
Setelah mengantar Yola ke tempat acara, Biru bergegas pulang, atau lebih tepatnya bergegas pergi ke yayasan tempat di mana kini Ghea berada.
Dengan alasan tak enak badan Biru berhasil lolos dari tugasnya mengawal Baron yang sedang berkampanye.
"Hai Tini!" sapa Biru mengejutkan Ghea yang saat itu sedang membuka laci meja kerja milik ayahnya dulu, tadi dia membuka ruangan itu dengan kunci yang kebetulan masih di milikinya.
"Ah sial, kau mengagetkan ku, hampir saja Jantung ku copot rasanya." Ghea memegangi dadanya sendiri, dia tak dapat menyembunyikan mimik keterkejutannya, karena dia memang sedang menyelinap dan membongkar laci meja di ruang direktur, andai saja ada orang lain yang menangkap basah apa yang di lakukannya sekarang ini, sudah barang tentu dirinya akan mendapatkan masalah yang sangat serius
__ADS_1
"Apa yang kau temukan?" Tanya Biru.
"Ini." Ghea menunjukan selembar kertas di dalam sebuah map, berisi tentang mengalihan kepemilikan yayasan dari ayahnya untuk dirinya, ada yang lebih mengejutkan lagi, dia juga menemukan selembar surat yang di tulis oleh ayahnya yang di tujukan untuk dirinya, dalam surat itu dia berpesan untuk tidak menjual yayasan sampai kapan pun, dan dia tidak akan rela jika yayasan tidak di kelola oleh Ghea, secara tidak langsung, ayahnya juga tidak ingin yayasan jatuh ke tangan Baron.
"Tapi kenapa?" Biru mengernyitkan keningnya, bukankah Baron juga sama-sama anak nya, pikirnya.
Terlalu banyak fakta yang di luar logika terungkap oleh Ghea di hari pertamanya bekerja, dia merasa menyesal karena selama ini dia tak pernah membuka laci meja kerja ayahnya, andai saja dia mengetahuinya lebih awal, mungkin dia masih punya waktu untuk membongkar tabir rahasia keluarganya ini, dan keadaan seperti sekarang yang membuat dirinya merasa tak aman dan harus menyamar sebagai orang lain tak perlu terjadi.
__ADS_1
Dia juga tak perlu mengalami sakit hati karena mengetahui kenyataan kakaknya ingin menghabisinya hanya demi menguasai harta warisan yang di tinggalkan oleh orang tua mereka.
Ghea juga cukup di kejutkan dengan kenyataan yang ternyata dirinya dan Baron hanya saudara satu ayah saja dan di lahirkan dari rahim ibu yang berbeda, padahal seingatnya, ibunya sangat menyayangi Baron selama ini, tak pernah sekalipun ibunya menunjukan atau membedakan kasih sayang antara Baron dan dirinya.
"Ayo pulang. Kau pasti lelah, jangan terlalu di pikirkan, jalani pelan-pelan, kau bisa gila jika memikirkan semuanya secara bersamaan seperti itu. Seperti janji ku, aku akan membantu mu menyelesaikan masalah mu." Biru meraih semua kertas-kertas di tangan Ghea dan memasukkannya ke dalam tas selempang yang di pakainya, akan sangat mencurigakan dan berbahaya jika sampai ada yang tau kalau Ghea membobol dan membawa berkas-berkas penting dari ruangan itu.
"Tapi sepertinya aku sudah mulai gila karena semua permasalahan ini, semuanya terlalu mengejutkan dan tidak masuk akal." Cicit Ghea dengan wajah yang masih terlihat kebingungan karena mendapatkan banyak 'serangan' mental tak terduga dari laci meja kerja ayahnya.
__ADS_1
"Oh ayolah, jangan gila dulu, aku tidak punya pengalaman mengurus orang gila, atau berteman dengan orang gila, tetap waras, oke!" canda Biru dengan tawa konyolnya mencoba menghibur Ghea yang sapertinya akan benar-benar gila jika di biarkan sendirian menghadapi masalah sebesar dan serumit ini.