BIRU

BIRU
Ciuman pertama


__ADS_3

"Ish, sepertinya aku harus ke klinik untuk mendapatkan suntik rabies!" kesal Biru.


"Kau pikir aku seekor anjing ?!" teriak Ghea tak terima.


Biru kembali menyalakan mesin mobilnya, hatinya terasa sangat kesal dengan sikap barbar Ghea, betapa niat baiknya malah di balas dengan gigitan yang di terimanya.


Sepanjang perjalanan Biru pun tak mengeluarkan sepatah kata pun, dia hanya asik dan serius menyetir, membelah jalanan, sampai terdengar,


Kriuuuukkkkk,,,,,


Suara yang sepertinya berasal dari perut Ghea yang terasa lapar, Biru melirik jam yang melingkar di tangannya, pantas saja sekarang sudah hampir pukul 5 sore, berkendara dari gelap sampai kini hampir gelap lagi, tapi entah mengapa rasanya tak terasa membosankan, meskipun tak ada interaksi di antara mereka.


Hanya dengan bersebelahan dengan Ghea saja dirinya merasa sangat senang, hingga melewati haru tanpa terasa.


"Apa kau lapar?" tanya Biru melihat di depan ada pom bensin dan rumah makan cepat saji, dia berniat mengisi bahan bakar sekaligus membeli makanan lewat layanan drive thru, sehingga dia tak perlu repot-repot turun dari kendaraannya, akan sangat beresiko juga kalau sampai Ghea yang kini menjadi tawanannya itu kabur.


"Tidak!" ketus gadis itu mengelak meski suara cacing dalam perutnya terus saja berbunyi meminta di isi.

__ADS_1


"Baiklah, aku pikir kau lapar. Padahal aku mau membeli makanan cepat saji di sana," tunjuk Biru ke arah rumah makan berlogo ayam yang sangat terkenal itu.


Namun Ghea tetap bergeming, dia tak tergoda sedikit pun.


Saat Biru menghentikan kendaraannya di pom bensin dan membuka serengah jendela kaca mobilnya untuk meminta di isikan bahan bakar dan menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan, Ghea merasa kalau itu adalah peluang baginya untuk meminta pertolongan, apalagi di tempat itu pasti akan banyak orang yang berlalu lalang, namun gelagat aneh Ghea cukup terbaca oleh Biru yang buru-buru menutup rapat kembali jendela mobilnya.


"Jangan macam-macam dan bertindak bodoh, atau kau akan mendapatkan akibatnya," ancam Biru dengan wajah yang di pasang se serius mungkin.


Ghea hanya mengerucutkan bibirnya, karena rencananya harus gagal, apalagi mobil kini sudah melaju kembali, saat hendak memesan makanan di layanan drive thru, Ghea merasa kalau itu kesempatan yang sangat baik bagi dirinya, sehingga dengan percaya dirinya saat Biru sedang memesan beberapa makanan lewat jendela mobilnya, Ghea langsung mendekat ke arah Biru dan hendak berteriak pada wanita yang tengah melayani pesanan Biru saat itu.


Baru saja Ghea membuka mulutnya hendak berteriak meminta pertolongan pada pelayan di balik kaca, dengan sigap Biru justru membekap mulut Ghea yang tepat berada di depan wajahnya itu dengan mulutnya, membuat Ghea terbelalak kaget dengan apa yang di lakukan Biru padanya, namun Ghea tak dapat berbuat apa-apa karena sebelah tangan Biru kini menahan tengkuknya sehingga ciuman mereka semakin dalam.


"Mas, pesanannya!"


Ciuman mereka terurai saat pelayan tadi memberikan beberapa kanting makanan yang di pesan Biru tadi.


Ghea kembali ke kursinya, tindakan Biru tadi membuat dirinya sedikit syok, namun juga merasakan perasaan yang berbeda dalam dirinya, ciuman itu sangat lembut Biru lakukan membuat Ghea sedikit bingung, alih-alih menolak dan berusaha melepaskan, dia justru seakan menikmati sentuhan di bibirnya itu.

__ADS_1


Rasa-rasanya ciuman itu ciuman terlembut yang oernah di rasakannya di seunur hidupnya, bahkan ciuman Angga sang kekasih pun tak pernah membuat jantungnya berdetak sekencang seperti sekarang ini.


'Ini gila, mengapa aku malah menikmati dan rasanya tak ingin lepas dari tautan bibirnya, oh shiiiit, Ghea tolong pakai otak mu, jangan jadi bego di saat-saat seperti ini!' runtuk Ghea dalam hatinya memaki dirinya sendiri.


"Makanlah, aku tau kau lapar!" ucap Biru agak terkesan kikuk setelah ciuman yang terjadi di antara mereka.


"Buat apa makan, kalau ujung-ujung sama saja, mati dibunuh," ketus Ghea.


"Siapa yang akan membunuh mu?" tanya Biru datar.


"Tentu saja kau, siapa lagi, kau pikir aku tuli tak bisa mendengar perintah yang di berikan pada mu saat kita di rumah itu!" sewot Ghea.


"Bukan berarti aku bersedia melakukan perintah mereka, bukan?" jawab Biru cuek.


"Apa maksud mu?" Ghea menoleh ke arah pria ya g nada bicaranya sangat menyebalkan menurutnya.


"Apa kau tak akan membunuh ku? Apa kau akan membebaskan ku? Aku akan memberi mu apa saja yang kau mau jika itu memang iya, berapa yang kau minta, sebutkan saja, aku pasti bayar kalau kurang kakak ku pasti mau membantu ku," ucap Ghea antusias.

__ADS_1


"Aku tak butuh uang, karena uang ku sudah cukup banyak untuk sekedar menghidupi diri ku sendiri!" sinis Biru yang merasa sangat tersinggung dengan penawaran Ghea, karena gadis itu selalu saja menilai sesuatu dari materi semenjak dulu.


__ADS_2