Bisikan Setan

Bisikan Setan
Bab 28. POV Sekar


__ADS_3

Dua tahun setelah aku bertemu Mas Mahesa dan Ayu di pertunjukan tari. Keadaannya malah berbalik, aku dengan anggun duduk mengenakan kebaya pengantin putih lengkap dengan sanggul, berikut siger sunda di atas rambut dengan rajutan melati yang menjuntai ke bahu. Saat ini usiaku 19 tahun. Aku tampak tersenyum puas, duduk bersebelahan dengan Mas Mahesa sebagai pengantin lelakinya.


Tak ada lagi Ayu yang menghambat hubunganku dengan Mas Mahesa. Ya, sebulan sebelum mereka menikah. Ayu sudah dipanggil duluan oleh yang maha kuasa. Ayu mengembuskan napas terakhirnya akibat tertabrak truk saat dia selesai mengurusi persiapan akan pernikahannya dengan Mas Mahesa. Ayu meninggal sebulan sebelum dia menikah.


Tentu saja itu adalah kabar yang baik bagiku. Kepergian Ayu membuat cela terbuka untukku bisa masuk di kehidupan Mas Mahesa yang saat itu terlihat begitu rapuh kehilangannya. Beruntung aku kala itu pintar mengambil hati Ni Rum dan Ki Dharma. Padahal sebelumnya, Ni Rum sangat tidak setuju anaknya berhubungan denganku. Dan itu karena kerjasama kami.


Kabarnya, kepergian Ayu, merupakan pukulan terberat bagi keluarganya. Wiryo merupakan ayah kandung Ayu, seorang pengusaha rotan yang bersahabat baik dengan Ki Dharma sejak muda. Aku mendengar kabar, saat perekonomian mereka sama-sama sangat susah, cita-cita mereka ingin menjodohkan anak keturunan mereka kelak. Mereka sudah mempersiapkan pernikahan Mas Mahesa dengan Ayu yang akan dilakukan sebulan lagi. Sayangnya, sesuatu hal buruk terjadi.


Kematian Ayu yang misterius membuat Wiryo terlihat masih belum menerima kematian anaknya itu. Dia berkata kepada semua orang kalau kematian Ayu anak perempuan semata wayangnya itu bukanlah kematian biasa. Kabarnya Wiryo akan membalaskan dendam kematian Ayu. Entahlah, aku sendiri tak tahu jelas karena tak melihat langsung. Yang jelas aku sangat bahagia karena bisa memiliki Mas Mahesa secara utuh.


"Mas, aku sudah siap sekarang," kataku di malam pengantin kita. Malam ini aku ingin memberikan servis yang terbaik untuk Mas Mahesa.


Bukannya menjawab, Mas Mahesa malah diam saja, tatapannya begitu kosong dan gamang. "Aku lelah, aku ingin tidur."


"Tapi, Mas. Ini adalah malam pengantin kita."


Namun, Mas Mahesa tetap tak peduli. Tubuhnya dia rebahkan ke ranjang membelakangiku. Apa dia tak melihat wajahku yang cantik, masih utuh dengan riasan pengantin. Padahal aku sangat berharap, Mas Mahesa lah yang harus melepas baju pengantinku malam itu.


Aku memberanikan diri menggoyangkan pelan bahu lelaki yang kini sudah sah menjadi suamiku itu. Lalu berbisik di telinganya pelan. "Bantu aku melepas kebayaku, Mas."


Mas Mahesa tetap bergeming tidak peduli. Kutengok, dia malah memejamkan matanya.


"Mas," kataku lagi, "sebenci itukah kamu padaku. Sampai kamu tak ingin menyentuh tubuhku di malam pengantin?"


"Sekar. Sudahlah! Aku bilang sangat lelah. Lagipula kita bisa melakukannya nanti. Sekarang lebih baik kamu beristirahat saja. Bukankah kamu sangat lelah setelah seharian berdiri menyalami tamu," ucap Mas Mahesa dengan mata terpejamnya.


"Apa kamu masih belum melupakan Ayu? Sadar Mas, Ayu sudah tidak ada. Kalian tidak berjodoh."


"Dan kamu yang membuatku tidak berjodoh dengan Ayu," kata Mas Mahesa menyentakku. Kini dia membuka matanya, melihatku tidak suka.


"Berhenti menyalahkan aku, Mas."


