BIRU

BIRU
Apa kau seekor kucing?


__ADS_3

Suasana di bangunan mirip ruko milik Haris itu tiba-tiba jadi menegang karena tingkah panik Anggoro yang sangat takut jika sampai aksinya ketahuan dan tertangkap polisi.


Rasanya baru kali ini aksi Haris cs bisa di katakan gagal seperti ini.


"Dia bukan orang sembarangan, kakaknya pejabat tinggi di negara ini, kekasihnya anak kongkomerat di kota ini, sementara gadis itu sendiri merupakan pewaris yayasan ternama di sini, akan sangat beresiko jika sampai kita ketahuan," teraang Anggoro yang sejak tadi mondar mandir panik.


"Aku akan melakukannya, aku yang akan membawanya pergi jauh dan menghabisinya." celetuk Biru memecah kesunyian di aantara mereka.


Semua mata kini tertuju padanya, mendengar kesanggupan dan kenekatan Biru.


"Biarkan aku ikut pergi bersama mu!" ucap Yola mengajukan diri.


"Tidak, jikapun harus ada yang berkorban, cukup aku saja. kalau akau tertangkap pun aku tak akan melibatkan dan membawa nama kalian, aku akan menanggungnya sendiri." tolak Biru membuat Haris dan Yola saling melempar pandangan karena merasa kalau Biru bersikap aneh, namun dalam situasi seperti ini, sikap Biru menguntungkan mereka dan mau tidak mau mereka harus menyetujui usulan anggota termudanya itu.


"Apa kau yakin?" Haris seolah meminta kepastian lagi, karena tak ingin Biru melakukan itu hanya setengah hati sehingga nantinya bisa membahayakan mereka semua.


"Hem, yakin bos!" singkatnya.


Sementara Ghea yang mulutnya sudah di lakban dengan tangannya yang di ikat tak bisa berbuat apa-apa lagi selain hanya mendengarkan dan memperhatikan interaksi semua orang asing yang berada di ruangan itu, kecuali Anggoro tentu saja, karena pria tua itu sempat mendatanginya di yayasan sekitar dua minggu yang laku untuk menawarkan kerja sama dengan nya, namun tak terjadi kesepakatan di antara mereka saat itu, karena Anggoro malah berniat membeli bangunan Yayasan itu yang jelas-jelas tidak akan pernah Ghea jual sampai kapan pun.


"Bawa dia pergi sekarang juga, dan sebaiknya kau menghilang untuk beberapa saat, pastikan habisi dia tanpa ada bukti apapun tersisa, dan kirim foto mayatnya pada ku sebelum kau buang ke jurang yang jauh dari peradaban manusia."


Seketika Ghea merinding mendengar perintah Haris yang terkesan santai saat memerintah menghabisi nyawa seorang manusia seperti menyuruh menepuk seekor lalat saja.


Manusia-manusia macam apa yang kini berada di hadapannya, mereka seolah tak bernurani sama sekali, hingga nyawa manusia seolah tak ada harganya dan dengan mudah mereka menghilangkannya hanya demi rupiah.

__ADS_1


Tanpa membuang waktu dan banyak kata lagi, Biru membawa Ghea pergi bersamanya dari tempat itu, rasanya lega bercampur bingung di tambah sedikit cemas saat akhirnya dia bisa membawa Ghea pergi dan menjauhkannya dari gerbang kematian seperti yang di pesan Anggoro kepada dirinya dan kawan-kawannya yang siap mencabut nyawa siapapun selama nilai rupiah sesuai dengan perjanjian.


Namun kali ini sepertinya cerita akan sedikit berbeda, selain untuk pertama kalinya mereka menghadapi kegagalan dalam misi, targetnya kali ini juga pernah menjadi target cinta diam-diamnya Biru semasa remaja.


Dada Biru terasa bergemuruh menahan semua gejolak yang bercampur aduk menjadi satu.


Biru terus melajukan kendaraannya tanpa tujuan, dia tak tau harus kemana membawa Ghea pergi, sungguh dia tak tau apa yang harus dia lakukan saat ini, tak ada ide atau rencana apapun untuk di lakukan, membuat emosinya menjadi sangat buruk.


"Emhhh,,,,mmmhhhhh,,,,!" Ghea terus meronta dan berontak dalam kursinya mengeluarkan suara yang tak bisa di mengerti apa yang ingin diaampaikannya itu.


