
Mendengar perkataan Biru yang mengatakan kalau dirinya mungkin saja di bunuh oleh teman-temannya apabila dia sampai melepaskan dirinya, batin Ghea sedikit terusik, benarkah dia bisa setega itu,? Benarkah akan hidup dengan tenang sementara ada manusia lain yang menukar nyawanya untuk agar demi dirinya tetap hidup?
Seharusnya Ghea merasa senang, lega, saat tau dirinya akan di lepaskan oleh penculiknya dan diberi kesempatan untuk tetap menikmati indahnya dunia, tapi mengapa perasaannya terasa berbeda dari yang di harapkannya.
Mati-matian dia berusaha lepas dari jerat Biru, mengapa setelah dirinya mendapat kabar akan mendapatkan kembali kebebasannya justru dia seolah merasa tak senang?
"Kenapa, apa lagi yang kau pikirkan sekarang, kau akan segera bebas dan bertemu dengan keluarga, teman-teman, juga kekasih mu lagi," ucap Biru datar, khusus untuk kalimat terakhir yang di ucapkannya, entah mengapa hati Biru terasa nyeri saat mengucapkannya.
Mengembalikan Ghea kembali pada pemiliknya, karena dirinya bukan siapa-siapa wanita itu, selain hanya seseorang yang menyukai dan mencintainya secara diam-diam dan tak pernah punya nyali untuk mengungkapkan semua perasaannya semenjak mereka berada di sekolah yang sama.
"Lantas, aku harus hidup berbahagia seolah tak terjadi apapun, sementara kau harus kehilangan nyawa demi menebus semua itu?"
"Apa kau mulai menghawatirkan ku, nona?"
Biru menarik tinggi sebelah sudut bibirnya, seolah mengejek Ghea karena tiba-tiba saja terlihat begitu menghawatirkan dirinya, sementara beberapa menit yang lalu dia sangat ingin terlepas dari kekangannya dan sepanjang perjalanan tadi memaki dirinya, mengatakan kalau dirinya penjahat, pembunuh, dan sebagainya, walaupun semua perkataannya itu tak ada salahnya, karena memang kenyataannya seperti itulah dia.
"Karena aku manusia, jadi punya perikemanusiaan, sementara kamu---!"
"Pasti mau mengatai ku tidak berperikemanusiaan!" Sambar Biru santai, dia lantas mematikan puntung rokoknya dengan menginjaknya dengan ujung sneaker yang dipakainya membuat Ghea mengurungkan niatnya untuk mengatakan hal itu pada pria yang seakan dapat membaca pikirannya itu.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kau ikut dengan ku, kakak ku seorang pejabat penting, dia pasti bisa melindungi kita." tawar Ghea agar dirinya tak begitu merasa bersalah kedepannya, setidaknya baik dirinya maupun Biru dapat selamat, pikirnya.
"Lebih baik kau fokus untuk nyawamu sendiri saja, tak usah memusingkan takdir ku," tolak Biru seraya menyalakan kembali sebatang rokok yang selalu menjadi temannya saat dirinya merasa kalut atau gelisah.
Ghea hanya mengendikkan kedua bahunya acuh setelah mendengar penolakan Biru yang terkesan angkuh itu, rasanya dia merasa sedikit menyesal telahmenyimpan rasa tak enak hati dan menghawatirkan keselamatan Biru jika sampai pria itu meloloskan dirinya.
"Ya sudah kalau kau merasa bisa sendiri, jadi aku tidak akan merasa bersalah jika esok atau lusa kau terbunuh karena membebaskan ku." ucap Ghea datar.
"Hemh," balas Biru tak ingin menanggapi lebih jauh pembicaraan gadis yang baru saja menyelesaikan makannya itu, hatinya masih sering berdesir dengan hebatnya jika dia tak sengaja menatap wajah cinta pertamanya itu.
"Oh iya, namaku Ghea, jika kau berumur panjang dan suatu hari nanti aku bertemu dengan mu dalam kondisi yang berbeda, dengan nama apa aku harus memanggilmu?" Ghea mendekat ke arah Biru, entah mengapa hati kecilnya mengatakan kalau pria yang kini bersamanya itu tak akan menjahatinya, selama dalam sekapan Biru, tak sekalipun pria itu melakukan kekerasan padanya, kecuali menciumnya saat membeli makanan saat di perjalanan beberapa waktu yang lalu.
