
POV Kirana.
Beberapa menit setelah bel istirahat berbunyi, tepatnya jam sepuluh siang. Terlihat lalu lalang siswa siswi SMA Pelita Bangsa sedang bersenda gurau sambil makan siang di kantin.
Tetapi tidak dengan aku. Duduk menyendiri di belakang kelas sambil bermain handphone adalah pilihanku. Sebenarnya perutku sudah sangat lapar. Namun, enggan rasanya kakiku menapaki kantin sekolah.
Seperti biasa, aku tutupi sebelah pipi kiri dengan poni yang sengaja dipanjangkan ke samping. Ada alasan kenapa aku menutupinya. Lebih tepatnya karena aku malu, karena terdapat luka bakar yang sangat panjang dan mengerikan di pipi sebelah kiri akibat kebakaran dua bulan lalu. Membuatku merasa tidak percaya diri.
"Dia mengirimi gue pesan."
Ada saja yang membuatku tersenyum saat memainkan jari jemariku di atas pipet handphone. Tepatnya ketika ada pesan masuk yang membuatku menggelitik. Ada seorang lelaki yang sedang mendekatiku lewat dunia maya. Aku pun langsung membalas satu persatu komentar dia di status facebook milikku. Sejak aku pindah ke Cirebon, akan lebih senang menyendiri dan bermain handphone. Lebih senang menjelajah cinta lewat dunia maya dibandingkan dunia nyata.
[Kamu sekolah di pelita bangsa? Kelas berapa? Bisakah kita ketemuan sekarang? Aku sedang ada di kantin.]
Aku membaca pesan yang masuk di messenger facebook. Pesan ini sepertinya dari lelaki yang paling populer di sekolah, yang sudah beberapa hari ini sering wara-wiri di beranda facebook. Tepatnya setelah beberapa menit yang lalu ketika aku meng-upload foto diri di Facebook, dan aku pun baru sadar tadi, kalau logo sekolah di seragamku terlihat di foto.
"Bodoh! Kenapa gue bisa kecolongan? Kalau begini semua orang bisa tahu kebohongan gue selama ini."
Aku mendengus kesal. Aku takut orang-orang tahu kalau wajah aku yang asli dengan fotoku yang di Facebook sangat berbeda jauh.
Di status facebook yang aku upload barusan, aku hanya memperlihatkan wajah sebelah kanan dan separuh tubuh saja. Aku juga memperkenalkan diri kalau masih tinggal di Jakarta bukan di Cirebon.
"Gue lupa kalau akun ini banyak banget anak Pelita Bangsa. Bisa malu banget gue kalau ketahuan."
Namun sayang, sepertinya sudah banyak yang tahu kalau aku bersekolah di Pelita Bangsa sejak aku mengupload foto tadi, yang awalnya aku pikir buat seru-seruan saja di status. Ternyata banyak teman dari pelita bangsa yang membalas di kolom komentar. Tidak hanya satu, melainkan lebih dari satu yang bertanya di kelas berapa dan posisiku di mana sekarang. Rata-rata yang penasaran adalah para lelaki yang berteman denganku di akun Facebook ini, dan mereka kebanyakan dari Pelita Bangsa.
"Oh jadi yang mengaku Ana di Facebook itu kamu! Jadi selama ini kita dibohongi sama gadis buruk rupa ini?"
"Ha ha, buruk rupa ya buruk rupa aja engga usah ditutupin pake poni segala."
"Oh jadi ini yang upload foto cantik di Facebook barusan. Aku kira benar-benar cantik, tahu-tahunya cuman cewek munafik yang menjijikan. Ha ha."
Tiba-tiba, terdengar tawa membahana yang sepertinya pemilik suaranya adalah lelaki dan perempuan. Tepatnya dari arah belakang tempatku duduk. Merasa terganggu, aku pun langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Hah!"
__ADS_1
Alangkah kagetnya aku, ternyata beberapa siswa siswi yang berteriak barusan sudah berjejer berdiri di belakang. Sepertinya sengaja mengintipku dari tadi ketika membalas status.
"Dasar cewek penipu! Pantas saja selalu foto dengan pose sebelah kanan. Ternyata Ana yang ada di Facebook adalah Kirana cewek buruk rupa pindahan dari Jakarta. Ha ... ha ... Aku nyesel udah bilang cantik tadi." Salah satu perempuan diantara mereka tertawa.
"Njir, ternyata kita dikibuli!"
"Jangan gitu dong! Walaupun wajahnya jelek, tapi tubuhnya kan aduhai, ha ha." Siswi perempuan di sebelahnya menambahi.
Sambil tertawa salah satu lelaki itu menyentuh dagu Kirana. "Segini mah lumayan, ***! Buat dibawa ke hotel melati."
Plak!
Ucapan mereka benar-benar keterlaluan. Aku yang tak terima langsung mengangkat telapak tanganku tinggi, kemudian mendaratkan dengan keras ke wajah lelaki yang menyentuh daguku barusan. "Gue ngga ada urusan ama elo semua. Jangan ganggu gue kalau kalian ngga mau dapet masalah!"
