
'Ah' sudahlah mungkin karena gelap aku tidak melihat mereka dengan jelas, orang aku melihatnya dari sini.
Aku berjalan menuju rumah Ni Rum yang terletak paling ujung. Tidak ada rumah tetangga menuju rumah Ni Rum. Jadi suasananya semakin sunyi saat malam begini.
"Bi Asih!" sapaku begitu melihat Bi Asih. Tak sengaja kami bertemu di jalan, "bibi mau ke mana?"
"Bibi mau menginap di rumah Amel. Mau membantunya memasak karena kakaknya mau menikah, kebetulan juga bibi besok libur," jawab Bi Asih sambil berjalan menuju depan gang.
"Loh Bibi mau naik apa ke rumah Tante Amel? Bukannya tak ada kendaraan malam-malam begini?"
"Saudara Amel yang menjemput bibi, tuh orangnya sudah menunggu di depan gang," tunjuk Bi Asih kepada seorang pria dari jauh.
Diam-diam aku memperhatikan bayangan orang ditunjuk Bi Asih tadi. yang duduk terlihat punggungnya saja di depan jalan tadi aku turun, perasaan tadi saat lewat tak ada orang satu pun di sana. Mungkinkah orang tersebut baru datang?
"Hati-hati di jalan ya, Bi."
Bi Asih tersenyum berbalik badan dan meneruskan berjalan ke depan. Begitu juga aku, memutuskan meneruskan berjalan menuju rumah Ni Rum yang jaraknya dua puluh meter lagi sampai.
Lima menit berjalan, akhirnya aku sampai juga ke rumah. Aku langsung menempelkan kunci di lubang pintu dan membukanya pelan.
__ADS_1
"Kirana, tumben kamu belum tidur?" tanyaku pada Kirana yang sedang duduk di ruang tamu.
"Ibu, seperti biasa kumat lagi. Untung Elo pulang, gue capek ngurusin ibu." Raut wajah Kirana terlihat kesal.
"Loh, memangnya kenapa dengan ibu?"
"Ibu kerasukan lagi. Tadi gue pergoki ibu ngambil ayam tetangga yang masuk ke halaman rumah. Ibu makan ayam itu hidup-hidup. Untung gue ditolong Bi Asih buat nenangin. Cape liat ibu kayak gitu mulu, kenapa si kita ngga balik ke Jakarta aja terus taruh ibu di rumah sakit jiwa. Biar hidup kita tenang, ibu juga bisa disembuhkan di sana," kata Kirana panjang lebar.
Tentu saja aku tidak setuju dengan usulan Kirana. Aku merasa rumah sakit jiwa tidak cocok untuk ibu. Aku merasa ibu hanya kesepian lantaran baru ditinggal ayah meninggal.
"Di mana ibu sekarang?"
Kirana lalu berjalan menuju kamarnya. Sementara aku memasuki kamar ibu yang tidak jauh dari ruang tamu.
"Ibu," panggilku begitu memasuki kamar ibu.
Aku melihat ibu sedang duduk memunggungi pintu di kursi rotan.
"Bu, ibu baik-baik saja?" Aku mengelus rambut panjang ibu yang acak-acakan.
__ADS_1
"Kenapa belum tidur, Bu?" Aku merapihkan rambut ibu yang masih diam tak menoleh.
Kutunya sudah menghilang, tetapi apa ini?
Aku menyibak rambut ibu. Alangkah kagetnya aku ketika melihat kepala ibu dipenuhi luka cakaran.
"Ibu, kenapa banyak sekali cakaran di kulit kepalanya?" tanyaku seraya mengusapnya dengan telapak tangan.
"Bukan ibu yang mencakarnya, Dara." Ibu masih duduk bergeming di kursi.
"Lalu siapa yang mencakarnya?"
Aku memegang tangan ibu, mengecek kukunya. "Kuku ibu tidak terlalu panjang."
"Kemuning tadi mencakar ibu. Dia marah karena lapar."
Aku menghela napas berat lalu duduk berjongkok di dekat ibu. "Kemuning itu tidak ada, Bu. Kata guru agama Dara, orang yang sudah meninggal itu tidak akan berada di dunia lagi. Kalaupun ada itu adalah tipu muslihat setan agar menyesatkan kita."
Dari raut wajahnya, ibu seperti sedikit tidak terima dengan ucapanku. "Itu tidak benar, Dara. Ayahmu bahkan sering ibu temui di sini."
__ADS_1