BIRU

BIRU
Tak sesederhana itu!


__ADS_3

Menjelang pagi hujan sudah semakin reda, meski suasana subuh di hutan masih terasa seperti tengah malam yang gelap gulita, Biru dan Ghea memutuskan untuk meninggalkan tempat itu segera.


Samapai di tempat dimana sinyal ponsel sudah bagus, beberapa pesan masuk ke ponsel Biru, bahkan puluhan pesan dari Yola masuk berentetan, tak biasanya wanita itu mengirim pesan begitu banyaknya.


Di kesemua isi pesannya hanya meminta Biru untuk menghubunginya karena ada sesuatu hal yang sangat penting untuk di sampaikan.


Biru baru teringat kalau dirinya belum mengirim bukti foto kalau dia sudah menghabisi Ghea di hutan, Haris pasti akan sangat murka padanya, dan mungkin ini yang membuat Yola mengirimkaan begitu banyak pesan padanya.


Biru lantas mencari kontak Haris dan mengirimkan beberapa foto Ghea yang terlihat sangat meyakinkan kalau wanita itu telah dibunuh dengan darah ular yang semakin membuat foto itu semakin berbicara dan nampak seolah nyata.


Tak selang beberapa detik kemudian justru Yola yang menghubunginya,

__ADS_1


'Keadaan kacau, bos marah-marah karena kau tak mengirim bukti kalau wanita itu sudah dihabisi'


Suara Yola terdengar benar-benar sangat panik, dia menjelaskan kalau Haris sangat marah saat ini padanya, karena bukti yang tak kunjung di dapatnya, selain sisa uang bayaran yang masih di tahan dan belum terbayarkan, karena masalah itu markas mereka menerima banyak ancaman bahwa kegiatan mereka akan di serbarluaskan ke media dan di laporkan ke pihak yang berwenang, akhir-akhir ini, Haris yakin kalau semua itu ada hubungannya dengan misi melenyapkan Ghea yang di anggap gagal itu.


Namun Biru mencoba menjelaskan dengan gamblang meskipun sarat dengan kebohongan, dia memberikan berjuta alasan mengapa dirinya sampai telat memberi report pada bosnya.


"Kenapa?" tanya Ghea saat menangkap ada sesuatu yang sepertinya sangat serius yang sedang di hadapi oleh Biru.


Biru tiba-tiba merasa tidak yakin kalau dirinya harus melepas Ghea, meskipun melepas ke rumahnya sendiri, dia merasa permasalahan yang terjadi pada Ghea tak sesederhana itu.


"Aku tak punya musuh, dan rasa-rasanya aku tak pernah menyakiti siapapun, hidupku baik-baik saja selama ini." ujarnya dengan mata yang memandang ke arah atas seperti sedang memikirkan atau mengingat-ingat sesuatu, namun sayangnya seberapa kuat dirinya berpikir, tetap saja dia tak menemukan jawaban apapun, dia merasa kalau hidupnya selama ini lurus-lurus saja, mengelola yayasan dan perusahaan yang di amanahkan padanya oleh almarhum kedua orang tuanya, dan itu berjalan seperti biasanya saja, tak ada yang aneh.

__ADS_1


Hubungannya dengan Angga kekasihnya yang sudah sekitar hampir dua tahun ini berjalan juga dirasa baik-baik saja tak ada kendala apapun, mereka bahkan hampir dikatakan jarang sekali bertengkar.


Pun demikian dengan hubungannya dalam lingkup keluarga, setelah kedua orang tuanya meninggal tiga tahun yang lalu, satu-satunya keluarga yang dia miliki adalah Baron sang kakak yang usianya terpaut 7 tahun dengannya, Baron yang kini merupakan salah satu pejabat tinggi di kota tempat mereka tinggal itu sangat menyayanginya dan selalu menjadi pelindungnya selama ini, andai saja Baron tak sedang tugas keluar kota malam itu, mungkin dia akan langsung menyelamatkan Ghea dengan segera.


'Ah, kak Baron, saat ini mungkin kakak sedang kebingungan karena mencari-cari keberadaan ku, tunggu aku kak, aku akan segera pulang!' lirih Ghea dalam batinnya.


Matanya mulai berkaca-kaca, wanita itu selalu menjadi melow jika teringat akan kebaikan kakak laki-lakinya itu, Baron yang sejak kecil menjaga dan menjadi temannya itu tak pernah membiarkan dirinya terluka sedikitpun, apa jadinya jika ternyata dia tahu kalau adik kesayangannya menjadi target sasaran pembunuhan orang? Pasti dia akan sangat merasa marah dan sedih.


""Aku tak suka wanita cengeng!" ucap Biru dingin.


"Aku juga tak ingin kau sukai!" ketus Ghea dengan wajah judesnya.

__ADS_1


__ADS_2