"Huu, dasar belagu kamu! Anak baru aja songong!" Salah satu dari mereka menyiram air es di rambutku, "rasakan ini! Balasan karena kamu lancang udah berani nampar temen aku tadi!"
Aku mengusap kasar rambutnya yang basah. Mataku melotot sempurna ke arah mereka. Dari yang kudengar, ketiga murid tersebut terkenal di sekolah tukang membully dan sok jagoan. Seperti sekarang sedang memperlakukanku.
"Kenapa kalian ganggu gue? Salah apa gue ama kalian?" teriakku kencang tak ingin diam saja dibully.
Mereka kembali mendorong dan membuatku tersungkur di tanah. Aku benar marah kali ini karena kelakuan mereka sudah di luar batas. Dengan tangan mengepal kencang ku pegang rumput sambil mengatur napas, memkirkan balasan yang tepat untuk mereka bertiga.
"Jadi maksud Lo, gue harus hormat sama kalian gitu? Kagak usaha gila hormat! Kerena kalian engga pantes dihormati!"
"Belagu!"
"Kita bisa aja maafin kamu sekarang. Asalkan dengan satu syarat!"
Aku mendelik tidak suka ke arah mereka. Ketiga orang itu malah ikut duduk berjongkok di depanku sambil menunjukkan handphone milik salah satu dari mereka. "Kamu foto ce lana da lam yang kamu pakai sekarang dengan handphone ini. Baru kita akan memaafkanmu, dan tak akan menyebarkan berita ini kepada semua siswa."
Aku jelas tak terima lalu meludahi orang yang mengatakan permintaan kotor tersebut kepadaku barusan. "Cuih. Gue engga sudi! Gue bukan cabo!"
"Cewek sialan!" umpat salah satu dari mereka yang berjenis kelamin lelaki. Namun, lebih pantas dikatakan banci menurutku.
Mungkin karena aku meludahi salah satu dari mereka, dua orang lainnya yang perempuan sepertinya tidak terima dan langsung mendorong kepalaku bergantian. "Jangan sok suci, jablay ya jablay aja!"
__ADS_1
Kedua perempuan menarik seragamku dengan paksa, membuat kancingnya terlepas semua. "To ketnya aja besar. Munafik! Uda ngga pe rawan aja sok jual mahal!"
Merasa diperlakukan semena-mena oleh ketiga orang di depanku, amarahku langsung memuncak. Menurutku, bully-an ketiga orang itu sudah keterlaluan dan tak bisa dimaafkan.
Aku tak takut sedikit pun. Aku ambil ponsel milik mereka ke tanah. Lalu dengan gerakan cepat, mengambil garpu yang digunakan untuk memakan bekal ku tusukkan ke ponsel
"Bang ke an jing Lo semua!"
Sudah tak bisa menahan diri, merasa belum puas, aku menancapkan garpu yang aku pegang sekarang ke bahu salah satu dari mereka dengan keras. Dan berhasil membuat perempuan yang ku tusuk tadi tumbang sambil memegangi seragam putihnya yang berlumuran darah.
"Maya!" teriak kedua temannya terkejut.
"Maya!" teriak kedua temannya menolong tubuh perempuan yang kini bersimbah darah di hadapanku.
Melihat lawanku telah tumbang, aku tersenyum puas. Aku tak bergeming bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Tidak! Aku tidak merasa bersalah akan perbuatanku barusan yang benar-benar diluar kendali. Mereka patut diberi pelajaran dan ini tak ada apa-apanya.
"Jangan main-main denganku," kataku kemudian pergi.
Saat itu juga aku langsung berjalan ke dalam kelas, merapihkan buku dan alat sekolahku. Lalu pergi meninggalkan sekolah tanpa pamit l.
"Kirana!" teriak teman sekelasku, "mau ke mana kamu?"
Namun, aku tak menggubris dan terus berlari sekencang mungkin menjauhi kelas. Kebetulan saat itu penjaga sekolah sedang berada di dalam ruang guru. Jadi aku dengan mudahnya pulang melewati gerbang.
***
Aku sampai di rumah Ni Rum tepat jam dua belas kurang sepuluh menit. Aku langsung menuju kamar Mita yang letaknya bersebelahan dengan gudang. Namun saat sampai ke kamarnya, tak ditemukan sahabatku itu. Sepertinya Mita sedang mengadakan kopi darat dengan seorang lelaki yang dikenalnya di Facebook. Kerena dia sering menceritakannya padaku.
Aku tak menemukan siapa pun di rumah ini termasuk Dara dan ibu. Bahkan saat menengok kamar Ni Rum pun tak ada orang sama sekali. Mungkin perempuan sepuh itu biasanya pergi mengantarkan rotan yang barusan dianyam ke pengepul.
"Padahal sepi, tapi kenapa aku merasa di rumah ini sangat ramai?"
...POV Kirana End...
__ADS_1