BIRU

BIRU
Karpet lusuh


__ADS_3

Mobil Biru terus menembus gelapnya malam, membelah jalanan yang sepi tanpa tujuan yang pasti, kini mereka sudah sangat jauh mereka dari hingar bingar ibukota.


Biru menghentikan laju mobilnya di depan sebuah bangunan tua saat mereka berada di kawasan sebuah hutan di daerah Jawa Tengah,


Bangunan bekas kantor perhutani ini pernah di jadikan biru tempat menginap saat dia membuang salah satu mayat buruannya ke jurang di dalam hutan yang berada di sekitar sana.


Pria itu rasa tempat itu akan cocok jika di jadikan tempat peristirahatan sementara untuk mereka, selain jauh dari pemukiman warga, akses untuk ke keramaian pun sangatlah jauh, jadi kemungkinan untuk kaburnya Ghea akan sangat minim.


"Dimana ini?" tanya Ghea yang mengerjapkan matanya berulang-ulang menyesuaikan pandangannya dengan cahaya lampu mobil yang temaram, sepanjang perjalanan wanita itu tertidur demi menahan rasa laparnya.


"Kita akan beristirahat dulu disini sampai besok pagi, aku lelah." jawab Biru sekenanya.


"Apa aku akan di habisi disini, dan mayatku akan di buang di hutan ini?" tanya Ghea yang memutarkan pandangannya ke setiap sudut tempat yang minim pencahayaan itu, hampir tak ada nyala lampu disana selain sorot lampu mobil Biru.


"Apa kau sangat ingin mati?" seloroh Biru seakan tak peduli dengan apa yang di pikirkan oleh wanita yang tampak ketakutan saat Biru mengajaknya turun dari mobil.


Ghea tak menjawab pertanyaan konyol Biru yang membuatnya merasa sangat kesal dengan sikap dingin Biru yang selalu mengatakan perihal pembunuhan dan kematian dengan begitu entengnya, apa dia tak tau kalau saat ini Ghea sedang di cekam easa ketakutan yang teramat sangat, seolah-olah nyawanya kini sudah berada di tenghorokan saja.


"Ayo cepat, kenapa kau lambat sekali, kalau begini caranya aku akan benar-benar membunuh mu!" kesal Biru saat mendapati Ghea yang masih saja terdiam di dalam kursi mobilnya.

__ADS_1


"Akh, sial!" Biru menepuk keningnya dan bergumam sendiri merutuki kebodohannya, dia baru menyadari kalau kedua tangan Ghea masih terikat dengan eratnya sehingga mana mungkin gadis itu bisa keluar dan membuka pintu mobilnya, jika tangannya saja tak bisa di gunakan.


Biru kembali berjalan mendekat ke arah mobilnya, kini dia tepat berada di sisi kiri Ghea setelah dia membukakan pintu mobil untuk gadis yang sesekali tetap menjadi pusat perhatiannya meskipun diam-diam.


Sungguh saat ini Biru berada dalam dilema yang luar biasa membuat dirinya serba salah saat hendak bertindak, kata hatinya mengatakan kalau dia tak bisa membunuh wanita yang telah menjadi bagian dari hatinya selama bertahun-tahun meski wanita itu sendiri tak oernah mengetahuinya, dan sialnya Ghea juga tak mengenalinya kini.


Sementara di sisi lain dia juga harus memenuhi tugas yang di berikan Haris padanya, dimana dia harus menghabisi Ghea, karena kalau tidak, Ghea bisa saja kabur dan melaporkan dirinya dan juga team nya kepada pihak yang berwajib, dan akibat keputusannya yang tak membunuh Ghea, bisa saja malah akan menjadi kematian bagi dirinya dan juga rekan-rekannya.


"Te-tempat apa ini, gelap sekali?" Ghea merapatkan tubuhnya ke tubuh kekar Biru karena merasa ketakutan memasuki ruangan yang sangat sangat gelap itu, satu-satunya sumber penerangan hanya berasal dari cahaya ponsel Biru yang memimpin jalan mereka di depan, Biru yang sudah pernah berada di tempat itu selama 3 hari lamanya merasa sudah sangat akrab dengan lekuk dan ruang bangunan tua itu.


