BIRU

BIRU
Alat tempur


__ADS_3

"A-apa yang kau lakukan?" Kaget Biru, matanya membelalak dan tak bisa berkata-kata lagi melihat penampilan baru Ghea pagi itu.


"Ghea, apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Biru masih dengan kegugupan dan kekagetannya yang belum reda dia rasakan.


"Ish,,, hufft,,, kau masih mengenaliku?" ucapnya lesu.


"Ghea,,,akh,,,kenapa bisa begini!?" Biru sampai bingung harus berkata apa, dia hanya terus memutari tubuh Ghea dengan tatapan memindai dari atas sampai bawah berulang kali.


Bagaimana Biru tidak syok, mendapati Ghea yang kini memangkas habis rambutnya hingga berpotongan cepak seperti tentara, rambut panjang sebahunya itu kini hanya tersisa sekitar 3 centi dari kulit kepala, dia juga berdandan ala seorang pria dengan celana jins yang di robeknya dan jaket kulit milik Biru yang tergantung di ruang cuci pakaian.


"Untuk menghadapi masalah se serius ini, aku pun harus total, dan tak main-main dalam menjalani rencana ku yang ingin segera membongkar permasalahan yang terjadi pada ku akhr-akhir ini." urai Ghea menerangkan tentang alasannya yang kini berpenampilan baru itu.


Mungkin untuk orang lain akan melihat kalau itu sama sekali bukan Ghea, dimana Ghea benar-benar total dalam merombak penampilannya, namun bagi Biru, dia masih tetap bisa mengenali sosok wanita yang di cintainya, meskipun dia berubah menjadi seperti apapun.


Ada rasa kesal di hati Biru saat mendapati rambut panjang Ghea kini sudah tak ada lagi, meskipun itu tetap tak menyurutkan kecantikan Ghea, namun tetap saja, rasanya ada yang aneh dan lain saat dirinya melihat wanita itu, tapi kembali lagi itu semua hak dari diri Ghea sendiri, bukankah Biru tak punya hak apa-apa untuk menuntut dan mengatur Ghea harus berpenampilan seperti apa.

__ADS_1


"Tapi--- Akh terserahlah!" ucap biru yang akhirnya hanya bisa pasrah, mau bagaimana lagi, toh semuanya juga sudah terjadi, rambut yang pangkas Ghea juga tak bisa di lem kembali.


"Apa rencana mu?" lanjut Biru.


"Emh, untuk hari ini aku ingin ke apartemen ku, ada beberpa barang penting yang harus ku bawa." kata Ghea.


"Emh, apartemen mu? Apa itu tidak membahayakan?" tanya Biru ragu-ragu.


"Makanya aku berdandan seperti ini, agar tidak ada yang mengenali ku, tapi ternyata kamu masih mengenali ku!" ujarnya bernada sedih.


"Benarkah, kamu mau mengantar ku?" Ghea terlihat bersemangat dan ceria kembali.


"Hem!" angguk Biru, hatinya tiba-tiba menghangat hanya karena melihat senyuman Ghea yang terlihat sangat bahagia dengan senyum sumringahnya.


Dalam waktu kurang dari 2 jam mereka berdua sudah berada di dalam apartemen milik Ghea, almarhum ayahnya memberikan itu sebagai hadiah saat dirinya ulang tahun ke 20, dan ayahnya sangat mewanti-wanti kalau keberadaan apartemen itu jangan sampai di ketahui oleh kakaknya, sempat beberapa kali Ghea bertanya pada ayahnya kenapa da apa alasannya Baron tak boleh mengetahui tentang itu, ayahnya hanya mengatakan kalau untuk patuh saja dan tak usah banyak bertanya tentang alasan apapun, membuat Ghea merasa bosan untuk bertanya lagi tentang hal itu pada ayahnya, karena jawaban yang di berikan ayahnya tak pernah berubah.

__ADS_1


Apartemen itu sering dia kunjungi kalau dia sedang bosan, selain dirinya tak ada lagi orang yang tau tentang tempat itu, bahkan Angga sang kekasih sekali pun.


Sepertinya Biru menjadi orang pertama yang mengetahui perihal apartemennya itu.


"Apa kau akan mengangkut semua barang yang ada di tempat ini?" tanya Biru saat Ghea menggeret dua buah koper besar di tangan sebelah kiri dan kanannya.


"Ini semua barang-barang berharga ku, aku harus membawanya untuk menunjang penyamaran ku nanti," terangnya seraya menunjukkan isi koper yang ternyata sebagian besar di isi dengan berbagai alat tempur wanita aliasa peralatan make up.


Selain itu Ghea juga membawa uang tunai dan perhiasan yang dia simpan di rumah itu, mungkin suatu hari akan berguna, meski selama ini Biru tak pernah keberatan menangung semua biaya hidup mereka berdua. Akan sangat berbahaya jika dia menggunakan uang yang tersimpan di rekeningnya, Baron bisa curiga dan mengetahui tentang keberadaannya yang masih hidup.


"Tunggu, apa itu, kenapa kau membawa begitu banyak uang dan perhiasan?" tubjuk Biru pada sisi sebelah kiri isi koper itu.


"Emh, anu, itu---aku merasa tak enak hati jika terus menyusahkan dan membebani mu, ini untuk berjaga-jaga membeli barang-barang keperluan ku saja!" terang Ghea.


"Aku tak pernah keberatan akan hal itu, dan kau pikir aku tak mampu membiayai mu? Tenang saja,,,uang ku jauh lebih banyak dari perkiraan mu!" ujar Biru dengan sombongnya.

__ADS_1


__ADS_2