"Diamlah, jangan membuatku bertambah pusing!" bentak Biru karena merasa Ghea terus saja merengek dari tadi, kepalanya serasa mau pecah mendengar rengekan gadis itu, membuatnya rak bisaa berkonsentrasi dalam berkendara.


Ghea yang ketakutan karena bentakan Biru pun langsung terdiam, buliran airmata nya jatuh perlahan saat mengingat kalau hari ini mungkin hari terakhirnya melihat dunia ini, perintah Haris pada Biru masih terngiang jelas di telinganya, membuat dirinya setengah putus asa kini, harapan untuknya menghirup udara sepertinya hanya tinggal hitungan jam, terbayang bagaimana dirinya di hempaskan ke jurang yang terjal oleh Pria yang kini sedang mengemudi di sampingnya, membuat isakan Ghea semakin menjadi.


Biru menoleh ke arah samping kirinya, melihat Ghea yang tertunduk sambil terisak, keadaannya yang terikat dan mulut yang tertutup lakban sungguh membuat dirinya merasa miris, bahkan batinnya ikut terluka saat melihat buriran bening itu menetes meluncur di pipi mulus Ghea.


"Aku akan membuka penutup di mulut mu tapi tolong bekerja samalah dengan ku, jangan membuat masalah."


Tangan Biru terulur membuka lakban hitam yang merekat di sekitar mulut Ghea dengan perlahan-lahan, Biru tahu, itu akan menyakiti gadis di hadapannya,makanya dia sangat berhati hati saat melepaskannya.


"Auwwwh! kau dan teman-teman psikopat mu itu sungguh gila, bagaimana bisa memperlakukan seorang wanita seperti ku dengan begini kejamnya!" ringis Ghea kesakitan sambil terus saja memaki Biru dan teman-temannya, kulit di sekitar mulutnya terasa perih dan panas saat ini.


"Aku sudah bilang, tolong bekerja samalah dengan ku, jangan buat masalah," Biru mengulang ucapannya sekali lagi sambil menyodorkan sebotol air mineral, dia khawatir kalau Ghea kehausan, namun dia lupa kalau kedua tangan Ghea di ikat ke belakang.


"Kerja sama kata mu? Aku di minta kerja sama untuk membiarkanmu membunuh diri ku sendiri? Kau sinting!" makinya dengan mata membelalak.

__ADS_1


"Minumlah!"


Biru mendekatkan ujung botol air mineral itu ke hadapan mulut Ghea, suapaya dia dapat memantunya minum tanpa haris membuka ikatan di tangannya, akan sangat beresiko jika dirinya melepas ikatan Ghea, gadis itu bisa saja melarikan diri.


Namun ternyata Ghea malah memalingkan wajahnya dan tak mau menerima minuman yang di berikan Biru padanya.


"Air ini tak ada racunnya, ini masih baru."


Biru menenggak air dalam kemasan botol itu dan menyisakan setengahnya, dia merasa Ghea tak mau meminum air pemberiannya karena takut diracun atau di beri obat tertentu.


Namun lagi-lagi Ghea tak peduli, malahan saat tiba-tiba ada seorang pria berjalan di bahu jalan, Ghea berteriak-teriak meminta pertolongan, dia juga menghantamkan keningnya berulang kali ke kaca jendela mobil di sisi kirinya agar menarik perhatian pria yang lewat itu, berharap dia di selamatkan.


"Tolong, tolong, aku di culik, aku mau di bunuh, siapapun tolong aku!" teriaknya sambil terus mengadukan keningnya ke kaca mobil bak orang kesurupan.


"Ah shiiit, Ghea, hentikan kegilaan mu!"


Dengan sigap telapak tangan Biru dia tempelkan di kaca jendela mobilnya agar kening Ghea tak terus beradu dengan kaca mobil.


Bukannya tenang, Ghea malah semakin menggila dia bahkan kini menggigit jari tangan Biru sekuat tenaga sampai pria itu menjerit kesakitan.


"Apa kau seekor kucing? kenapa mengigit ku seperti ini! Awwhhh, ini sakit sekali!"


Jari tangan Biru tampak mengecap bekas gigitan Ghea, bahkan beberapa jarinya sampai berdarah akibat kencangnya gigitan gadis itu.


"Ish, sepertinya aku harus ke klinik untuk mendapatkan suntik rabies!" kesal Biru.

__ADS_1


"Kau pikir aku seekor anjing ?!" teriak Ghea tak terima.


__ADS_2