
Biru mengunci rapat bibirnya, dia tak ingin mengatakan sepatah kata pun tentang jati dirinya, harga dirinya seakan sedikit terluka karena wanita yang selalu menari-nari di kepalanya dan mengganggu setiap aktifitasnya itu benar-benar tak mengenalinya, seolah dirinya tak pernah hadir dalam memori gadis cantik yang dulu pernah menolongnya saat dirinya di buli saat masa sekolah itu.
"Apa ini? Kenapa aku harus menanda tangani surat penyerahan kuasa atas yayasan peninggalan ayah ku, dan siapa yang menyuruh mu?" teriak Ghea membelalak saat membaca beberapa lembar kertas berisi surat penyerahan kuasa yayasan milik ayahnya yang di berikan padanya, terlebih di kolom pada siapa dia harus memberikan kuasa juga di kosongkan, membuat Ghea seolah bertanya-tanya siapa yang tega melakukan ini semua padanya.
Sementara pria asing yang kini berada di hadapannya sama sekali dia tak mengenalnya, mungkin karena dandanan Biru kini sudah berubah dari masa sekolah dulu, lagi pula itu sudah beberapa tahun berlalu, Ghea juga bukan tipe orang yang hafal dengan teman-teman yang bukan satu circlenya yang dari kalangan atas.
"Hey, aku berbicara pada mu, sialan, apa kau bisu, huh?" bentak Ghea karena Biru tak juga mau membuka mulutnya.
Plakkk !
Tanpa ada yang menyadari, Yola yang ternyata sudah kembali berada di ruangan itu melayangkan tamparannya hingga tubuh Ghea terhempaske belakang, dengan pipi yang kini terasa panas dan berdenyut, bahkan pipi gadis itu pun terlihat memerah dengan sedikit bengkak dan robekan kecil di sudut bibir kirinya yang mengeluarkan setitik darah di sana.
"Auwh,,,shhhh!" ringis Ghea sambil memegangi pipi kirinya yang kini terasa perih, sudut bibirnya pun terasa asin akibat robekan kecil pada sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
Hampir saja Biru refleks hendak menolong dan memeluk Ghea andai suara nyaring Yola tak menyadarkannya untuk tetap seolah tak mengenal Ghea.
__ADS_1
"Berani sekali kau membentak-bentak kekasih ku, apa kau sudah sangat ingin mati, huh?" kini giliran rambut Ghea yang di jambak Yola hingga kepala Ghea menengadah ke atas akibat tarikan di rambutnya yang begitu kencang.
Nyesss,,, hati Biru trasa mencelos melihat Ghea di perlakukan dengan begitu kejamnya di hadapan wajahnya langsung, segera saja Biru memalingkan wajahnya jauh dari pemandangan kekerasan yang kini sedang di alami Ghea, sungguh hatinya tak sekuat dan setega itu meskipun Ghea tadi telah semakin melukai harga dirinya dengan makian yang di tujukan padanya.
Kini Ghea tak berkutik setelah Yola turut hadir kembali di ruangan itu dan melakukan tindak kekerasan pada dirinya, Ghea sadar kalau Yola bukan lawan yang seimbang untuk dirinya yang sama sekali tak punya basic bela diri.
"Kenapa kau diam saja dan membiarkan betina sialan ini memaki mu!?" kini Yola berbalik menatap Biru dengan tatapan galaknya.
"Bukankah kau tau kalau aku tak melawan perempuan!" elak Biru beralasan.
"Tapi bukan berarti kau diam saja saat di maki dan di hina seperti tadi, "
"Terserah lah, pastikan semua sudah beres saat si bos dan klien kita kembali." Yola melengos lantas berlalu pergi dari kamar itu.
"Cepat tanda tangani, jangan mempersulit keadaan ku dan keadaan mu sendiri," Titah Biru, dengan nada dingin dan datarnya.
__ADS_1
Sreekkkk,,,,Sreeek,,,,
Tanpa di duga Ghea justru malah merobek kertas yang seharusnya dia tanda tangani itu, lalu menghamburkannya ke udara.
"Aku tak sudi, dan tak akan pernah sudi menyerahkan yayasan itu kepada siapapun dan apapun alasannya!" kata-kata Ghea terdengar tegas dan penuh penekanan.
"Bagaimana--" Haris yang baru saja kembali dan hendak mengambil kertas yang tadi dia berikan pada Biru untuk di tandatangani Ghea itu ternganga tak percaya saat melihat kertas-kertas yang seharusnya di tanda tangani sanderanya, kini justru sudah menjadi serpihan serpihan kecilyang berserakan di lantai kamar itu.
"Apa yang terjadi, kenapa semuanya kacau begini?" geram Haris memunguti serpihan-serpihan surat pernytaan pemberian kuasa itu satu persatu dan meremasnya kesal, dengan matanya yang memerah menahan marahnya, Haris mengambil tali dari laci lemari kamar itu lalu mengikat kedua tangan gadis itu dengan eratnya.
"Aduh, ini sakit, tolong lepaskan!" rintih Ghea kesakitan.
"Kau harus di hukum atas kenakalan mu, aku akan--" baru saja Haris mendekatkan wajahnya hendak menciumi Ghea, tiba-tiba saja Anggoro menerobos masuk ke dalam kamar dimana Ghea di sekap dan akan di rudapaksa oleh Haris.
Biru yang sejak tadi menahan nafas dan terus berdoa pada Tuhan agar ada keajaiban terjadi demi menjauhkan Ghea dari bahaya, ternyata permintaannya di kabulkan Tuhan, Anggoro masuk dengan wajah yang sudah pucat pasi.
__ADS_1
"Sial, polisi kini sedang mencarinya atas laporan penculikan dari kakak laki-lakinya, cepat bawa pergi jauh dia dari sini lalu habisi dia di tempat itu, jangan sampai ada yang menemukan mayatnya, kalau tidak, habislah kita, kita akan di penjara dalam waktu yang cukup lama karena penculikan dan penganiyayaan!" ucap Anggoro dengan nafas tersenggal-senggal karena dia setengah berlari menghampiri Haris cs di kamar itu.
"Tuan? bukankah anda tuan Anggoro yang tempo hari datang ke kantor menawarkan kerja sama?" kening Ghea mengernyit.