
POV. Mita
Saat kain yang berbentuk dua gunungan sudah terlepas, aku mulai merasakan sentuhan itu semakin menjalar ke seluruh tubuh terutama area sensitif milikku. Semenjak tak memiliki pacar, aku sudah tak merasakan kehangatan lelaki lagi. Hampir tiga bulan lamanya, tepatnya ketika aku putus dengan pacarku yang seorang blasteran belanda.
Sentuhan yang dirasakan aku kali ini, hampir sama yang dilakukan pacarku dulu. Aku sangat menikmati karena rasanya sangat enak sekali. Namun tetap saja dalam hatiku bertanya, sebenarnya siapa yang memegangku? Tidak mungkin Alex mantanku dulu, bukan?
Karena penasaran, aku menengok ke belakang.
"Kenapa aku merasa kamu ada di sebelahku, Lex. Ah' apa mungkin karena aku terlalu merindukanmu."
Aku akui memang sedang merindukan Alex, mantan pacarku yg blasteran itu. Semenjak putus dengannya, menurutku tak ada lagi lelaki lain sehebat Alex yang selalu membuatnya berbunga-bunga, terutama saat berada di atas ran jang. Dia bisa membuatku ingin menambah lagi dan lagi.
Mungkin hanya perasaanku saja.
__ADS_1
Aku mulai mengguyur tubuhku menggunakan gayung yang kuisi air. Menyiramnya beberapa kali dari rambut hingga tubuhku basah menyeluruh. Setelah membubuhi sampo di rambutku yang panjang. Aku mulai membalurkan tubuhku dengan sabun cair, kemudian mengusapnya pelan agar busanya semakin banyak. Aroma sabun ini mampu merilekskan tubuhku.
Entah mengapa aku merasa ada seseorang yang membantuku mengusapkan sabun di punggung. Lagi-lagi aku bertanya siapa pelakunya, mungkinkah orang yang sama? Entahlah, tapi kali ini aku tak peduli. Karena lambat laun aku pun ikut menikmatinya.
"Ternyata aku belum mencuci pembalut dan sem pakku."
Aku mulai sadar lagi saat melihat kain segitiga pengamanku, tergeletak begitu saja di lantai kamar mandi. Aku baru ingat kalau harusnya membersihan bekas darah haidku dulu sebelum mandi.
Sudah hari ketiga aku kedatangan tamu bulanan, hari ini sedang keluar banyak-banyaknya bahkan sampai tembus ke celana jeans yang kupakai tadi, Aku baru ingat kalau belum menggantinya semenjak baru turun dari kereta jam empat pagi tadi.
"Sudahlah, aku bersihkan saja darahnya tak usah diberi sabun lagi."
Karena tak ada sabun, aku menyiramkan air dan memeras darah di pembalut itu asal. Setelahnya, memasukkan bekas pembalutnya ke wadah plastik bekas pembungkus, lalu menaruhnya begitu saja di ujung kamar mandi.
__ADS_1
"Kalau kaya gini kan aman."
Lambat laun sentuhan tangan yang kurasakan tadi menghilang dengan sendirinya. Namun kali ini, aku seperti mendengar ada suara kecapan mulut. Seperti orang yang sedang makan dengan rakus, arahnya tepat di pojokan tempatku menaruh pembalut tadi. Aku diam beberapa detik.
Ah' gue lupa kalau sejam lagi ada pertemuan dengan cowok sini. Sebaiknya aku percepat saja mandinya, lain waktu saja lulurannya.
Beberapa kali guyuran berhasil melemaskan otot-ototku yang dari tadi meregang. Rasanya belum puas karena hasratku belum aku lepaskan. Aku mempercepat acara mandi, begitu teringat kalau sejam lagi aku sudah ada janji ketemuan dengan pemuda asal kota udang.
"Gue kan ke sini mau nemuin Fahmi. Untung saja Kirana mau nampung gue di sini. Moga aja berawal dari Facebook kita bisa berakhir di pelaminan ya Mi. Ah, gue engga sabar pengen kencan ama elo di hotel."
Aku beranjak ke luar dari kamar mandi. Namun, lagi-lagi seperti ada sesuatu lagi yang Menyentuhku dan menarik handukku hingga terlepas.
"Aaargggh!"
__ADS_1