Bisikan Setan

Bisikan Setan
Bab 21. Bima


__ADS_3

"Ada apa, Pak?" tanyaku seraya menengok ke arah luar.


"Tidak apa, Neng. Hanya gangguan dari luar saja."


"Gimana kelanjutannya, Pak? Apa Mang Udin benar bersekutu dengan setan?"


Pak Samsul meminum tehnya, kemudian kembali meneruskan bercerita. Menceritakan panjang lebar mengenai Mang Udin. Ternyata demi mendapatkan uang untuk kesembuhan anaknya, Mang Udin rela bersekutu dengan setan dan menjadi pengikutnya.


Tidak hanya menumbalkan istri ke dua dan anak tirinya. Mang Udin yang sudah melanggar perjanjian dengan setan, tak sengaja menumbalkan anak yang sedang dikandung istri terakhirnya.


"Mang udin menyesal menjadi pengikut setan setelah anak yang ada dikandungan istri terakhirnya juga menjadi tumbal. Dia pernah bercerita kepada bapak ketika Mang Udin masih dalam kondisi koma di rumah sakit. Katanya, dia tak mau Ani menjadi korban dan pengikut selanjutnya, dia lebih memilih mempertaruhkan nyawanya sebagai tumbal terakhir."


"Jadi bapak berbicara dengan roh Mang Udin yang sedang koma? Berarti selama tujuh hari terakhir ini, aku juga berbicara dengan roh Mang Udin yang sedang koma?" tanyaku semakin penasaran.


Pak Samsul mengangguk. "Ya, akibat kecelakaan angkot yang dikendarainya empat puluh hari yang lalu. Mang Udin mengalami stroke dan tujuh hari yang lalu dia dalam keadaan koma."


Aku mendadak diam sambil mengingat kembali saat berbicara dengan Mang Udin tujuh hari kemarin. "Ini mustahil, Pak. Bagaimana mungkin aku bisa menaiki mobil yang dikendarai roh gentayangan? Kalau itu semua gaib, lalu aku menaiki apa?"


Pak Samsul terkekeh mendengar ucapanku, dia bercerita kalau dia sendiri sebenarnya sering melihat saat aku pulang berjalan menuju rumahku. Dalam penglihatan orang awam, kata Pak Samsul, aku sedang berjalan sambil berbicara sendiri bukan sedang menaiki angkot. Tetapi tidak dengan penglihatan Pak Samsul sendiri, menurutnya apa yang dikatakan aku itu benar sedang menaiki angkot gaib.


"Semua ini diluar nalar, Neng. Bapak tidak bisa menjelaskannya dengan logika. Bukankah, semenjak kecelakaan itu Mang Udin di rawat di rumah sakit tempat kita bekerja? Kenapa kamu tidak tahu kalau Mang Udin sedang koma?" tanya Pak Samsul.


Aky menggeleng. "Aku tidak tahu siapa nama asli Mang Udin. Lagipula, pasien yang berada di HCU jarang sekali diberi makanan, ada juga sesekali hanya meminta minuman nutrisi pengganti makanan."


"Oh, iya. Bapak lupa kalau pasien koma tak diberi makanan, makanya kamu tak tahu kalau Mang Udin di rawat di tempat kita bekerja." Tambah Pak Samsul lagi.

__ADS_1


Aku masih mencerna penjelasan dari Pak Samsul. Ya, aku teringat kalau kemarin sempat melihat Mang Udin berkeliaran di rumah sakit. Tetapi, waktu itu aku tak menduga kalau Mang Udin sedang dirawat di rumah sakit, pantas saja saat melihat Ani tadi, nampak tak asing bagiku, karena merasa familier sering wara-wari di rumah sakit.


"Perjanjian apa yang dilakukan Mang Udin dengan setan? Apa berkaitan dengan mimpiku semalam?" tiba-tiba aku melontarkan pertanyaan yang membuat Pak Samsul kaget dari ekspresinya.


