Bisikan Setan

Bisikan Setan
Bab 26. Bertemu Eyang Wiryo


__ADS_3

"Kamu belum pulang? Masih menunggu kakekmu?" Aku mencoba mencairkan suasana agar tidak canggung.


 "Ya, dokter baru boleh mengizinkan kakekku pulang besok," jawab Damar


Saat kami mengobrol berdua. Suster Wina datang mendorong kursi roda bekas diduduki ibu. "Dara, ibumu sudah ada di ruangan. Jangan lupa suruh ibumu meminum obat setelah makan nanti ya. Aku sudah menaruhnya di atas nakas," kata Suster Wina berpesan kepadaku.


"Terima kasih, Sus."


"Ibumu dirawat di sini?" tanya Damar ketika Suster Wina berlalu.


"Ya, di bangsal tiga belas."


"Wah kebetulan sekali kakekku ada di bangsal tujuh belas. Aku juga hendak menemui kakekku di kamarnya, sudah waktunya eyang makan siang," kata Damar.


Karena searah, kami putuskan berjalan bersama-sama menuju lantai dua. Kebetulan bangsal 17 adalah bangsal paviliun yang letaknya paling ujung searah dengan bangsal 13.


"Kamu sudah makan siang? Kalau belum, mau engga aku ajak makan di kafe. Sekalian nemenin aku makan," ajak Damar.


"Eum ... lain waktu saja ya. Aku harus mengurus ibuku dulu."


"Ok, engga papa. Semoga ibumu cepat sembuh ya," kata Damar sambil menunjukkan senyumannya.


"Makasi ya ... Mas," jawabku sedikit malu.


"Makasi untuk apa?" Damar malah bertanya balik membuatku sedikit salah tingkah.


"Ya, makasi aja tadi kan Mas sudah mendoakan ibuku."


Aku terus menunduk rasanya enggan membalas balik tatapan mata Mas Damar. Yah, rasanya lebih sopan kalau panggil dia dengan sebutan 'Mas' agar kesannya lebih sopan.


"Ooh, eum ... yah," kata Mas Damar. Kenapa setiap kali dia tersenyum membuatku salah tingkah. Rasanya ingin sekali bersembunyi ke Goa Sunyaragi.


Ketika kami baru sampai di lantai dua, kebetulan kami berpapasan dengan kakek Damar yang sedang duduk di kursi roda di dampingi oleh seorang asisten rumah tangga. Kata Damar, mungkin kakeknya terlalu bosan berada terus di dalam kamar, sehingga dia menyuruh asistennya agar menemani duduk di depan paviliun.

__ADS_1


"Mas Damar, tadi eyang bosan berada di dalam. Katanya ingin menghirup udara segar di paviliun," kata asisten rumah tangga Damar sesuai dugaannya.


"Iya ngga papa. Eyang sudah makan?" tanya Damar.


 "Tadi bibi sudah menyuapi eyang dengan bubur sop ayam beli di depan, Mas Damar. Katanya bosen masakan rumah sakit."


"Iya engga papa. Terima kasih ya, Bi. Nanti Damar saja yang mendorong kursi roda eyang sampai dalam."


"Dara kenalkan kakek aku. Panggil saja Eyang Wiryo," kata Mas Damar memperkenalkan padaku.


Lelaki tua yang kini sedang duduk di kursi roda itu berperawakan kurus dengan rambut hampir sepenuhnya memutih. Sedangkan kepala bagian depannya sedikit botak. Sehingga untuk menutupi bagian tengah kepalanya, selalu menutupinya dengan blangkon. Terlihat tadi saat Damar membukanya.


Eyang Wiryo duduk santai di atas kursi rodanya sambil memperhatikanku. Wajahnya datar. Aku tersenyum menyapa Eyang Wiryo.


"Kenalkan ini teman Damar, Eyang. Namanya Dara," ucap Damar kepada Eyangnya.


Sebenarnya, aku sudah tahu nama kakek Damar dari buku diit. Pernah sesekali bertemu saat aku mengantar makanan di pantry paviliun. Itu pun hanya melihat ketika Eyang hendak ke kamar mandi saja. Karena bangsal paviliun tak boleh dimasuki sembarang orang, termasuk petugas pantry seperti aku.


Baru kali inilah aku melihat di depan mata secara langsung, Eyang Wiryo yang dikabarkan teman-temanku sangat loyal dalam memberi uang tips. Termasuk kepada kami setiap selesai mengantarkan makanan.


