
"Rumah siapa ini?" Tanya Ghea mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan rumah sederhana bergaya minimalis yang terletak di daerah pinggiran kota itu.
Suasananya sangat nyaman, masih banyak terlihat sawah dan pepohonan di dekat area rumah yang tak begitu banyak mempunyai tetangga itu.
"Gini-gini aku juga punya rumah sendiri, meski tak semewah rumah mu atau rumah kakak mu!" sinis Biru namun dengan nada bicara yang datar.
"Hemh,,, beli rumah dari hasil membunuh orang?" celetuk Ghea dengan polosnya, entah sengaja ingin menguji kesabaran Biru atau memang dia sepolos itu.
"Apa maksud mu? Kenapa kau berkata seperti itu tentang hidup ku? Kau pikir kehidupan pejabat seperti kakak mu itu bersih dan suci? Justru mereka lebih biadab dari seorang pembunuh!" sungut Biru tak terima dengan celetukan Ghea padanya.
"Kenapa kau jadi bawa-bawa kakak ku?" nada bicara Ghea mulai meninggi, dia balik marah karena merasa tak terima Biru membawa-bawa kakaknya dalam pembicaraan mereka.
"Kau yang duluan mengusik ku, dasar orang kaya, manja, egois, ingin di hargai tapi tak tau caranya menghargai orang lain!" sewot Biru.
Ghea terdiam, sepertinya dia sedikit menyadari kalau ucapannya tadi sudah menyinggung perasaan Biru, tak sepatutnya dia berbicara seperti itu pada pria yang menolongnya, dan kini memberikan tumpangan padanya di saat dirinya tak punya siapa-siapa dan tak punya satupun tempat untuknya berlindung dari orang-orang jahat yang mengincarnya, bahkan sang kakak yang merupakan satu-satunya keluarga yang dia miliki pun kini sedikit di ragukan ketulusannya karena informasi tentang Baron yang merupakan bos besar dan menginginkan kematiannya cukup mengganggunya meski hatinya sangat ingin menyangkalnya dan berusaha untuk tak percaya dengan apa yang tadi Haris ceritakan.
__ADS_1
"Oke, aku minta maaf." Ghea mengalah.
"Apa kau tinggal sendiri disini?" tanya Ghea lagi ketika merasakan rumah itu sangat sepi seperti tak ada pnghuninya, bahkan beberapa perabotan sudah di tutupi debu tipis akibat sang empunya sering meninggalkan rumahnya.
"Hmm, aku tinggal sendiri, tenang saja, tak akan ada yang datang kesini, tak banyak orang tau tentang rumah ku!" terang Biru.
"Pacar mu? Apa dia tak akan marah jika tau ada aku di sini?" Ghea teringat dengan ucapan Yola waktu itu di markas yang mengatakan kalau dirinya adalah kekasih Biru.
"Aku tak punya kekasih!" ketusnya dingin.
"Lantas wanita itu, yang waku itu menampar ku?" tanya Ghea kembali merasa kesal karena saat itu Yola sempat menamparnya dengan keras hanya karena dia membentak Biru.
"Oo" Ghea hanya ber O ria tak menanggapi lebih jauh, tak penting juga baginya mengetahui kehidupan pribadi pria itu.
Hanya saja,berbicara tentang kekasih, dia tiba-tiba teringat tentang Angga sang kekasih, di saat-saat seperti ini sungguh dia sangat memerlukan sosok kekasihnya itu bersamanya, mendukungnya dan membantunya menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi dalam hidupnya, namun nyatanya malah Biru, si pria asing yang entah dari mana datangnya tiba-tiba berniat menjadi eksekutor yang akan menghabisi nyawanya atas perintah seseorang yang belum dia tahu siapa, namun tiba-tiba juga kini menjadi penyelamatnya.
__ADS_1
"Apa aku boleh meminjam ponsel mu? Aku harus menghubungi kekasih ku, agar aku tak merepotkan mu, biar aku tinggal bersama kekasih ku saja." ujarnya.
Mendengar keinginan Ghea yang berniat tinggal bersama kekasihnya, entah mengapa hati Biru seakan tak bisa membiarkan itu terjadi, berat rasanya mengakhiri kebersamaannya dengan wanita pujaannya itu, lagipula saat ini Biru tak percaya pada siapapun, setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri Baron begitu akrab dengan Haris, semua kemungkinan bisa saja terjadi, dan siapa saja patut di curigai dalam hal ini sebelum semuanya terlihat jelas.
"Sorry, aku tak bisa meminjamkan ponsel ku, karena nomor ku rahasia dan tak boleh ada yang tau, lagi pula, apa kau yakin kekasih mu berada di pihak mu? seperti kau sangat yakin sebelumnya kalau kakak mu sebaik itu dan tak akan menyakiti mu, namun kenyataannya?"
"Itu semua belum pasti, belum ada bukti yang kuat kalau kakak ku berada di balik semua ini, aku percaya dia, dalam tubuh kami mengalir darah yang sama!" sentak Ghea merasa tak terima denga tuduhan Biru terhadap kakak laki-lakinya.
"Dan untuk masalah Angga, tentu saja aku juga yakin, kami berpacaran bukan hanya sehari dua hari atau hanya dalam hitungan minggu, tapi kami sudah bersama hampir dua tahun lamanya., jangan menuduhnya sembarangan!" lanjutnya.
"Terserahlah, aku hanya mengingatkan mu saja, kalau kau tak terima, ya terserah! Aku akan mengantar mu ke tempat kekasihmu secara langsung," Biru mengangkat kedua bahunya
seolah tak peduli.
"Apa para penjahat seperti kalian memang selalu overtinking, dan paranoid seperti ini dengan orang lain? Tak semua orang jahat seperti kalian!" oceh Ghea yang masih kesal dengan ucapan Biru yang menuduh dan mencurigai kakak juga kekasihnyameski tanpa bukti yang kuat.
__ADS_1
"Apa semua orang baik dan suci seperti mu, tak pernah mau mengakui kalau penjahat seperti ku inilah yang kini menampung dan menyelamatkan mu, atau kau memang ingin melihat sisi jahat ku yang sebenarnya?" Mata Biru menatap tajam menembus ke netra Ghea yang tampak sedikit ketakutan dan merasa menyesal dengan ucapannya, dia memang selalu tak bisa menahan diri untuk mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya, meski pada akhirnya dia pun menyadari kalau perkataannya terkadang menyakiti atau menyinggung lawan bicaranya.
Sementara sesabar-sabarnya Biru, saat terus di serang dengan kata-kata tak mengenakan dari Ghea, emosinya terpancing juga, membuatnya geram dan tersinggung dengan apa yang diucapkan Ghea padanya.