"Sudahlah aku malas berdebat denganmu!" Bentak Mas Mahesa lagi.


Harusnya malam ini adalah malam yang ditunggu-tunggu pasangan pengantin baru. Termasuk aku yang dari dulu menantikannya. Sayangnya tidak dengan Mas Mahesa. Lelaki itu nampak tak berhasrat sedikit pun terhadapku. Sungguh membuatku tersinggung. Mas Mahesa pernah bilang kalau dia masih sangat mencintai Ayu, sayangnya demi menuruti permintaan orang tuanya, mau tak mau dia menyetujui menikah denganku. Tapi bukan seperti ini. Dia benar-benar menyakitiku.


Tok,tok, tok


Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.


"Siapa?" tanyaku berteriak.

__ADS_1


"Mbok Narmi."


Kalau saja kami sedang melakukan ritual malam pertama, mungkin aku akan marah karena pintunya diketuk tiba-tiba oleh seseorang. Sayangnya, kami masih belum melakukan apa pun. Jadi aku putuskan untuk melihat keluar.


"Udah cepet sana keluar. Dipanggil Mbok Narmi tuh," kata Mas Mahesa sepertinya senang kalau aku keluar.


"Baik, Mas. Aku akan keluar."


Mbok Narmi dari luar mengetuk pintu lagi.


"Iya, Mbok," jawabku sambil membuka pintu.


.


"Non Sekar dipanggil Ni Rum di ruang tengah," kata perempuan sepuh bernama Mbok Narmi itu berdiri di depan pintu, usia Mbok Narmi hampir sama dengan Ni Rum, "ikut aku sekarang, Non."


Merasa kesal dengan penolakan Mas Mahesa. Aku yang masih mengenakan kebaya, dengan terpaksa mengikuti langkah Mbok Narmi berjalan ke ruang tengah. Ruangan itu letaknya bersebelahan dengan gudang dan kamar belakang.


Saat sampai di ruang tengah, sudah ada Ni Rum dan Ki Dharma yang duduk bersebelahan. Ni Rum menyambutku dengan senyuman saat aku sudah memasuki ruangan.


"Bagaimana apa kamu bahagia menikah dengan anakku?" tanya Ni Rum tersenyum penuh arti.


"Kamu tahu kan sifat Mahesa seperti apa? Mulai sekarang kamu harus terbiasa dan harus menanggung konsekuensinya karena kami sudah membantumu."


Aku masih menunduk. Aku sangat patuh dihadapan ke duamertuaku. Sebenarnya dari dulu aku merasa takut berhadapan dengan Ni Rum dan Ki Dharma. Dari dulu kedua orang itu sangat disegani oleh masyarakat apalagi pemilik panti tempatku tinggal. Semenjak usaha Ni Rum semakin maju, dia sudah menjadi donatur tetap panti tempatku tinggal.


"Jadi kamu sudah siap, Sekar?"


"Enggih, Ni."


Aku melangkah ke sebuah ruangan bercat putih, dengan banyak sekali hiasan topeng yang menempel di setiap dindingnya. Diikuti oleh Mbok Narmi di belakang, langkahku terus maju melewati tiap balokan kayu yang tertumpuk rapi.


Malam ini, dengan membawa lampu petromaks di tangan Mbok Narmi, aku menapaki kaki ini ke sebuah tangga yang arahnya menurun ke bawah. Tangga ini adalah jalan satu-satunya menuju ruang bawah tanah.


"Di mana letaknya, Mbok?" tanyaku.


"Masih ke dalam lagi, Non. Di sebelah sana." Mbok Narmi menunjuk dengan jempolnya ke arah aula yang terdapat altar di tengahnya.


Sambil membawa beberapa sesajen di tangan, aku melangkah maju menelusuri lantai beralasan tanah tanpa menggunakan alas kaki. Terlihat sarang laba-laba menghiasi setiap sudut ruangan. Sudah cukup membuktikan kalau tempat ini jarang sekali ditempati apalagi dibersihkan.


"Taruh di sini saja, Non sajennya," kata Mbok Narmi.

__ADS_1


Aku menurut dan menaruh sesajen berisikan kembang tujuh rupa ini di tengah aula. Tentunya dibimbing Mbok Narmi karena baru kali ini aku mengikuti ritual pemujaan setan. Aku yang masih memakai pakaian pengantin menurut agar merebahkan diri di lantai aula berkeramik putih ini.


