
Seketika semua mendadak hening. Sepertinya dua orang yang berjubah hitam itu adalah pemimpin mereka. Aku menduga mereka sedang mengadakan ritual penumbalan, dan orang yang tidur di atas bambu itu akan dijadikan tumbal.
Orang yang menutupi dirinya dengan jubah, menyembelih ayam cemani ditangannya menggunakan pi sau tajam sambil dia membacakan sebuah mantra yang aku sendiri tidak tahu artinya.
Disaat bersamaan, leher lelaki yang berbaring tersebut mengeluarkan darah sama seperti ayam cemani tadi yang dipotong. Tangannya refleks memegang leher yang semakin mengucurkan darahnya ke samping, tubuhnya kejang kejang seperti ayam itu dan berhenti bergerak ketika leher ayam cemani itu putus.
Aku melihat semua orang di tengah ritual tertawa keras, di saat bersamaan seorang yang memegang golok mengangkat tinggi-tinggi, lalu menebas leher lelaki di depannya itu hingga putus. Sangat keras hingga memuncratkan darah ke wajah seluruh pengikut ritual.
"Aarghh!" Sontak, aku berteriak histeris. Aku kaget saat tahu pemilik kepala yang barusan ditebas tadi adalah Mang Udin.
Mata mereka terlibat nyalang. Semua wajah yang dipenuhi darah itu rupanya mendengar teriakanku. Tawa mereka menghilang digantikan keheningan, langsung menoleh dan melotot ke arahku. Kecuali dua orang berjubah merah itu, keduanya masih sibuk mengumpulkan Darah yang menetes dari leher Mang Udin ke sebuah tembikar. Kemudian meneteskannya ke sebuah kayu.
"Aaaarg ... Mang Udin," teriakku lagi refleks.
Mereka rupanya terganggu dan menyadari kehadiranku. Ku belum beranjak, melihat seorang lelaki yang mengenakan blangkon mengambil pi sau lalu berjalan cepat ke arahku.
Kenapa aku diam saja? Aku harus lari.
Saat itu juga aku menguatkan langkahku. Kukumpulkan energi supaya dapat berlari dengan cepat, berusaha menghindarinya sejauh mungkin.
__ADS_1
Padahal portal itu tak dapat aku tembus. Tetapi, lelaki itu malah dengan mudah melewatinya. Lelaki berbadan tambun yang mengenakan blangkon itu mengejarku sambil membawa pisau di tangannya, seakan ingin menangkapku berjalan sangat cepat dan bringas.
Tidak! Aku harus cepat pergi!
Aku merasa terancam. Secepat kilat kakiku berlari, agar menjauhi lelaki itu. Tak peduli dengan apa pun yang ada di depan, kakiku terus berlari menginjak deretan tanaman padi. Kuabaikan ranting-ranting kecil yang mengenai telapak kakiku. Lagi pula tak aku rasakan sakitnya.
Dia masih mengejarku.
Sambil terus mengatur napas, kuberanikan untuk menengok ke belakang. Tak ada lelaki itu. Namun sial, saat kembali ke arah depan, sebuah batu besar mengganggu langkah dan membuatku terjatuh.
Bruk!
Aku masih merasa terancam, kemudian langsung bangkit dan kembali berlari melewati ilalang setinggi lutut yang ada di depan. Aku tak peduli, aku harus cepat pergi dari tempat terkutuk ini.
Kebingunganku semakin menjadi. Aku merasakan kejanggalan. Entah mengapa aku merasa tubuhku tiba-tiba beralih ke tempat lain. Ya, tempat ini adalah kebon kosong yang berada tidak jauh dari belakang rumah sakit menuju rumah Ni Rum.
Aku terus membatin di dalam hati. Keadaannya sama seperti yang kulihat biasanya. Kebon ini sangat tidak terawat, dengan ilalang yang sangat tinggi, dan dua pohon beringin yang berusia sangat tua. Kenapa aku malah ada di sini?
Aku kembali menengok ke belakang, ternyata lelaki yang membawa pisau itu sudah tak mengikuti lagi. Akhirnya aku merasa sedikit lega.
__ADS_1
"Aku harus pulang."
Selangkah demi langkah, kakiku pelan melewati dedaunan kering yang berserakan. Aku tak bergeming dan terus berjalan, masih merasa was-was membayangkan lelaki yang membawa pisau itu masih mengintaiku. Takut dia datang lagi.
"Da ... ra ...."
Terdengar suara berbisik memanggilku. Sontak, aku langsung menoleh ke kiri dan ke kanan mencari pemilik suara itu. Aku mulai mempertajam indera pendengaran dan penglihatanku di suasana malam yang gelap ini.
"Tidak ada apa pun, mungkin cuman halusinasiku saja."
Saat aku kembali berjalan, aku merasa ada sesuatu menetes dari atas menghujani tanganku. Aku pikir itu adalah air hujan. Namun semakin diperhatikan lama, air yang turun itu sepertinya tak merata. Aku mengusap air yang bertekstur kental itu. Meskipun gelap, aku yakin cairan tersebut berwarna merah.
"Baunya sangat amis."
Aku mendongakkan kepala ke atas, ke arah sumber tetesan. Memastikan dengan jelas, sebenarnya cairan apa ini?
"Argh!"
Alangkah kagetnya aku begitu mengetahui ada kepala buntung yang tergantung di pohon. Walaupun dalam keadaan gelap, aku yakin mataku tak salah dan itu adalah kepala. Bukan cuman satu, tapi jumlahnya sangat banyak. Semuanya tergantung tanpa tubuh dengan darah yang terus menetes ke arah tanah.
__ADS_1
Sekujur tubuhku mendadak gemetar hebat. Dalam keadaan setengah sadar, aku memutar badan. Melihat ke sekeliling lainnya. Tidak hanya di tempatku berdiri, ternyata banyak kepala-kepala yang tergantung.
Sebenarnya tempat apa ini?