Eyang Wiryo akhirnya membalas tersenyum sambil memanggutkan kepalanya. Dari raut wajahnya, Eyang Wiryo terlihat ramah.


Damar mendekati Eyang Wiryo. Tampak dia sedikit berbisik di telinga kakeknya. Entah apa yang mereka bicarakan, rasanya tidak enak sekali kalau aku ikut menguping.


"Wajahmu ayu, Nok." Eyang Wiryo tiba-tiba memujiku, "sangat pantas kalau disandingkan dengan Damar di pelaminan."


Ucapan Eyang Wiryo bagusan membuatku tersipu malu. Terlalu jauh rupanya pikiran Eyang Wiryo sampai membicarakan pelaminan segala. "Kami baru kenal beberapa hari yang lalu, Eyang."


Aku mengatakan hal itu bukan tanpa alasan. Aku takut Eyang Wiryo salah paham mengira kalau aku adalah pacar Damar. Sedangkan Damar, dia malah tersenyum-senyum setelah mendengar ucapan kakeknya tadi.


"Beruntung Damar mengenalmu. Aku yakin kalian akan cocok. Aku sangat setuju kalau kalian menikah."


Kata-kata Eyang Wiryo barusan kembali membuatku salah tingkah. Sampai sejauh itu kah pemikiran kakek Damar kepadaku. Padahal jelas kami belum mengenal jauh. Jangankan memikirkan pernikahan, kami saja baru bertemu beberapa kali.

__ADS_1


"Uhuk ... Damar lagi mencari calon istri ... uhuk ... karena dia sedang mencalonkan diri menjadi Pak Kuwu. Tidak bagus kalau Pak Kuwu tak memiliki pendamping. Syukur-syukur nok cantik ini mau dengan Damar."


Suara Eyang Wiryo terdengar berat sekali. Sesekali kadang beliau batuk. Mungkin paru-parunya memang sedang bermasalah, atau akibat kebiasaan rokoknya ketika masih muda. Entahlah, aku hanya menduga.


"Bukan tak mau, tapi ...." Aku jadi bingung sendiri menjawabnya. Apalagi Damar tak menyanggah sama sekali. Tambah membuatku salah tingkah 'kan.


Untungnya, saat aku sedang mengobrol dengan keduanya. Tiba-tiba Suster Wina datang menghampiriku dan menyuruhku agar cepat ke kamar ibu. Membuatku punya alasan untuk pergi. Kata Suster Wina, ibu kembali berteriak histeris mulai menyebut-nyebut namaku.


"Permisi Eyang, Damar, aku harus ke kamar ibuku dulu."


Begitu Damar dan kakeknya mengangguk. Aku langsung berjalan cepat mendatangi kamar ibu. Baru melewati depan ruangannya saja, aku sudah mendengar teriakan ibu.


"Dara ... Dara ... ibu ingin pulang. Tidak mau di sini." Ibu berteriak sangat nyaring.


Aku dan suster Wina langsung menghampiri ibu. Pertama kali melihat, ibu tampak sedang menangis histeris sambil tangannya melempar semua benda yang ada di depannya. Termasuk cangkir yang sudah pecah berserakan di lantai.


"Ibu, sadar, Bu. Dara sudah ada di samping."


Begitu mendengar suaraku, Ibu langsung diam. Memelukku sangat erat seperti orang yang ketakutan.


"Ibu sangat takut, Kemuning datang lagi Dara. Dia mengikuti kita sampai ke sini. Dari mana saja kamu?" tanya ibu dengan ketus sambil berteriak megacak-acak rambutnya.


"Maaf, Bu. Tadi Dara bertemu dengan teman dan mengobrol dengan keluarganya sebentar."


"Siapa temanmu? Apa lelaki yang berjalan bersamamu di bawah?"


Aku kaget. Apa yang dimaksud ibu adalah Damar. Karena memang benar kami berjalan dari bawah bersama-sama. Mungkin ibu melihat kami saat Suster Wina mendorong ibu menggunakan kursi roda menuju bangsalnya.


"Iya, Bu. Namanya Damar," jawabku sambil merapihkan rambut ibu.


Ekspresi wajah ibu mendadak berubah ketika aku menyembutkan nama Damar. Ibu melotot ke arahku sambil melepas tanganku di rambutnya.


"Tidak! Aku tidak menyukainya. Jauhi lelaki itu, Dara!"

__ADS_1


 


__ADS_2