
Lewat tengah malam Biru baru pulang ke rumahnya, Haris dan Yola sebenarnya memaksa dan memintanya untuk menginap di markas, namun mengingat Ghea yang mungkin saja akan ketakutan karena di tinggal seharian, membuatnya bersikeras untuk tetap pulang dengan berbagai alasan yang dia kemukakan pada Haris dan Yola.
Setelah tadi dirinya dan Yola membuat motor Angga terjungkal di jalanan dan meninggalkannya begitu saja ketika memastikan kalau pria muda malang itu masih hidup, tak seperti biasanya, perasaan Biru terasa kacau, biasanya dia tak pernah melibatkan perasaan dalam menjalankan misi, meskipun tak merasa lega atau bahagia, dia juga tak pernah merasa kasihan atau galau setelah menjalankan misinya seperti sekarang ini.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya dia terus saja memikirkan bagaimana jika sampai Ghea tahu kalau dirinya baru saja mencelakai kekasihnya atas perintah kakak laki-lakinya.
Oh, sungguh ini sungguh membuatnya sangat tertekan, meskipun tak sepatutnya dia merasakan semua hal itu karena dalam hal ini dia hanya menjalankan tugas saja, hanya itu, tidak lebih!
"Kau pulang larut sekali, apa kau sudah makan? Aku memasak sesuatu untuk mu," sambut Ghea saat Biru baru saja melangkahkan kakinya ke dalam rumah.
"Ah iya, maaf aku tak sempat mengabari mu, ada pekerjaan mendadak yang harus aku selesaikan malam ini," jawab Biru meski terdengar agak kikuk saat memberikan alasan yang padahal itu merupakan alasan yang sebenarnya tidak di buat-buat.
"Apa kau membunuh seseorang lagi, hari ini?" tanya Ghea dengan polosnya.
"Tidak, emhh,,, tepatnya,tidak sampai mati." Biru mencoba menjawab pertanyaan Ghea yang terdengar konyol itu dengan sebiasa mungkin.
"Kau gagal dalam menjalankan tugas mu?" cicit Ghea seolah mulai membiasakan diri dengan pekerjaan yang di lakukan Biru.
"Tidak.Klien hanya ingin membuat target celaka, bukan di habisi." terang Biru santai.
Rasanya aneh bagi Biru, pulang ke rumah, ada seseorang yang menyambutnya dan bertanya tentang pekerjaannya yang tak biasa itu dengan nada se datar itu, kekagetan Biru tak hanya sampai di sana saja, karena saat memasuki ruang makan, beberapa hidangan makanan sudah tersaji di meja, membuatnya merasa merinding dan tersanjung, karena dalam bayangannya saat ini dia seperti seorang suami yang di sambut istrinya saat pulang kerja.
"Kau yang memasak semua ini?" tanya Biru hampir tak percaya, pikirnya gadis manja dan dari keluarga berada seperti Ghearasanya mustahil untuk berkutat di dapur bersama wajan dan panci.
"Iya lah, aku memasak bahan-bahan makanan yang ada di lemari es mu, sebagian sudah aku buang karena sudah busuk dan kadaluarsa, sepertinya kau jarang mengeceknya." oceh Ghea.
__ADS_1
"Hmm, ternyata kau pintar memasak juga, tak sia-sia aku bawa kau ke rumah ini, ternyata berguna juga!" seloroh Biru dengan tawa jahilnya.
"Ishhh,, gini-gini aku jago masak tau, tapi besok aku gak bisa masak lagi, karena sudah tak ada bahan makanan yang bisa aku masak di kulkas mu,"
"Besok kita belanja di pasar dekat rumah," jawab Biru dengan mulut yang penuh dengan makanan, sungguh tak sedang mengada-ada, makanan yang di masak Ghea sangat enak dan cocok di lidahnya.
"Karena kau sudah memasakan makanan enak buat ku, kau ku beri hadiah,"
Biru memberikan beberapa kantung plastik dan papper bag yang dia ambil dari bagasi mobilnya ke hadapan Ghea.
"Apa ini?" cicit Ghea sambil membuka satu persatu bungkusan itu, antara lain berisi pakaian, rambut palsu, dan alat-alat kebutuhan wanita seperti pembalut pun lengkap dia belikan.
"Kau sakit jiwa, apa kau yang membeli dan memilih semua ini?" Ghea membelalak, tak percaya bagaimana bisa pria se dingin dan se cuek Biru bisa begitu detail membelikan semua kebutuhannya.
"Apa lagi?" tanya Biru dengan wajah seolah tanpa dosa.
"Jelaskan yang ini, kenapa kau tau ukuran dada ku?" ucap Ghea mengangkat b ra yang baru saja di belikan Biru dan ukurannya sangat tepat dengan ukuran dadanya.