Potongan ingatan berjalan bagai film pendek di kepalanya, mengingat kejadian malam itu, dirinya pergi ke klub bersama Angga kekasihnya, lalu saat dirinya meminum minuma yang diberikan Angga sang kekasih dirinya langsung tak ingat apa yang terjadi, namun sepertinya samar-samar dia masih ingat jika sebelum dirinya kehilangan kesadaran, dia sempat melihat Angga menyambut kedatangan pria setengah baya dengan dua wanita di sisi kanan dan kirinya, dan itu sangat mirip sekali dengan Anggoro, pria tua yang memberi perintah pada Biru Cs untuk menghabisinya, lalu kemana perginya Angga, kenapa dia membiarkan begitu saja dirinya diculik oleh kawanan Biru.
Otaknya tiba-tiba seperti menemukan kepingan-kepingan puzzle yang terburai dan harus berusaha menyusunnya agar terlihat bentuk dan warna dari itu semua.
"Biru,,," ucap Biru singkat.
"Ha?" namun Ghea yang sedang memikirkan hal lain seolah tidak terkoneksi dengan apa yang di ucapkan Biru padanya.
__ADS_1
"Kau tadi menanyakan namaku bukan? Namaku Biru." terang Biru.
"Ah iya, tadi aku menanyakan nama mu, tapi mengapa nama mu seakan familiar, seperti mengingatkan ku pada----" ingatan Ghea melayang pada sosok pria culun penerima beasiswa di sekolahnya dulu yang sering di bulli, tapi rasanya mereka orang yang berbeda, tampang dan gayanya saja bagaikan bumi dan langit.
Biru si culun di sekolahnya dulu sangat kumal, jerawatan, badannya kurus kering,dan selalu memakai seragam dekil karena sepertinya hanya punya satu seragam untuk dipakainya, dan satu hal yang paling mencolok, dia murid pendiam dan penakut, jika bukan dirinya yang beberapa kali membelanya pasti pria itu akan di keluarkan dari sekolah.
Sementara Biru yang ini berwajah tampan, badan yang atletis, berpenampilan bersih juga wangi, dan jangan lupakan sikap tengil dan sombongnya, jelas mereka berbeda! Pikir Ghea yakin.
"Mengingatkan mu pada siapa?" tanya Biru yang lumayan penasaran dengan akhir kalimat Ghea yang menggantung begitu saja tak terselesaikan.
"Pada langit, pada laut,,," seloroh Ghea mengalihkan pembicarannya, membuat Biru yang tadinya berharap Ghea mengingat si culun Biru saat sekolah, namun ternyata tetap tak mengingatnya sama sekali, membuat Biru merasa kecewa.
"Indah sekali namamu, Biru...sayangnya tak sesuai dengan apa yang kau lakukan,,," cicit Ghea.
Mungkin orang akan mengira nama Biru yang di sematkan pada pria itu bermakna langit atau lautan yang berwarna biru, namun itu semua salah, konon katanya saat bayi dirinya ditemukan di halaman panti dengan keadaan tubuh yang sudah membiru karena kedinginan, semua petugas panti hampir mengira kalau bayi itu akan meninggal, namun ternyata dirinya masih diberi umur sampai saat ini.
Karena tubuhnya yang membiru saat bayi itulah akhirnya kepala panti memberinya nama Biru, tanpa embel-embel nama lain atau nama kepanjangan apapun, katanya untuk mengingat kalau dirinya pernah di ujung maut dan lolos dari kematian saat bayi, ibu panti bahkan sepertinya sudah ratusan kali menceritakan kisah itu padanya jika dirinya nakal saat kecil, agar dirinya lebih mau bersyukur atas kesempatan hidup kedua yang diberikan Tuhan.
Namun Biru kecil lebih memilih berontak dan pergi jauh dari panti karena tak kuat dengan ejekan dan siksaan para seniornya disana.
__ADS_1
Menjadi sosok yang lemah memang selalu menjadi sasaran empuk para pembuli, makanya saat ini dia merasa nyaman dengan jiwa barunya yang arogan dan tak tertindas oleh siapapun.