Bisikan Setan

Bisikan Setan
Bab 7. Sudah Tidak Ada


__ADS_3

Di Rumah Sakit, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Sekarang, aku sudah bekerja dan berada di ruang kerja, seperti biasa aku tengah sibuk berkutat dengan piring dan berbagai makanan pasien.


"Dara," sapa seorang lelaki yang tiba-tiba berdiri di pintu.


"Eum ... kamu?" Aku mengingat lagi kalau aku pernah bertemu dengan lelaki itu, "kamu Damar, bukan?"


Damar menunjukkan senyum manisnya. "Iya, aku Damar. Aku kira kamu tak mengingatnya. Kamu sif sore lagi ya? Oh iya, ini peralatan makan kakekku. Eyang sedang istirahat dan sedang tak ingin diganggu. Daripada nanti kamu tak bisa masuk mengambil alat makan ini ke dalam, lebih baik aku mengantarkannya sendiri langsung ke pantry." 


"Terima kasih ya, Damar. Baru kali ini ada keluarga pasien yang mengantarkan alat makan langsung ke sini," balasku sambil sambil tersenyum meraih alat makan tersebut dari tangan Damar, "iya aku kebagian sif sore lagi. Oh iya, bagaimana kabar kakekmu? Apa dokter masih belum membolehkannya pulang?"


"Belum, walaupun darah tinggi dan gula darah Eyang sudah stabil. Tubuh Eyang masih dalam proses penyembuhan. Paling sekitar tiga hari lagi dokter membolehkan Eyang pulang. Kamu sendiri apa sudah baikkan?"


Aku mengangguk cepat. Perkataan Damar tadi kembali mengingatkanku kejadian waktu pingsan kemarin.


"Aku pikir kamu pingsan karena sedang sakit. Maaf ya sudah mengganggu kerjamu," kata Damar.


Damar berbicara di depan pintu tak berani masuk ke dalam ruang pantry tempat kerjaku. Setiap kali bertemu dengan Damar, entah mengapa degup jantungku mulai tak beraturan. Entah mengapa aku merasa malu apalagi kalau melihat ke wajah Damar.


"Tidak, kok." Aku langsung menggeleng. Aku akui Damar memang tampan. Kulit putih hidup mancung, wajah Damar terlihat seperti blasteran belanda indonesia. Jangankan aku kayaknya cewek lain pun bakalan mengidolakannya apalagi tubuhnya yang tinggi kekar. Benar-benar sempurna idaman wanita.


"Boleh ngga aku minta nomer teleponnya. Kakekku sering aku tinggal di rumah sakit dan aku sulit menghubunginya ...."


'Apa? Baru kenal sudah meminta nomer telepon? Walaupun kamu tampan ... tapi ...'


Aku langsung menghentikan aktivitas. "Kenapa harus nomor teleponku? Bukannya ada nomor telepon rumah sakit?"

__ADS_1


"Yah, tapi teleponnya sering sibuk setiap aku hubungi. Tapi... kalau kamu tidak memberikannya sekarang juga tidak papa. Nanti aku juga bisa mendapatkannya sendiri," kata Damar dengan percaya diri.


"Maksudmu?" Aku sama sekali tak mengerti maksud Damar tadi.


"Aku bisa memintanya kepada petugas gizi yang lain."


"Ehm!" Terdengar deheman dari belakang Damar. Rupanya, Siti partner kerjaku barusan datang. Seperti biasa, ingin membantu pekerjaanku. Dia langsung berjalan masuk melewati Damar. "Permisi," imbuhnya.


"Aku ke kamar eyang dulu, lain waktu aku akan menghubungimu lagi," ucap Damar. Sepertinya, dia merasa tidak nyaman dengan kehadiran Siti. Lelaki itu lalu pergi meninggalkan kami berdua.


"Kamu kenal dia, Ra?" tanya Siti begitu Damar pergi.


"Aku baru kenal kemarin, Mbak." Sambil menjawab, tanganku masih sibuk menaruh beberapa lauk ke dalam Plato dan beberapa piring.


Siti, adalah salah satu teman akrabku di rumah sakit. Selain umur kami yang tidak beda jauh, Siti memang sangat ramah. Berbeda dengan senior lainnya yang kebanyakan jutek.


"Suka bagaimana? Kita kan baru berkenalan kemarin." Aku berusaha agar tidak gede rasa di depan Siti.


"Ya, sapa tau aja, Ra. Kalau kita dapat pacar orang kaya kan sapa tau berjodoh, jadi kita tak perlu repot-repot bekerja seperti ini."


"Ah, Mbak! Sudahlah, jangan mimpi ketinggian. Aku antar makanan ini dulu ya ke bangsal dua belas, ya Mbak. Tinggal satu lagi. Oh, iya sisa makanannya sudah Dara simpan di dalam rak," kataku.


Siti mengangguk. Dia lalu meneruskan pekerjaanku yang belum selesai yaitu merapihkan sisa makanan dan merapihkan bekas aku tadi menata makanan.


***

__ADS_1


Tok,tok, tok.


Aku mengetuk pintu seperti biasa sebelum memasuki ruangan pasien. Setelah itu barulah aku memberanikan diri membuka kamar pelan.


"Selamat sore Nyonya Wika," sapaku menyapa nama pasien tersebut.


Aku melihat seorang wanita yang sedang duduk memunggungi, menghadap ke arah jendela. Dia adalah Ibu Wika yang sudah di rawat enam hari karena penyakit di lambungnya.


Aku melihat ke sekeliling, tidak biasanya bangsal ibu Wika sepi, setiap hari pasti ada suami atau saudaranya yang selalu menunggui untuk membantunya ke kamar mandi atau menyuapinya makan. Tetapi sekarang tak ada sama sekali.


"Makan sorenya, Nyonya. Semoga cepat sembuh," kataku sambil menaruh nampan berisi makanan di meja pasien.


"Bawa lagi makanannya, aku sudah pulang," ucap wanita itu.


"Tidak papa, Bu. Makan saja dulu sebelum pulang." Aku yang hendak pergi menghentikan langkah kemudian berbalik. Aku pikir Ibu Wika memang sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.


"Sudah ku bilang bawa makanan itu. Aku sudah sembuh dan tak mau memakannya lagi." Ibu Wika langsung menoleh, melotot tajam ke arahku.


Sontak, aku yang melihatnya langsung kaget. Di detik itu juga aku langsung mengambil nampan berisi makanan lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Aku tidak mau berselisih dengan pasien soal makanan, kalau ketahuan bermasalah bisa dipecat aku nanti. "Permisi, Bu. Aku ambil lagi yah."


Aku kembali berjalan menuju ruang pantry. Sudah dua kali ada pasien yang menolak makanan yang kuantar. Yang pertama saat itu kata pasien, karena makanannya yang membosankan dan yang kedua adalah penolakan dari Ibu Wika seperti sekarang. Menurutku itu adalah hal biasa, karena senior lain pun pernah merasakannya.


"Dara, maaf aku baru ingat!" Siti yang ada di dalam ruangan mendekati tiba-tiba mendekatiku. "tadi suster Ana bilang pasien di bangsal 12 sudah tidak ada."


"Sudah tidak ada? Maksud mba?" tanyaku kaget.

__ADS_1


__ADS_2