Pak Samsul mendadak diam. Bukan dia tak mengetahui, sepertinya hanya saja dia takut salah dalam berucap. Pak Samsul menyalakan sebatang rokok yang dari tadi sudah ditaruhnya di atas meja. Sambil menyesapnya dia sandarkan tubuhnya di kursi rotan. "Bapak tidak tahu," jawabnya ringan seraya mengembuskan asap rokoknya ke udara.


Tentu jawaban Pak Samsul membuat aku tak percaya. Di saat keheningan membentang di antara kami. Terdengar ketukan dari luar pintu.


Tok, tok, tok.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum'salam," jawabku dan Pak Samsul berbarengan.


"Baru pulang, Nak?" tanya Pak Samsul.


Aku menatap lelaki itu saksama. Aku yakin kalau dugaanku benar, kalau lelaki yang baru datang ini adalah orang yang sama.


"Kenalkan, ini adalah anak angkat bapak, namanya Bima." Pak Samsul berdiri lalu memperkenalkan lelaki muda di sebelahnya.


Lelaki itu tersenyum sangat manis. Dari gelagatnya, kelas dia sudah lebih dulu tahu siapa aku.


Bukankah dia lelaki yang berpakaian lusuh dan kumal itu? Dia yang melempar batu di angkot Mang Udin. Bukankah dia gila? Aku terus membatin di dalam hati.


"Kamu lelaki yang kemarin melempar batu ke angkot Mang Udin kan? Kamu kenapa di sini?"

__ADS_1


"Tidak lah, Neng. Bima ini anak angkat bapak," kata Pak Samsul.


Aku mendelik semakin tak percaya. Kemudian Bima duduk di dekat Pak Samsul. Tampilan kali ini memang berbeda dari sebelumnya. Dia tampak lebih bersih dan tentunya seperti lelaki muda pada umumnya.


"Wajar memang aku sering dianggap gila oleh orang lain. Banyak orang yang menganggap sikap aku yang nyeleneh sering dianggap aneh dan tabu. Sering memakai pakaian Kumal dan berkeliaran di kampung. Tapi sebenarnya tidak seperti itu," kata Bima sambil tersenyum seakan tahu aku ingin bertanya apa. Ternyata dia cukup ramah.


Aku pun tersenyum ragu-ragu sambil meminum habis teh yang dibuat Bi Rumi.


"Neng, Bima tidak gila. Hanya saja perilakunya yang sedikit aneh. Bima juga yang memberitahukan bapak waktu kamu menaiki angkot Mang Udin. Padahal waktu itu, Bima sengaja melempar batu ke arah Neng agar bisa sadar."


"Kenapa tidak bicara sebenarnya saja kalau waktu itu aku berbicara dengan mahluk gaib?"


"Banyak sekali demit yang mengelilingi angkot waktu itu. Sayangnya, Neng Dara belum memahaminya," kata Pak Samsul.


Jelas aku masih tak mempercayai kalau Bima adalah lelaki yang normal. Melihat perilakunya yang menertawaiku waktu itu. Aku tetap menganggap Bima adalah lelaki gila.


Tiga puluh menit berbincang akhirnya aku putuskan untuk pamit pulang. Aku teringat dengan Ibu dan Mita, takutnya mereka lapar karena aku belum masak.


"Yasudah, Pak. Terima kasih penjelasannya. Sepertinya sudah terlalu siang aku berada di sini. Aku pamit pulang, Pak. Takut ibu mencariku."


Pak Samsul mengangguk. Saat itu juga Bi Rumi yang ada di belakang ke ruang tamu menyalamiku yang ingin pulang. Dengan ragu-ragu akan pun ikut menyalami Bima.


"Bima, tolong antar Neng Dara ke depan ya," kata Pak Samsul kepada Bima.


Bima pun mengangguk. Dia sangat ramah apalagi menawarkan ingin mengantarkan aku menggunakan sepeda motor. Tapi aku menolak dengan alasan tidak enak dan tak mau merepotkan.

__ADS_1


"Jadi kamu engga gila?"


"Ya, engga lah. Orang gila mana bisa bawa motor. Jadi gimana mau diantar atau engga?" Lagi-lagi Bima tersenyum menunjukkan gigi gingsulnya.


__ADS_2