"Apa kau pernah mengintipnya? Dasar mesum!" Ghea menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Tentu saja aku tau, dada mu rata, aku hanya bilang pada penjaga tokonya kalau ukuran dada mu paling tak lebih besar dari segenggaman tangan ku," ejek Biru seraya mengangkat telapak tangan kirinya dan memperagakannya di hadapan Ghea.
"Sialan, berengsek kau, dasar pria mesum,!" sewot Ghea yang lalu langsung lari membawa semua barang-barang yang baru saja di belikan Biru untuknya itu, sementara Biru hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja sambil berdecak geli.
Entahlah, kehadiran Ghea sungguh memberi warna baru dan keunikan tersendiri, seperti tadi yang dengan kesadaran penuh tanpa rasa malu sedikit pun dia membelikan semua perlengkapan yang di butuhkan oleh Ghea, meski para pelayan di toko baju tadi berbisik-bisik menertawakan bahkanmenggunjingkan dirinya saat dirinya memilih dan membeli pakaian dalam wanita untuk Ghea, dia hanya bersikap cuek dan santai saja.
__ADS_1
Dia juga tak ragu untuk mencari tahu di internet tentang apa saja yang di butuhkan wanita, lantas dia membeli semuanya,setelahnya ada rasa kepuasan tersendiri karena akhirnya dia bisa membelikan barang-barang itu untuk wanita yang masih saja betah bertahta dalam hatinya meski sekian tahun telah berlalu.
**
"Sepertinya team ku akan mulai bekerja pada kakak mu." Kata Biru mulai membuka pembicaraannya pagi itu sepulang mereka dari pasar membeli berbagai bahan makanan untuk stok, sementara Ghea asik memilah dan memasuk-masukan belanjaannya ke dalam kulkas, sesekali Biru membantunya, sungguh mereka bagai sepasang suami istri muda yang sedang melakukan pekerjaan rumah dengan kerja sama yang begitu harmonis.
"Maksudnya? Kakak mu menyewa kalian untuk menghabisi seseorang lagi? Siapa lagi setelah aku yang ingin dia habisi?" nada bicara getir Ghea di akhiri dengan semyum sumirnya.
Ghea tak tahu harus menanggapinya dengan cara apa, untuk menerima kalau kakaknya ingin berusaha menyingkirkan dirinya saja sudah sangat sulit dia lakukan, apalagi harus menerima kenyataan lain jika kakak tercintanya yang dia kenal sangat baik, perhatian dan penyayang itu ternyata menyewa jasa Biru dan kawan-kawannya lagi, tentu saja untuk mengerjakan hal buruk, bukan? Biru dan kawan-kawannya hanya melakukan pekerjaan seputar mempermainkan nyawa seseorang, antara di habisi atau di celakai, lantas nyawa siapa lagi yang ingin Baron tumbalkan, dan untuk apa?
Ah, rasanya panas sekali kepala dan dada Ghea memikirkan semua itu, belum saja dia menemukan jawaban dan alasan mengapa dirinya di perlakukan begitu kejam oleh kakaknya kini malah mendapat kabar yang menuntutnya harus berpikir lebih keras lagi.
"Sepertinya kakak mu ingin bermain curang dalam pencalonannya, dia melakukan segala cara untuk mendapatkan kedudukan itu, termasuk memakai jalan kekerasan yang mungkin di tugaskan pada ku dan kawan-kawan." terang Biru.
"Cih, rupanya demi jabatan. Tapi mengapa aku juga dia singkirkan? Toh aku tak pernah menghalang-halanginya dalam mendapatkan jabatan yang di inginkannya itu." Ghea menutup pintu lemari es itu dengan setengah emosi.
"Ya mana ku tau, bukankah itu semua yang akan kita cari tahu bersama? Maaf kalau apa yang aku sampaikan mengganggu pikiran mu dan kau menjadi emosi dibuatnya." lirih Biru, sepertinya dia menangkap kalau Ghea mulai tak merasa nyaman dengan obrolan mereka pagi ini.
"Tak apa, bukan salah mu, ini semua tak ada hubungan dengan mu seharusnya, karena dalam hal ini kau hanya menjalankan ppekerjaan mu, justru aku yang harusnya meminta maaf pada mu, karena aku membawa mu dalam masalah ku dan menjadi beban buat mu," ucapan Ghea mulai melemah.
"Sudah lah, tak usah melow-melow di pagi hari, lupakan saja, lagi pula aku tak pernah merasa kau sebagai beban, selama kau mau mau masak dan beres-beres di rumah ku ini," seloroh Biru yang langsung mendapat lemparan serbet dari Ghea yang sedang membersihkan meja makan saat itu.
"Sialan, kau anggap aku pembantu mu?" sembur Ghea yang hanya di tanggap tawa dingin saja oleh Biru si manusia kulkas itu.
Sungguh kini rumah itu terasa hangat dan layak di sebut sebagai hunian manusia, hanya karena kehadiran Ghea di sana, suasana menjadi 100 persen berbeda, kali ini Biru harus mengakui kalau Tuhan telah terlalu baik padanya.
__ADS_1