
Mataku melotot melihat kengerian di sekeliling. Apalagi saat lelaki tambun yang membawa pisau itu kembali datang.
"Tidak! Jangan dekati aku!" teriakku ketakutan terus mundur ke belakang.
Namun, langkahku langsung berhenti karena mengenai sebuah pohon.
"Kamu sudah mengganggu ritual kami yang belum selesai." Lelaki itu begitu keras berbicara sembari memegang pisau.
"Aku tidak sengaja melihat kalian. Tolong jangan mendekat!"
Masih ketakutan karena lelaki yang membawa pisau itu semakin maju ke depan, aku langsung berbalik badan, mencari jalan agar bisa lari menjauh.
Siapa mereka? Kenapa dia mengelilingiku?
Aku pikir hanya lelaki itu yang ada di sini. Nyatanya lebih dari dia. Semuanya seperti datang mengepung. Ketika membalikkan badan, aku sangat kaget karena bukan hanya lelaki bertubuh tambun itu saja yang datang, tetapi juga hampir semua yang mengikuti ritual mengelilingiku.
"Pergi! Jangan dekati aku," teriakku keras.
Semua berjalan mendekat. Bahkan lelaki pembawa pisau itu juga mendekat. Dengan wajah pucat pasi dan tatapan menyeringai, mereka seakan membentuk sebuah lingkaran dan terus mempetku ke tengah.
__ADS_1
"Dara ... dara ... dara ...," panggil mereka mengetahui namaku.
"Dara ...."
"Jangan mendekat! Aku tidak mengganggu ritual kalian. Cepat pergi!" teriakku keras.
Saling bersahutan mereka memanggil namaku. Sementara aku yang ketakutan, tetap bergeming. Aku tidak tahu harus berjalan ke arah mana lagi, sementara mereka sudah berada di sekeliling menutupi jalan.
Mereka semakin berjalan mendekat sambil mengulurkan tangannya hendak mencekik leherku. Gigiku sampai gemelutuk karena ketakutan, aku memutar badan mencari celah sedikit saja agar bisa keluar dari sini. Terutama kabur dari lelaki yang berjalan pelan mengarahkan pisau padaku.
"Tidaaakkk!"
Mataku melotot sempurna. Takut, tegang dan pasrah tercampur menjadi satu. "Jang--"
Napasku mulai tercekat. Namun, sebentar lagi pisau itu berhasil menebas leher, aku merasa ada satu tangan menarik tubuhku dari bawah. Menolongku lepas dari cengkeraman mereka.
Sreetttt! Sangat cepat seperti ditarik dan tubuhku bergesekan langsung dengan tanah.
"Aaarrghhhhh!!"
__ADS_1
***
"Bangun, Dara!" Suara ibu yang sangat keras membuatku sedikit sadar. Aku merasakan ada tangan yang menggoyangkan tubuhku sangat keras.
"Uhuk ... uhuk!" Aku terbatuk.
Dalam kondisi kaget dan napas yang tak beraturan, aku mulai sadar barusan aku sedang bermimpi dan tadi ibu berusaha membangunkanku. Langsung saja aku pegang leher, masih terasa tertinggal sedikit rasa sakit bekas cekikan tangan-tangan tadi di mimpi.
"Ternyata hanya mimpi," ucapku merasa lega. Aku menengok ke samping, sudah ada ibu di sebelah.
"Tadi ibu mendengar kamu berteriak sangat keras dari kamar. Ibu pikir terjadi sesuatu denganmu, ibu langsung ke sini. Rupanya kamu sedang mengigau." Ibu mengambil gelas berisi air di atas nakas, lalu memberikannya kepadaku, "minumlah, keringatmu banyak sekali seperti habis lari berkeliling lapangan."
Ibu mengambil handuk lalu mengelap peluh di wajahku. "Melihatmu seperti ini, ibu jadi teringat ayahmu. Dia juga sering mengigau bahkan berteriak saat tidur."
"Apa ayah sering bermimpi buruk?" tanyaku.
"Iya, ayahmu sering bercerita kalau dia sering bermimpi buruk. Beliau pernah mengatakan pernah bermimpi berada di tengah ritual yang sangat sadis."
"Apa ayah mengikuti ritual itu?"
__ADS_1