
"Maksud, Mba?"
"Iya, Ibu Wika yang di bangsal 12 sudah meninggal satu jam yang lalu. Maaf, aku lupa mengatakannya Dara. Oh, iya, di lantai satu ada pasien baru. Mba, mau ke bawah dulu ya," ucap Mba Siti.
"Jadi, yang barusan aku temui itu ...."
Aku memegang tengkuk yang sudah mulai merinding. Mba Siti yang ada di depan terlihat mengerutkan kening menunggu perkataanku selanjutnya yang terputus. "Barusan apa, Dara?" tanyanya.
Sebenarnya aku ingin bercerita kepada Mba Siti, namun karena Mba Siti penakut, aku tak jadi memberitahukannya. "Ah' tidak apa-apa kok mba, terima kasih ya sudah membantuku," balasku.
Karena pasien baru sudah memasuki ruangan, Mba Siti meninggalkanku di ruangan pantry lantai dua sendirian.
Pukul 18.30
Seperti biasa, setiap kali selesai membagikan makanan, aku berkeliling ruangan lagi mengambil alat makan yang digunakan pasien setelah makan. Semuanya sudah bisa diambil, namun ada beberapa makanan yang belum tersentuh. Otomatis aku tak bisa mengambil alat makan itu, sebelum pasien memakan separuh atau menghabiskan makanan yang kuantar.
__ADS_1
Sekali lagi aku dibuat merinding kembali ketika melewati bekas bangsal Bu Wika. Ya, mau tak mau aku harus melewatinya lantaran harus mengambil alat makan di bangsal lima belas.
"Kenapa suasananya jadi anyep begini si?"
Karena petugas kebersihan sedang sibuk membersihkan kamar lain. Kamar bekas Bu Wika masih dibiarkan terbengkalai, tertutup rapat dan belum dibersihkan. Aku juga baru ingat, harus mengambil sisa cangkir dan beberapa alat yang tersisa yang dipinjam di ruangan itu. Namun, nyaliku ciut untuk memasukinya lagi. Dan memutuskan terus berjalan sangat cepat melewati bangsal dua belas.
Saat aku baru melewati beberapa ruangan, aku bertemu dengan seorang lelaki tua berpeci hitam dan berjanggut tipis. Meskipun tak mengenalnya aku tahu kalau lelaki itu adalah petugas rumah sakit. Setiap kali bertemu, lelaki itu selalu memperhatikanku hampir tak berkedip. Entah apa yang ada dipikiran lelaki tua itu, yang jelas aku enggan menyapanya karena tatapannya begitu misterius dan menakutkan.
"Kamu ponakannya Asih, bukan?" tanya lelaki itu tiba-tiba.
"Iya, Pak. Namaku, Dara. ponakan Bi Asih dari Jakarta."
Yang ada di pikiran aku sebelumnya, Pak Samsul itu sangat galak karena selalu menunjukkan tatapan yang tajam. Terlebih profesi Pak Samsul sebagai pemandi jenazah membuat auranya sedikit menakutkan. Tetapi ternyata dugaanku salah. Pak Samsul ternyata berperilaku baik dan ramah.
"Terima kasih, Pak. Tadi Dara juga mau ngambil, tapi takut."
__ADS_1
"Nanti Neng juga lama-lama terbiasa. Dulu, waktu bapak baru bekerja di sini juga sempat merasa takut," kata Pak Samsul.
"Maksud bapak apa ya?"
"Tidak ada maksud apa-apa. Bapak cuman sarankan supaya Neng lebih berhati-hati lagi. Ada banyak aura jahat yang sedang mengintai diri Neng Dara." Perkataan Pak Samsul membuatku bertanya-tanya.
"Apa bapak sering melihat mahluk tak kasat mata di rumah sakit ini?"
Pertanyaanku langsung dibalas anggukan oleh Pak Samsul.
"Berarti rumah sakit ini menyeramkan?"
Pak Samsul kembali mengangguk dan tersenyum. "Semua rumah sakit pasti ada penghuninya. Tetapi bukan itu yang menyebabakan menyeramkan. Ada rahasia yang tidak Neng tahu, dan itu lebih menyeramkan dari melihat mahluk tak kasat mata." Perkataan Pak Samsul sangat pelan, membuatku harus mendekatkan telinga agar bisa mendengar dengan jelas.
"Rahasia apa, Pak?" Aku semakin penasaran.
__ADS_1
"Nanti bapak bicarakan lain waktu. Permisi, bapak ingin kembali bekerja dulu. Ada mayat yang harus dimandikan."
Ketika sedang berbicara dengan Pak Samsul, aku tak sengaja melihat sepasang mata sedang memperhatikan kita dari jauh. Siapa dia, aku tak mengenalnya. Yang jelas dia langsung pergi begitu aku melihat balik.