
"Kenapa kau meminta bantuan orang jahat seperti ku? Bukankah orang-orang yang menurut mu baik saja ternyata bisa menghianati mu?" tanya Biru penasaran.
"Hmmm, mungkin sudah waktunya aku berteman dan percaya dengan orang-orang jahat seperti mu, setidaknya jika kau berubah tentu akan berubah menjadi baik," ujar Ghea yang sudah mulai terlihat tenang itu.
"Haha kau terlalu naif, bukankan kemungkinan aku berubah menjadi lebih jahat lagi pun bisa saja terjadi?" seloroh Biru yang menilai kalau pemikiran Ghea itu terlalu polos dan sederhana, sehingga banyak orang-orang yang ingin menjahatinya namun dia tak menyadarinya sama sekali.
"Apa bisa begitu?" polosnya.
"untuk malam ini lebih baik kau istirahat yang cukup, besok baru membicarakan masalah ini lagi, itu kamar mu, panggil aku jika ada apa-apa,"
Biru menunjuk pintu kamar yang berada tepat di sebelah kamarnya, untuk di tempati Ghea, hari ini sudah cukup melelahkan baginya dan bagi Ghea tentu saja, jadi Biru memutuskan untuk tak melanjutkan pembicaraan tentang masalah ini lagi hari ini, karena tubuh mereka perlu istirahat yang cukup, agar energi tubuh merek esok hari penuh dengan hal positif, sehingga dapat berpikir dengan baik dalam merencanakan hal apa saja yang akan di lakukan dalam memulai mengurai benang yang sangat kusut ini.
Entah mimpi apa Biru, sehingga tiba-tiba dirinya menjadi terlibat dalam masalah rumit kehidupan Ghea, target sasarannya dalam misi yang tak sanggup dia selesaikan.
Mata Ghea tak bisa memejam sekejap pun, tentu saja siapapun orangnya akan merasa kesulitan beristirahat jika otaknya terus saja berpikir dan berputar, pertanyaan tentang apa hubungan kakak laki-lakinya dengan Haris, lantas apa hubungannya Angga dengan Anggoro, dan yang lebih penting lagi, apa yang mereka inginkan dan mereka incar dari dirinya, sehingga sampai tega ingin menghilangkan nyawanya lewat pembunuh bayaran
Lama kelamaan Ghea merasa jenfah dan sumpek berada dalam kamar namun tak juga bisa terpejam, akhirnya dia memutuskan untuk keluar kamar, dia ingin menikmati secangkir kopi agar kepalanya tak merasa se pusing ini.
__ADS_1
Namun betapa kagetnya saat dia keluar kamar, ternyata Biru masih berada di ruang tengah, dia masih terjaga dengan mata yang terfokus ke layar televisi 50 inci yangbtergantung di dinding menghadap dirinya.
"Apa kau tak bisa tidur?" tanya Biru.
Padahal pria itu tak melirik sedikitpun ke arah dirinya, namun dia bisa tau kalau itu adalah sosok Ghea, sehingga hal itu membuat bulu kuduk Ghea meremang.
"Ishhh, apa telinga mu punya mata? bagaimana kau bisa tau kalau aku yang berada di sini?" kesal Ghea.
"Tak ada orang lain di rumah ini, jelas saja aku tau itu kau!" jawabnya cuek.
"Tak bagus tengah malam begini minum kopi, kau akan tambah sulit tertidur, lebih baik kau minum susu saja, ambil di pintu lemari es." sarannya, namun lebih terdengar seperti perintah yang tak menerima bantahan.
"Ambilin buat ku sekalian, ya!" pinta Biru masih dengan nada datarnya dan mata fokus ke layar televisi.
Betul juga, kalau dirinya meminum kopi bukankah malah tak bisa tidur? Akhirnya Ghea lebih mengikuti saran si pria dingin nan jutek namun perhatian itu.
"Kenapa kau belum tidur?" tanya Ghea seraya menyodorkan segelas susu putih ke hadapan Biru.
__ADS_1
Ghea tak kuasa menahan tawanya saat melihat Biru meminum susu dalam gelas itu sampai tandas.
"Apanya yang lucu? mengapa tertawa?" tegur Biru agak kesal, karena tiba-tiba Ghea menertawakannya.
"Aku pikir pembunuh, penjahat, dan orang-orang seperti itu ganya meminum ber alkohol, ternyata ada juga yang minum susu seperti mu," kikik Ghea menutupi mulutnya.
"Jangaanulai pertengkaran lagi dengan ku!" gertak Biru.
"Kalau seperti ini kau lebih seperti penjahat imut, munum susu aja masih belepotan!" Ghea menyeka ujung bibir Biru dengan tisyu yang tersedia di meja yang berada di hadapannya, membuat wajah Biru tiba-tiba saja memerah dan sikapnya menjadi terlihat kikuk dan salah tingkah.
Perlakuan manis seperti itu tentu saja baru pernah Biru dapatkan, terlebih perlakuan manis itu datang dari wanita yang sangat di harapkan menjadi pendampingnya di masa depan itu.
"A-aku ngantuk, aku tidur duluan!" gugup Biru melengos dan bergegas meninggalkan Ghea yang kebingungan, dan bertanya-tanya apakah dirinya melakukan kesalahan? kenapa tiba-tiba Biru buru-buru pergi begitu saja, padahal film yang di tayangkan belum usai.
"Hey, kenapa aku datang bergabung kau malah kabur? Menyebalkan!" kesal Ghea yang tak sadar kalau perlakuannya tadi yang menyeka sisa susu di sudut bibir Biru yang membuat pria itu akhirnya beringsut pergi.
Ghea tak punya perasaan apa pun, dia melakukan itu karena dia memang orang yang tak betah jika melihat orang di depannya atau bersamanya makan atau minum belepotan, tangannya langsung gatal ingin berusaha membersihkannya, jika ternyata Biru jadi baper, ya itu masalahnya sendiri.
__ADS_1