
POV. Sekar
Namaku Sekar. Rambutku sangat panjang dan sengaja kubiarkan terurai sepanjang hari. Banyak yang mengatakan wajahku ayu. Sangat manis katanya saat aku tersenyum. Senyuman yang kubuat gamang dan sangat pias. Kadang aku ingin tertawa sendiri merasa ada saja sesuatu yang membuatku Lucu, kadang ingin marah sendiri, bahkan kadang ingin menangis. Semua gara-gara kelakuan kemuning.
Merajut kain adalah salah satu hobiku. Sejak kecil, aku tinggal di panti asuhan yang ada di kota udang, kata penjaga panti si sekitar umur tiga tahunan. Sangat kecil kan? Sudah pasti. Aku bahkan tidak pernah mengenal siapa orang tuaku yang kabarnya sudah meninggalkan kota ini sejak aku dilahirkan. Bisa dikatakan aku adalah anak buangan.
Aku terbiasa sendiri, kalau pun berteman hanya dengan teman-teman satu panti saja. Itu pun kebanyakan berantem gara-gara rebutan makanan. Mengingat kain tenun, membuatku teringat Mahesa. Tepatnya ketika kami berusia remaja, aku bertemu dengan Mahesa ayah dari anak-anakku itu di sebuah pertunjukan tari topeng dekat balai desa.
Yah, aku sangat menyukai pertunjukan tari topeng di desaku. Alasan utamanya karena ada Mahesa. Saat itu Mahesa sendiri sebagai seorang penabuh gendang yang masih muda. Umur kami hanya terpaut beberapa bulan. Pesona Mahesa mampu menarik perhatian banyak gadis, dan tentu saja aku yang dibuat jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Kemuning kamu belum tidur? Mau ditimang-timang, Nak?"
__ADS_1
Sambil melamun mengingat kembali pertemuanku dengan Mahesa, aku melihat Kemuning anakku belum tidur. Dia malah tersenyum-senyum kepadaku seolah menggoda.
"Nok ayu, sabar ya. Sebentar lagi ibu akan merubah dan menyelesaikan kain ini menjadi baju untukmu. Kamu engga bakalan kedinginan lagi setelah ini, Nok ayu."
Seperti biasa Kemuning aku dudukkan di kursi rotan berwarna merah yang dari awal ada di kamarku. Kemuning langsung mengangguk setuju setelah aku mengusap pucuk kepalanya.
"Tapi kenapa akhir-akhir ini kamu berubah, Nok? Kenapa kamu menjadi menyeramkan dan ingin menyakitiku dan Dara? Apa salah Dara?"
Ditanya seperti barusan, tiba-tiba saja ekspresi wajah Kemuning langsung berubah seketika. Entah apa yang bisa membuatnya langsung berubah hanya dalam hitungan detik? Setelah marah dia tersenyum menunjukkan seolah sedang marah. Pikirku, dia ingin digendong. Langsung saja kuraih dan kududukkan di pangkuan.
Tak ingin Kemuning menyakiti anakku. Saat itu juga, aku meraih pisau yang ada di sebelah. Lalu menusuk-nusukkan pisau itu di dada Kemuning agar dia mau diam.
__ADS_1
"Diam, Nok. Diam! Jangan terus ganggu Dara!"
Terlalu semangat mengkoyak Kemuning, tanpa sadar pisau itu mengenai rok yang ku pakai dan membuat pahaku ikut tersayat dan berdarah. Ku hiraukan rasa sakitnya, terus mencabik kemuning sampai dia benar-benar hancur karena kali ini aku tak peduli.
"Kamu harus hancur Kemuning! Kamu pantas mati! Ha, ha ...."
Beberapa sayatan yang mengenai pahaku membuat darah terus menetes hingga ke lantai. Tetapi aku tak bergeming sambil terus menahan rasa sakit yang sangat perih.
"Tidak sebanding dengan apa yang aku alami! Mati saja kamu, Nok!"
"Ibu! Apa yang ibu lakukan?" teriak Dara membuka pintu kamarku tiba-tiba.
__ADS_1
"Berhenti, Bu. Paga Ibu berdarah," teriak Dara lagi menghentikan aktivitasku mencabik Kemuning.
POV. Sekar End