
"Kesehatan Ibu Sekar tambah menurun. Pasien belum diperbolehkan pulang," kata Dokter Tika kepada suster Wina sambil berjalan keluar dari bangsal.
Pagi ini padahal aku berharap agar ibu diperbolehkan pulang. Tapi melihat kondisi ibu yang semakin buruk, Dokter Tika pun menyarankan untuk dirawat lagi beberapa hari sampai kondisi ibu kembali pulih.
"Tenang saja, Bu. Dara enggak akan pulang. Dara akan menjaga Ibu sambil bekerja. Dara juga sudah menghubungi Kirana agar bisa bergantian menjaga ibu," kataku kepada Ibu yang sedang duduk melamun menghadap ke luar jendela.
Entah apa yang ibu pikirkan kali ini. Tatapannya begitu gamang. Aku ajak bicara pun tak menoleh apalagi menjawab. Bahkan bubur sop ayam yang sudah kubeli di depan rumah sakit subuh tadi, tak masuk sedikit pun ke mulut ibu, untung ada cairan infus yang menggantikan nutrisi untuk ibu agar tidak lemas.
"Kalau ibu ingin buang air kecil atau besar, bilang sama Dara, ya. Biar Dara antar. Dara tinggal sebentar ingin mengambil obat dulu di ruang jaga," kataku lagi.
Namun tetap ibu tak menjawab. Ibu malah memegangi rambutnya seakan sangat frustrasi dengan keadaannya.
"Dara," panggil Bi Asih saat aku baru berjalan beberapa langkah menjauhi bangsal ibu. Terlihat dia sedang mendorong troli pakaian kotor yang akan dia cuci seperti biasanya, "ibumu dirawat? Apa dia sudah baikan?"
Aku mengangguk, kemudian mengatakan apa masalahnya yang membuat ibu harus dirawat. Aku juga mengatakan kepada Bi Asih agar menyuruh Kirana datang. Kalau pun tak ikut menjaga, setidaknya menjenguknya saja itu sudah cukup agar kondisi ibu semakin baik.
"Nanti, Bibi sampaikan," jawab Bi Asih.
Sebelum Bibi beranjak ke ruangan kerjanya lagi. Aku mendekatinya cukup dekat, mengutarakan apa yang mengganjal di pikiranku kali ini meskipun sedikit malu.
"Bi, Dara boleh engga minjem uang untuk biaya ibu dirawat? Nanti kalau Dara sudah gajian, Dara akan cicil."
Bi Asih diam sejenak sambil melihatku sambil tersenyum. Tak lama Bi Asih mengangguk pelan membuatku bisa bernapas lega. Sebenarnya sangat malu, karena sudah berulang kali Bi Asih selalu membantu keuangan kami. Kalau dihitung sudah puluhan juta aku berhutang kepada Bi Asih dan baru bisa mencicil beberapa ratus ribu saja.
"Kalau tidak cukup, nanti bibi ambil lagi di rumah. Kebetulan Bibi cuman bawa uang segitu di kantong," kata Bi Asih sambil menyodorkan uang seratus ribuan sejumlah 20 lembar kepadaku.
"Terima kasih, Bi. Semoga bisa cukup karena kata Mbak Siti ada potongan diskon bagi keluarga karyawan yang kurang mampu."
__ADS_1
"Kalau kurang, nanti bibi tambahin. Bibi akan antar ke sini nanti malam kalau sempat."
Bi Asih meneruskan lagi mendorong trolinya. Wanita yang belum sekali pun menikah tersebut bak dewi penolong bagi keluarga kami. Bi Asih selalu royal kepada kami. Tak sekali pun dia menagih hutang, malah kadang aku diberi sejumlah uang setiap bulannya. Entah dari mana dia bisa memiliki uang sebanyak itu setiap bulannya. Padahal kalau dilihat dari gajinya saja sangat kecil. Tapi pikiran itu segera ku tepis, ya mungkin saja Bi Asih memang punya tabungan atau uang lebih dari tempat lain. Bisa saja 'kan apalagi dia masih hidup seorang diri.
***
Malam ini pukul sepuluh malam, harusnya aku sudah pulang ke rumah karena jam kerjaku telah habis. Tapi karena ibu dirawat, aku terpaksa kembali tidur di sini.