"Mbok aku takut," kataku gemetar. Aku menatap langit-langit ruang bawah tanah yang gelap. Cairan bening yang dari tadi kutampung di sudut mata akhirnya keluar tak terkendali.


"Ini sudah konsekuensinya, Non. Kalau non takut, tutup saja matanya. Ndoro Sukmo akan memperlakukan dengan baik."


Aku mengangguk menuruti perkataan Mbok Narmi untuk menutup mata. Aku sebenarnya sangat takut. Dengan tangan gemetar ketakutan, dibantu Mbok Narmi aku melucuti pakaianku satu persatu sampai tak tersisa sehelai benang pun.


"Lemaskan saja badannya, Non."


Sambil membacakan mantra, Mbok Narmi menyirami tubuhku dengan air kembang tujuh rupa yang dia bawa.


Bau kemenyan langsung menusuk hidungku menyeruak ke penjuru ruangan. Bersamaan dengan itu, muncullah dua orang berjubah hitam datang dari arah tangga. Mereka lah pemimpin ritual ini.


Setelah kedatangan keduanya. Beberapa perempuan berkebaya dan lelaki yang memakai blangkon tiba-tiba hadir di ruangan ini. Bukan manusia, melainkan beberapa bangsa dari golongan setan. Wajah mereka semua menyeramkan menatap nanar sambil tersenyum ke arahku yang sekarang sudah terbaring tak memakai apa pun.


Aku mengintip dari celah mata. Melihat wajah menyeramkan mereka, membuatku bertambah ketakutan. Ini kali pertama aku melakukan ritual setelah melakukan perjanjian sebelum menikah dengan Mas Mahesa. Aku bertambah ketakutan apalagi saat mendengar kerasnya mereka membaca mantra. Bahasa mantra itu tidak dimengerti olehku.


Setengah jam ritual berlangsung. Akan tetapi tidak ada keberhasilan. Aku lari saat makhluk yang dipanggil Ndoro Sukmo datang ditengah gumpalan asap kemenyan, mulai meraba seluruh bagian tubuhku. Wujudnya seperti genderuwo. Aku langsung menangis meraung, aku memohon kepada Ndoro Sukmo agar menunda ritual ini sampai aku melahirkan anak pertama.


"Ndoro aku janji akan melaksanakan ritual ini kembali setelah aku diberi keturunan. Aku ingin memilki anak dari Mahesa."


Aku melihat wajah Ndoro Sukmo seperti murka karena aku tak mau melakukan hubungan badan. Setelah memohon sambil menyembahnya, Ndoro Sukmo akhirnya melepaskankanku. Tentunya dengan syarat yang lebih berat dari pertama.


"Baik, Ndoro aku siap melaksanakan perintahnya asal jangan lakukan malam ini."


Aku tetap bersyukur. Berkat kebaikan Ndoro Sukmo, kedua orang yang memakai jubah pemimpin ritual pun tak jadi murka. Mereka berdua malah menyuruh Mbok Narmi agar segera membawaku kembali ke kamar.


"Non Sekar, jangan lupa menaruh serbuk pelet ini di minuman Ndoro Mahesa. Mbok jamin malam ini, Ndoro Mahesa tidak akan menolak sedikit pun." Mbok Narmi menyerahkan sebuah buntalan kecil yang diberikan Ndoro Sukmo tadi, makhluk tinggi besar yang berbulu lebat.


"Terima kasih, Mbok. Aku juga ingin Mahesa melupakan Ayu."


"Ingat, Non. Jangan sampai melanggar pantangan yang diucapkan Ndoro Sukmo tadi. Kalau tidak Ndoro akan murka tak segan-segan mengambil nyawa Non sebagai gantinya."


"Baik, Mbok. Aku akan mewanti-wanti agar tidak melanggarnya."


Setelah mendapatkan serbuk pelet dari tangan Mbok Narmi. Aku kembali ke kamar. Tanpa membuang waktu, aku langsung menaruh serbuk yang diberikan Mbok Narmi di minuman Mas Mahesa dan tentunya menyuruh lelaki itu segera meminumnya. Benar saja, beberapa menit setelahnya, Mas Mahesa seakan takluk kepadaku. Tanpa kupaksa, Mas Mahesa langsung menyerangku dengan penuh nafsu dan gai rah.


Flashback off.


 

__ADS_1


__ADS_2