
Malam semakin larut, namun tanda-tanda hujan akan berhenti belum juga terlihat, petir kian menyambar-nyambar, membuat suasana malam di hutan yang jauh dari peradaban manusia itu semakin terasa mencekam.
Beberapa kali kilatan cahaya putih seakan sangat dekat menyambar ke area dekat mereka, membuat Ghea semakin menyembunyikan wajahnya di punggung lebar Biru.
"Makanlah, kau belum makan apapun sejak tadi pagi, aku sedang taka ingin mengurus pasien." Biru menyodorkan sepotong singkong bakar yang masih mengepul.
Namun Ghea menggeleng, melihat bentuknya saja dia tak selera makan, dia yang sangat pemilih dalam hal makanan itu mana mau memakan makanan yang sembarangan.
Tapi saat melihat Biru memakan singkong bakar itu dengan lahapnya, membuat Ghea menelan air liurnya sendiri, apalagi cacing dalam perutnya kini sudah berdemo minta di isi makanan.
"Coba dulu, kalau kau sampai sakit, aku akan meninggalkan mu di sini sendirian,!" ancam Biru.
Ancaman yang jitu, karena Ghea langsung mengambil sepotong kecil singkong di hadapannya lalu mencubitnya sedikit dan memasukan ke dalama mulutnya.
Entah karena takut ancaman Biru yaang akan meninggalkannya jika dirinya sapai sakit karena tak makan, atau memang karena gadis itu sangat kelaparan, karena sedikit demi sedikit akhirnya sepotong singkong bakar itu akhirnya habis juga, bahkan dia terlihat masih mencari-cari potongan singkong yang lainnya.
__ADS_1
Biru tersenyum kecut, tuan putri yang sebelumnya menolak makanan seadanya itu ternyata sangat lahap, enath karena sangat lapar atau memang rasanya enak.
"Nih, makanlah, di kota akan menjadi menu makanan mahal, karena tak ada yang menjual singkong bakar seperti ini, hanya saja hati-hati usus mu kaget makan makanan ini!" ledek Biru yang hanya di balas kerlingan mata Ghea yang sebal karena merasa di ejek Biru.
"Keinginan untuk hidup ku sangat kuat, aku sudah berjuang sejauh ini, dan aku tak mau mati hanya karena kelaparan." Ghea mengelak, dia terlalu gengsi untuk mengakui kalau singkong bakar itu memang terasa enak, apalagi dimakan saat cuaca dingin di bawah guyuran hujan seperti ini.
"Tidurlah, aku akan berjaga. Jika hujan sudah reda, kita lanjutkan lagi perjalanan kita." titah Biru, namun tentu saja perintahnya langsung di tolak mentah-mentah oleh Ghea, mana mau dia tidur ditempat kotor seperti itu, apalagi dia juga takut kalau sampai Biru meninggalkannya sendirian disana saat dirinya sedang tidur, atau tiba-tiba ada hewan buas atau bahkan ada hantu di sana, semua bayangan yang hanya ada di pikirannya itu membuat Ghea bergidik ngeri.
"Tidak, aku juga akan berjaga bersama mu" ucapnya penuh yakin, meski tiga puluh menit kemudian bahu Biru terasa berat, rupanya Ghea tertidur dengan menyandar di bahunya, tentu saja itu membuat Biru tersenyum geli, bagaimana bisa wanita itu tertidur dalam posisi terduduk dengan kepala menyandar ke bahunya, sepertinya Ghea benar-benar kelelahan.
Saat ini Biru isa menatap wajah Wanita yang sangat di cintainya itu dari kedekatan, Biru bak pemuja rahasia yang kini mendapatkan kesempatan untuk berdekatan dan memandangi wajah idolanya yang sedang terlelap dengan sangat tenangnya.
Tangan Biru pun seperti terhipnotis dan bergerak dengan sendirinya mengusap pipi halus Ghea yang dulu hanya bisa dia lihat dan kagumi dari kejauhan saja.
Takdir macam apa ini, Tuhan memberinya kesempatan untuk berdekatan dengan wanita pujaannya namun dalam keadaan yang tak semestinya, ironis memang,,, bagaimana bisa dirinya ditugaskan untuk membunuh wanita yang kini terlelap dalam pelukannya itu, wajah teduh itu, wajah tenang itu, mana mungkin dirinya sanggup melakukan semua itu, dia lebih baik kehilangan nyawanya dari pada harus menghilangkan nyawa wanita yang di cintainya itu, dia tak akan memaafkan dirinya sendiri seumur hidupnya jika sampai hal itu terjadi.
__ADS_1
Namun ditengah dirinya sedang memandangi wajah Ghea sambil mengelus pipi halusnya, bulu mata lentik itu bergerak tiba-tiba, dan mata Ghea terbuka perlahan, antara sadar dan tidak, Ghea beradu tatap dengan kedua netra berwarna coklat gelap yang juga sedang menatapnya dalam.
"Apa yang terjadi?" tanya Ghea setengah sadar.
"A-ada nyamuk di pipi mu!" gugup Biru.
"Tapi kenapa aku jadi tertidur dengan posisi seperti ini?" gumam Ghea bingung, karena seingatnya tadi dia sedang duduk di sebelah Biru
sambil berjaga di depan api unggun yang tadi sore di buat Biru.
"Mana ku tau, kau tadi tiba-tiba merebahkan diri dan tertidur di sini sampai kaki ku terasa keram menahan tubuh mu." cicit Biru asal.
"Hey,,, apa kau ingin mengatakan kalau aku gendut? Tak sopan, itu sangat melukai hati dan perasaan wanita tau!" sungut Ghea sambil memonyongkan bibirnya.
Namun Biru yang sedang menjadi objek omelannya Ghea malah senyum senyum sendiri, melihat Ghea memonyongkan bibirnya seperti itu, membuat dia teringat ciumannya dengan Ghea saat drive thru makanan cepat saji kemarin, bahkan rasa manis bibir Ghea masih melekat dan terasa begitu nyata di bibirnya.
__ADS_1
Gadis itu pun terlihat beberapa kali lebih cantik dan menggemaskan saat sedang marah-marah seperti itu.