea terus saja protes meski tak urung dirinya mengikuti arahan gaya yang di minta Biru.
Belum sempat mengirimkan foto-foto yang di ambilnya tadi, karena terkendala sinyal, tiba-tiba hujan turun begitu derasnya, padahal saat mereka berjalan masuk ke dalam hutan itu cuaca terbilang cerah, namun entah mengapa tiba-tiba hujan turun tanpa aba-aba, atau mungkin karena saat ini sudah masuk musim penghujan, jadi cuaca sering tak menentu.
Ghea berlari ke arah Biru, gadis itu terlihat sangat ketakutan, karena hutan juga jadi terasa lebih gelap dari sebelumnya.
"Biar kau mandi, tuh, darah ularnya luntur, kan kena air hujan!" seloroh Biru asal yang hanya di jawab dengan decakan kesal Ghea.
Biru menarik tangan Ghea, dia mengajak Ghea berlindung di sebuah gubuk, entah siapa yang kurang kerjaan membangun gibuk di tengah hutan seperti itu, namun yang jelas Biru pantas berterimakasih pada siapapun yang membangun gubuk yang bangunannya terbuat dari kayu itu karena kini dirinya dan Ghea dapat berteduh dan tak terkena air hujan, meski pakaian mereka sudah basah kuyup.
"Rumah siapa ini, jangan asal masuk. barangkali ada yang punya!" Ghea menahan langkahnya saat kakinya tinggal satu langkah lagi masuk melewati pintu kayu lapuk yang terbuka lebar itu.
__ADS_1
"Mana ku tau ini rumah siapa, kita hanya ingin numpang berteduh tak berniat mencuri, lagi pula apa yang mau di curi sih, di tempat kaya gini!" Biru tetap melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan satu petak yang hanya di isi sebuah bale-bale bambu yang penuh dengan debu.
Merasa ketakutan karena ditinggal masuk oleh Biru, pada akhirnya Ghea pun ikut masuk ke ruangan gelap itu.
"Duduklah disana!" tunjuk Biru ke arah bale-bale bambu, namun Ghea hanya menggeleng, mana mau dia duduk di tempat berdebu tebal seperti itu.
"Hmm,,, terserahlah, kalau kau mau berdiri saja di sana sampai hujan reda." ujar Biru cuek.
Benar saja, hujan tak juga berhenti sampai hari sudah hampir sore, Biru berinisiatif menyalakan api unggun di dekat gubuk yang terhalang atap.
"Kamu mau kemana?" tanya Ghea saat Biru beranjak dari perapian.
"Aku lapar, mau mencari sesuatu yang bisa di makan," Biru menunjuk pohon singkong yang tumbuh liar di sekitar gubuk, atau mungkin sengaja di tanami oleh orang yang sering kesana buat peranti mereka makan.
"Ikut!" seru Ghea terus saja mengekor kemana langkah kaki Biru melangkah. Dia tak ingin di tinggal sendiri barang sedetik pun.
Mata Ghea terus saja memperhatikan Biru yang sedang asik mencabuti pohon singkong dan membersihkan umbinya dengan air hujan, lalu membakarnya. Petir kini ikut menyambar-nyambar membuat Ghea semakin dilanda ketakutan, tubuhnya semakin merapat ke tubuh Biru tak menisakan jarak satu centi pun.
__ADS_1
"Aku takut!" cicitnya, sambil menahan tangis.
"Dasar manja!" cibir Biru menatap dengan sinis, meski hatinya sekuat tenaga menahan perasaan yang meronta-ronta ingin balas memeluk gadis pujaannya namun dia masih menjaga gengsinya.