
POV Dara.
Aku berjalan menuju rumah Pak Samsul yang berjarak beberapa rumah dari Mang Udin. Pak Samsul bercerita kalau dia warga asli desa ini, sementara Mang Udin adalah perantau yang datang empat tahun yang lalu.
Begitu memasuki halaman depan, seorang perempuan yang sedang menyapu halaman tersenyum menyapaku.
"Kenalkan ini istri bapak. Panggil saja Bi Rumi," kata Pak Samsul memperkenalkan perempuan yang sedang memegang sapu lidi.
"Dara."
"Masuklah," kata Pak Samsul mempersilahkan aku masuk ke rumahnya.
"Masuk, Neng." Tambah Bi Rumi. Terlihat kalau dia sangat ramah.
Baru memasuki rumah, pandangan mataku berkeliling melihat ruang tamu. Rumah bercat putih ini terlihat sangat sederhana. Tidak hanya sederhana, rumah ini juga sangat bersih dan rapi, saking bersihnya aku hampir tak menemukan debu secuil pun, menandakan pemilik rumah sepertinya merawat dengan baik. Meja dan kursi yang terbuat dari anyaman rotan menghiasi ruang tamu rumah Pak Samsul yang kini aku duduki.
"Minumlah, agar lebih tenang, Neng." Istri Pak Samsul menyodorkan teh yang baru dia sajikan di meja, "monggo diminum."
"Terima kasih, Bu. Dara minum tehnya ya," balasku sambil meminum teh itu. Tak enak rasanya kalau tidak diminum.
Sebelum suasana menjadi hangat, kami berbincang sebentar. Bi Rumi bercerita kalau dia juga memiliki anak perempuan seusiaku. Namun katanya, sudah meninggal sejak usia delapan tahun. Kini mereka hidup hanya bertiga bersama anak angkatnya.
__ADS_1
"Bibi ke belakang dulu, Neng," kata Bi Rumi lalu berjalan ke arah dapur.
Aku tersenyum mengiyakan.
Kini tinggal Pak Samsul dan aku yang duduk saling berhadapan.
"Jadi kamu sudah menemuinya tujuh hari yang lalu?" tanya Pak Samsul memulai pembicaraan.
"Bapak tahu dari mana?"
Pak Samsul tersenyum. "Mang Dul tukang beca yang memberitahukannya barusan."
Pak Samsul tersenyum lagi. "Ya iyalah, Neng. Mang Udin kan tetangga bapak."
"Apa Mang Udin melakukan pesugihan?" tanyaku tiba-tiba tanpa berbasa-basi. Rasanya sudah sangat penasaran aku dibuatnya, "maaf, Pak. Kalau pertanyaanku terlalu lancang."
Mendengar ucapanku, Pak Samsul hampir tersedak saat meminum tehnya. Dia menaruh lagi cangkir yang dipegangnya tadi ke meja. Dari sudut ekor mata Pak Samsul lelaki itu seperti sedang membaca pikiranku.
"Aku yakin bapak bukan orang yang biasa. Bapak pasti sudah tahu sebelum Mang Beca tadi menceritakannya. Ceritakan saja, Pak. Aku merasa ada yang janggal ketika melihat rumah itu." Penasaranku terhadap Mang Udin semakin tinggi. Kejadian yang menimpa lelaki paruh baya itu pasti berhubungan dengan mimpi yang kualaminya semalam.
"Jadi kamu ingin tahu cerita sebenarnya?"
__ADS_1
Aku mengangguk cepat tak mau sampai Pak Samsul berubah pikiran.
Pak Samsul membenarkan posisi duduknya, menghela napas pelan lalu mengeluarkannya begitu saja. Lelaki yang berprofesi sebagai pemandi jenazah itu mulai bercerita.
Dulu, Mang Udin datang ke desa itu saat Ani masih berumur delapan bulan. Datang hanya membawa diri dan beberapa lembar uang di tangannya. Ani anak Mang Udin di diagnosis memiliki kelainan jantung. Tidak memiliki bekal apa pun Mang Udin nekat merantau dari Indramayu ke Cirebon setelah ibu kandung Ani meninggalkannya. Alasan Mang Udin saat itu karena tak punya cukup uang untuk kembali ke kampung halaman.
Keadaan Mang Udin kala itu sangat susah. Tak bisa membeli susu apalagi membayar pengobatan anaknya. Pernah suatu ketika, Pak Samsul mengajak Mang Udin bekerja, membantunya memandikan mayat di rumah sakit. Tetapi, itu hanya bertahan beberapa bulan.
Mang Udin pernah menitipkan Ani kepada tetangganya hampir berminggu-minggu. Warga desa pikir, Mang Udin kembali ke Sumatera dan meninggalkan Ani begitu saja. Namun, dugaan warga salah. Beberapa minggu setelahnya, dia kembali dengan membawa uang banyak yang dia gunakan untuk membeli sebuah angkot. Menurut pengakuan Mang Udin, uang yang didapatnya itu adalah warisan orang tuanya dari kampung.
Semenjak mempunyai angkot, ekonomi Mang Udin langsung naik. Seiring berjalannya waktu usaha angkot Mang Udin kian lama kian menanjak pesat, beliau menambah lagi armada angkotnya yang dia sewakan kepada penduduk kampung yang menganggur.
Terlalu lama menyendiri membuat Mang Udin kesepian, di tambah lagi anaknya Ani tak ada yang mengurusi. Mang Udin memperistri seorang gadis dari desa lain. Sayangnya pernikahan mereka tak berlangsung lama, karena gadis yang dinikahinya itu dia jadikan tumbal untuk menambah kekayaannya.
"Ehm!" Tiba-tiba Pak Samsul berdehem melihat ke arah Jendela.
"Teruskan, Pak," ucapku setelah Pak Samsul menghentikan ceritanya.
Suasana mendadak hening. Ekor mata Pak Samsul seakan melirik sesuatu dari arah jendela yang terbuka.
"Tunggu dulu, Neng. Bapak menutup jendela dulu."
__ADS_1