
"Masuk jalan itu, rumah kakak ku di ujung jalan sana!" tunjuk Ghea ke arah jalan sebuah perumahan elite yang sepertinya buntu itu.
"Lho, kok malah berhenti? Rumahnya masih beberapa meter dari sini, di ujung sana," protes Ghea saat Biru tiba-tiba menepikan lalu menghentikan laju kendarannya.
"Apa rumah kakak mu yang berwarna abu-abu itu?" tunjuk Biru ke sebuah rumah berlantai 3 yang lebih mencolok di antara bangunan lainnya yang ada di sekitar sana.
"Iya, kenapa?" agguk Ghea terlihat sedikit kebingungan.
"Sepertinya kita disini dulu saja," Biru justru malah mematikan mesin mobilnya.
Baru saja Ghea membuka mulutnya hendak melayangkan protesnya, namun jari telunjuk Biru telah terlebih dahulu nempel di depan bibir sensual gadis itu membuat Ghea mengurungkan niatnya untuk bersuara.
"Kau lihat itu!" tunjuk Biru saat tak selang berapa lama terlihat seorang pria keluar dari gerbang rumah kakaknya.
Ghea terlihat menutup mulutnya yang tiba-tiba menganga dengan kedua tangannya berusaha agar dirinya tak mengeluarkan suara atas kekagetannya dengan apa yang kini di lihatnya.
"Di-dia bukannya dia itu teman mu? mengapa dia ada di rumah kakak ku? Ah atau jangan-jangan dia hendak mencelakai Kak Baron?" Ghea beringsut dari tempat duduknya dan bergegas hendak membuka pintu mobil, namun tangan Biru lebih dulu menarik lengannya sehingga menahan gadis itu untuk tetap berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Lantas kalau memang Haris ingin mencelakai kakak mu, kau bisa apa? kau mau berbuat apa? Haris bukan orang ceroboh, dia tak mungkin membunuh target di tempat seperti ini, aku sangat tau dia." ujar Biru.
"Setidaknya aku bisa berteriak dan memanggil warga atau sekurity jika kau tak mau membantu ku!" Ghea berontak memaksa ingin keluar dari mobil, untuk memastikan keadaan kakak tercintanya itu.
"Kakak mu sepertinya baik-baik saja, itu kakak laki-laki mu bukan?" tunjuk Biru lagi saat seorang pria perlente yang sepertinya seluruh warga kota tau dan pasti akan mengenal siapa dia, Baron Prayudha, pejabat tinggi yang akan mencalonkan diri untuk menjadi gubernur di tahun ini.
"Kak Baron?" pekiknya tertahan, Ghea terlihat begitu syok saat melihat Baron mengobrol sangat akrab dengan Haris yang baru saja keluar dari gerbang rumahnya.
"Kau yakin masih ingin kembali ke rumah kakak mu?" tanya Biru lagi memastikan.
Namun tiba-tiba sebuah pesan berisi bukti transfer sejumlah uang dari Haris masuk ke ponsel Biru.
Tanpa basa basi lagi Biru lantas langsung menghubungi Haris, sengaja dia membuka loadspeaker ponselnya agar Ghea bisa ikut mendengar pembicaraannya dengan Haris.
"Hallo bos, uang apa nih yang di kirim, kenapa jumlahnya sangat besar?" tanya Biru pura-pura tak mengerti.
"Tentu saja uang misi karena kau telah berhasil menghabisi wanita itu, ada bos besar yang berani membayar lebih besar jika kita berhasil membunuh wanita itu dan membuat Anggoro menjadi tersangkanya." terang Haris.
__ADS_1
"Bos besar? aku perlu bicara, apa kita bisa bertemu di markas sekarang?" pancing Biru.
"Aku sedang di rumah bos besar yang baru saja melunasi pembayaran misi kita, setelah aku di markas aku akan mengabari mu, sekalian kita merancang untuk menjebak Anggoro agar menjadi tersangkanya, dan kita akan mendapat uang lebih besar lagi dari bos besar kita," urai Haris yang sedikit banyak mulai dapat di pahami oleh Biru mengapa bosnya itu berada di rumah Baron, namun yang menjadi pertanyaannya, apa benar bos besar yang dimaksud Haris itu adalah Baron?
Bukankah menurut Ghea Baron adalah kakak yang selalu melindunginya? Lalu apa maksud dari semua ini?
Biru berpikir keras sampai dia melupakan sosok Ghea yang kini tengah duduk di sampingnya dan sejak tadi mendengarkan percakapannya dengan Haris.
Tak terbayangkan oleh Biru bagaimana hancurnya perasaan Ghea jika apa yang ada di pikirannya saat ini sama seperti apa yang di pikirkan gadis itu.
Benar saja, saat Biru menoleh ke arah kursi penumpang yang berada di sampingnya, dia melihat Ghea berurai air mata dalam diam, tak tau apa yang membuatnya sesedih itu saat ini.
"Sebaiknya kau ikut aku saja sbelum semuanya jelas, aku tau apa yang kau pikirkan sekarang, tapi rasanya kita harus mencari tahu dulu sebelum menyimpulkan suatu permasalahan." Biru tak lagi ketus atau dingin saat berbicara dengan Ghea, dia tak ingin lebih menambah luka batin Ghea saat ini.
Entah mengapa hatinya ikut perih saat melihat Ghea berurai airmata dalam diam seperti itu, dia lebih memilih Ghea memarahinya atau menangis meraung-raung daripada melihat Ghea menangis menahan perih dan sesak di dadanya atas apa yang di dengarnya.
"Ghe, kau belum tau kebenarannya, jangan terlalu banyak berpikir sebelum semuanya jelas, aku akan membantu mu membuat semua permasalahan ini menjadi jelas, namun aku tak setuju jika kau pulang ke rumah kakak mu untuk saat ini." putus Biru akhirnya.
__ADS_1