BIRU

BIRU
Discovery channel


__ADS_3

Tanpa terasa matahari pagi sudah mulai menyapa di tepi hutan itu, meski terkesan malu-malu, namun sinarnya lumayan membuat Ghea dan Biru yang kini berada dilantai atas sebuah bangunan tua tanpa atap itu merasakan kesilauan, semalaman mereka tak bisa memejamkan mata barang sebentarpun, padahal tak banyak juga yang mereka bicarakan semalam, kalau Biru sedang bingung memikirkan bagaimana cara mengembalikan Ghea agar bisa aman, lain halnya dengan Ghea yang tak terbiasa tidur di tempat yang kotor, terbiasa hidup enak dan mewah membuat Ghea sangat susah untuk menyesuaikan diri dengan keadaan saat ini.


"Bagaimana, apa kau sudah siap untuk pulang?" tanya Biru.


"Ha? Bukankah kata mu tidak bisa pulang dalam waktu dekat karena kemungkinan untuk tertangkap akan sangat besar?" protes Ghea yang masih ingat kata-kata Biru semalam saat mengatakan mereka tak bisa pulang dalam waktu dekat, kenapa tiba-tiba sekarang berubah pikiran lagi.


"Tak apa, semakin cepat selesai bukankah lebih baik?" ujar Biru cuek.


"Aku terserah padamu saja, jika kau memang sudah sangat ingin mati di bunuh teman-teman mu aku sih ayo aja!" celetuk Ghea cuek.


"Kalu sudah saatnya mati, mau nanti atau sekarang, bukankah kita tak bisa bersembunyi dari yang namanya maut?" ucap Biru dengan santainya.


Dimana orang biasanya akan merasa ngeri atau sedih saat membicarakan tentang kematian, justru bagi Biru semudah menceritakan kisah si kancil.


"Baiklah kalau kau memaksa, ayo pulang, antar aku ke rumah kakak ku saja." tawar Ghea.


Namun tiba tiba ponsel Biru berdering nama Haris terpampang di layar pipih itu. Biru menempelkan jari telunjuknya ke mulut memberi isyarat agar Ghea tak bersuara saat dirinya menerima panggilan dari Haris.


📱: Iya bos, bagaimana?


Oke, siap laksanakan, dua puluh menit lagi akan ku kirim bukti foto mayatnya.


Biru melirik ke arah Ghea yang ikut mendengarkan percakapan Biru dengan bosnya lewat loadspeaker yang sengaja dinyalakan Biru saat berbicara dengan Haris, agar Ghea mendengarnya dan tak ada yang dirahasiakan di antara mereka.

__ADS_1


"Apa kau benar-benar akan membunuh ku?" cicit Ghea ketakutan.


"Bukankah kita sudah sepakat kalau aku akan mengantar mu pulang?" kata Biru dingin.


"Lantas bos mu?" tanya Ghea lagi.


"Laki-laki itu yang di pegang janjinya, bukan begitu? Jadi aku tak mungkin ingar janji!"


"Ikut aku!" ajak Biru.


Ghea mengekor patuh tanpa protes, tiba-tiba saja dia yakin dan percaya dengan semua yang diucapkan Biru padanya.


Mereka berjalan ke arah hutan dan terus berjalan semakin ke dalam hutan, suasana cerah pagi hari tak terasa saat mereka berada di kedalaman hutan belantara itu, sinar matahari tertutup oleh daun dan dahan pohon yang tinggi menjulang, hanya ada sedikit cahaya yang masuk lewat celah-celah dedaunan yang kadang bergoyang tertiup angin.


"Memang disini selalu seperti ini, tenanglah tak akan ada hantu tanpa kepala di siang hari, paling hanya harimau atau hewan buas lainnya yang kebetulan lewat!" ucap Biru datar.


Ghea semakin ketakutan, kini bahkan dia mengamit lengan kekar Biru dengan eratnya sabil pandangannya terus mengedar ke sekeliling hutan, takut jika tiba-tiba hewan yang tadi Biru absen itu benar-benar menampakan wujudnya.


"Sebenarnya kita mau ke--- Aaaah!" belum selesai kalimat pertanyaannya pada Biru, tiba-tiba Ghea menjerit karena seekor ular kobra seukuran lengannya melintas dan bahkan berhenti di hadapan mereka, ular itu tampak berdiri setengah badan menunjukkan sikap waspadanya, siap mematuk dan menyemburkan bisanya yang mematikan.


Biru mengangkat tangannya ke udara, seraya memeririntahkan Ghea untuk diam dan tetap tenang.


"i-itu ular mematikan yang sering aku lihat di Discovery Channel Animal, apa kita akan mati disini?" cicitnya terbata-bata.

__ADS_1


"Ya, jika kau tetap berisik dan tak mau di ajak bekerja sama, diamlah!" titah Biru dengan penuh penekanan.


Dengan sikap yang tenang, tangan Biru mulai mendekati kepala kobra yang hampir tak dapat membaca pergerakannya itu, lantas secepat kilat dia menangkap kepala ular yang langsung dapat dia taklukan, hanya dengan sekali gerakan saja kepala ular sudah berpindah ke dalam genggaman tangan Biru.


Ghea yang menyaksikan itu semua rasanya dia menahan napasnya untuk beberapa saat, sungguh dia takut jika tiba-tiba ular itu mematuk Biru dan dirinya harus sendirian di dalam hutan itu.


"Huaaaaa,,,,,,,!" bukannya senang, namun Ghea malah menangis kencang, membuat Biru merasa kebingungan, hewan apa lagi yang wanita itu lihat sekarang.


"Apa lagi? Ularnya sudah aku tangkap!" Biru mengacungkan tubuh ular kobra yang masih meliuk-liuk mencoba membebaskan diri dari cengkeraman tangan Biru.


"Aku pikir kamu akan mati di patuk ular itu!" ucapnya yang terdengar agak tidak jelas karena dibarengi suara tangisnya.


"Maksudmu, kau merasa kecewa karena aku tak mati di patuk ular ini?" Bitu terbelalak tak percaya.


"Bu-bukan begitu maksudku, aku itu membayangkan kalau kamu mati di patuk ular dan aku harus sendirian di hutan ini," urainya.


"Lantas kenapa mesti menangis? Bukankah semua itu tidak terjadi? Diamlah, apa kau tak tau kalau suara tangisan akan mengundang datangnya harimau?" kata Biru menakut-nakuti.


Dan itu sangat berhasil, karena Ghea langsung diam seketika.


"Kenapa ularnya masih kau bawa saja? Aku takut!" Ghea ingin berpegangan pada lengan Biru seperti tadi, namun tangan priaitu yang kini masih menggenggam ular membiuatnya menjaga jarak dengan pria itu.


"Berterimakasih dan berbaik-baiklah dengan nya, karena ular ini yang akan menggantikan nyawa mu," ucap Biru penuh misteri.

__ADS_1


__ADS_2