Suasana rumah sakit seperti biasa akan hening saat malam begini. Apalagi di bangsal tempat ibu. Harusnya kalau penuh bisa memuat lima atau enam pasien dalam satu ruangan, sayangnya di bangsal yang akan aku buka ini hanya ada satu pasien, yaitu ibuku sendiri.
"Semoga ibu sudah tidur agar aku bisa beristirahat sebentar."
Baru saja memegang daun pintu, aku menengok ke bawah saat aku merasa kakiku seperti menginjak sesuatu yang mengganjal.
Boneka ini seperti Kemuning. Kalau iya, kenapa tiba-tiba ada di sini? Siapa yang menaruh dan membawanya ke sini?
Sudah pastinya aku kaget. Aku ambil boneka tersebut dan berharap bukan boneka milik ibuku yang biasa ibu panggil Kemuning. Aku berharap boneka itu hanya mirip dan punya penunggu pasien yang tertinggal di depan pintu.
Aku langsung buang boneka Kemuning ke tong sampah. Aku tak ingin gara-gara boneka ini, ibu depresi lagi. Yah, aku yakin itu boneka kemuning. Meskipun ada banyak jenis model boneka seperti ini di toko mainan, aku yakin boneka itu milik ibuku. Ada jahitan di muka dan di tubuhnya, ini pasti bekas ibu menusuknya kemarin dan telah diperbaiki.
Srekkk!
Baru saja melempar boneka Kemuning, aku mendengar suara gesekan kursi tunggu pasien di depan ruangan seperti bergeser. Suaranya sangat keras saat bergesekan dengan keramik. Padahal tak ada orang di sini. Tapi kenapa kursinya bisa bergeser sendiri?
"Sebaiknya aku masuk saja ke dalam." Aku semakin merinding, karena bersamaan dengan itu tiba-tiba aku merasakan angin lembut seperti menerpa tengkukku.
Baru saja memegang daun pintu lagi, aku merasa sebuah tangan dengan sangat lembut menyentuh pundakku. Aku terpaku sejenak di depan pintu beberapa detik belum berani menoleh.
__ADS_1
"Dara, kamu sudah mengambil peralatan minum di ruang ICU? Sebentar lagi ada dokter jaga malam, engga enak kalau ruang ICU berantakan karena gelas kotor."
Rupanya tangan tadi yang menyentuhku milik suster jaga di ruang ICU. Aku pikir setan yang menggangguku lagi.
"Suster ngagetin aja!" jawabku sambil memegang dada, "tadi sudah aku ambil, Sus. Kalau ada perlu apa-apa, aku juga sudah siapkan air panas dan beberapa kue di ruang pantry. Suster bisa ambil saja nanti malam kalau perlu."
"Makasi ya, Dara."
Aku mengangguk pelan, kemudian masuk setelah suster jaga pergi.
"Ibu ... Dara pulang."
Aku menaruh beberapa kue yang dikasih dari penunggu pasien lain yang berbaik hati ke nakas ibu.
Di ruangan itu hanya ada satu tempat tidur yang terisi, empat lainnya kosong dibiarkan tanpa sprei. Lumayan juga buatku tidur nanti. Pikirku dalam hati.
"Ibu sudah tidur, sebaiknya aku membersihkan diri dulu. Huft ... melelahkan sekali hari ini."
***
Setengah jam sudah aku selesai berganti baju dan membersihkan diri di kamar mandi di kamar pasien. Beberapa basuhan air ke muka membuatku cukup segar kembali meskipun tak mandi.
"Ada siapa di tempat tidur ibu? Sepertinya ada banyak orang di sana?"
Baru saja masuk ke bangsal lagi, aku melihat hordeng pemisah pasien sudah menutupi rapat tempat tidur ibu. Aneh, mungkinkah ibu yang menutupnya? Setahuku tadi ibu tidur pulas.
Mungkin suster yang menutupnya, batinku lagi setelah melihat dari tempatku berdiri ada bayangan orang di dalam sana, terlihat dari hordengnya.
__ADS_1
Srek!
"Kenapa tidak ada siapa pun di sini? Bukankah tadi aku melihat ada bayangan orang? Ibu, di mana ibuku?"