"Ini satu-satunya bangunan yang bisa kita gunakan untuk beristirahat, tidak akan ada lagi rumah atau bangunan lain beberapa puluh kilo meter ke depan," jawab Biru dengan santainya menjelaskan.


"Ish, apa bisa istirahan di tempat seperti ini, bau dan kotor, mengapa kita tidak beristirahat diobil saja?" keluh Ghea.


"Cih, siapa suruh mengemudi jauh-jauh sampai ke sini, sebenarnya kita mau kemana, kenapa hanya untuk membunuh ku saja harus pergi sejauh ini?" rengek Ghea, langkahnya ikut terhenti saat Biru menghentikan langkah kakinya karena kini mereka berada di sebuah atap terbuka di lantai atas gedung tua itu, karpet lusuh yang pernah di jadikannya alas untuk tempatnya tidur bahkan masih utuh tergulung di pojok baangunan itu.


Cahaya bulan purnama membuat suasana di lantai atas bangunan yang terbuka itu menjadi terang meski tanpa penerangan apa pun.


"Duduklah, kau juga pasti lelah!" titah Biru setelah dia menggelar karpet lusuh berwarna biru yang warnanya bahkan hampir pudar itu.

__ADS_1


Namun Ghea bergeming, sepertinya dia tak mau tubuhnya bersentuhan dengan karpet lusuh itu, dia merasa jijik, lain dengan Biru yang sejak kecil terbiasa tidur di emperan toko, bahkan di jalanan tanpa alas apa pun.


Terang saja Ghea akan merasa jijik dengan alas yang terlihat lusuh itu, sementara dia biasa di besarkan di rumah yang bagai istana dimana semuanya serba mewah dan higienis, pastilah dia akan menolak melakukan hal itu.


"Aku berdiri saja!" tolaknya.


"Ckk, terbiasa makan dengan sendok emas, sekalinya di ajak ngegembel emang susah ya, maaf, disini tak ada hotel berbintang, hanya ada bangunan tua yang memudahkan kita untuk menatap bintang," decak Biru sambil matanya menatap jauh ke langit yang cerah dengan taburan bintang mempercantik kehadiran bulan purnama di malam itu.


"Aku ingin ke toilet, aku tak tahan sedari tadi pengen pipis!" Ghea mengalihkan pembicaraannya pada hal lain.


Ghea memang ingin pipis, sejak saat dalam perjalanan dia menahan itu, namun keinginan untuk kabur pun sama besarnya, Ghea akan melakukan apapun agar dia bisa terlepas dari Biru yang setiap saat bisa saja membunuhnya, Ghea masih ingin hidup, berkumpul dengan keluarganya, dan menikah dengan Angga, kekasih yang sangat di cintainya.


"Menyusahkan sekali, di bawah tangga ada toilet, kau bisa menggunakannya, airnya jugaa masih menyala bagus, itu air dari pegunungan belakang, apa perlu aku antar?" terang Biru serayq menawarkan diri untuk mengantar Ghea barangkali dia merasa ketakutan tutun sendirian.


"Tidak,,,tidak usah, aku hanya minta tolong bukakan saja ikatan di tangan ku, karena aku tak bisa membersihakan diri jika kedua yangan ku terikat seperti ini.


"Aku bisa membantu membersihkannya!" tawa Biru terurai saat dirinya melepaskan ikatan di kedua tangan Ghea.


"Ish, dasar mesum, mana boleh seperti itu!" ketus Ghea kesal.

__ADS_1


Sementara Ghea langsung tertawa dalam hatinya, akhirnya kesempatan untuknya kabur datang juga setelah Biru melepaskan ikatan di kedua tangannya dan mengizinkan dirinya untuk pergibke toilet sendiri.


Alih-alih pipis, Ghea malah melarikan diri dan terus berjalan menjauh dari banguanan tua yang menjadi tempat Biru dan dirinya beristirahat itu.


__ADS_2