Bisikan Setan

Bisikan Setan
Bab 16. Kenyataan yang Sebenarnya


__ADS_3

"Ibu tidak tahu Dara. Yang jelas, setiap kali bermimpi buruk, esok paginya ayahmu selalu diam saja, bahkan untuk makan pun tak napsu," kata ibu.


Aku meminum air yang diberikan ibu. "Apa ini berkaitan dengan kebakaran yang terjadi beberapa minggu yang lalu?" tanyaku penasaran.


"Aku tidak tahu, Dara. Sudahlah! Jangan bahas peristiwa kebakaran itu lagi. Itu tak ada hubungan dengan mimpi buruk kalian." Setiap kali membahas peristiwa kebakaran, ekspresi wajah ibu berubah marah.


"Maaf, Dara sudah mengingatkan ayah lagi."


"Cepat tidur, sekarang masih jam dua. Ibu juga sangat lelah," kata ibu berjalan keluar.


Saat itu juga ibu meninggalkanku. Sepertinya ibu tidak ingin mengingat lagi, apalagi membahas peristiwa di mana ayah meninggal di tengah kobaran api, yang membuat hati kami begitu teriris karena menyaksikannya langsung.


"Semenjak memakai cincin ini, mengapa aku sering menemui hal-hal yang gaib. Sebenarnya apa alasan ayah agar aku selalu memakainya?"


Aku mengelus cincin pemberian ayah sambil berjalan ke ruang makan. Aku memperhatikan saksama tanpa berkedip. Aku memperhatikan aksara Jawa yang sangat kecil di lapisan dalam cincin yang kupakai.


"Selamat pagi, Kirana." Sekarang aku memasuki ruang makan, menyapa kirana.


Aku sangat kaget ketika melihat perempuan yang dulu pernah kukenal duduk di sebelah Kirana. "Eum ... kamu Mita, kan? Anak tebet yang sering main sama Kirana waktu masih di Jakarta? Datang sejak kapan ke sini?" tanyaku. Kemudian duduk berhadapan dengan Kirana, menyendok nasi yang akan kutaruh di piring.


Perempuan dengan rambut panjang itu mengangguk. Ya, dia adalah Mita teman nongkrong Kirana. Subuh tadi Mita berkata baru sampai di Cirebon. Umur Mita lebih muda setahun dariku. Perempuan yang sedang menganggur itu sengaja datang ke Cirebon untuk menemui Kirana hendak menginap selama tiga hari.


"Ya, Kak. Gue kangen sama Kirana. Makanya berniat ingin menginap di sini selama tiga hari. Kebetulan gue juga belum tahu kota Cirebon. Ingin berjalan-jalan di sini, sapa tau dapet kerjaan di sini terus dapet bonus cowok orang cirebon," kata Mita sambil cengengesan.


"Apa kamu sudah minta izin sama orang tuamu?" Tiba-tiba Ni Rum datang dari luar, berdiri di ambang pintu.


Mita langsung terdiam ketika Ni Rum menatap sinis ke arahnya. "Su-sudah, Nek," ucapnya menunduk.


"Panggil nenek gue, Ni Rum," kata Kirana menyenggol lengan Mita.


"Oh iya maksudnya, Ni Rum."


Ni Rum terlihat sedang memperhatikan Mita dari atas sampai ke bawah. Penampilan Mita sangat modis, tubuhnya bohay bahkan dandanannya pun lebih berani dariku. Yang kutahu, Mita pernah bekerja sebagai SPG kosmetik di salah satu supermarket terkenal di Jakarta. Hal itu yang membuatnya pintar merawat diri dan berdandan. Sayangnya kata Mita kontrak kerjanya sudah habis, baru seminggu yang lalu dia bilang sudah menganggur.

__ADS_1


"Kamu boleh menginap di sini. Kebetulan ada kamar kosong di sebelah gudang. Suruh saja Kirana membersihkannya," kata Ni Rum sambil berjalan. Perempuan itu masuk ke dalam berjalan menggunakan tongkat. Sepertinya Ni Rum akan masuk ke gudang, ingin membersihkan beberapa topeng peninggalan kakek.


"Kak, gue titip Mita dulu ya. Kakak masuk sif siang, kan?" tanya Kirana sambil menyelempangkan tas di punggungnya.


Aku mengangguk. "Iya, tapi kakak lagi ada urusan pagi ini. Ingin ke pasar dulu dan menemui teman kakak. Kalau urusannya sudah selesai, kakak akan cepat pulang."


Kirana menoleh ke arah Mita.


"Tidak apa-apa ditinggal saja kok. Lagian kan ada Ni Rum di rumah. Palingan juga gue istirahat di kamar, kalau masalah bersihin kamar si, biar gue sendiri saja. Lagian gue sudah terbiasa kok," kata Mita. Mungkin dia tak ingin membebani Kirana yang ingin pergi ke sekolah.


"Aku berangkat sekolah dulu ya, Kak. Kalau ada apa-apa lo SMS gue aja kalau ngga chat lewat masangger," ujar Kirana berbicara kepadaku setelahnya dengan Mita.


Waktu menunjukkan sudah hampir jam tujuh. Kirana berpamitan kepadaku dan Mita untuk sekolah. Kirana berjanji tadi sebelum berangkat, akan mengajak jalan-jalan Mita sepulang sekolah nanti.


"Nanti kakak bantu membersihkan kamar. Tapi jam delapan nanti kakak tinggal dulu yah," kataku pada Mita.


Setelah sarapan usai, seperti biasa aku yang kebagian tugas mencuci piring, lalu merapihkan peralatan dapur bekas masak ibu. Setelah itu, barulah aku membantu Mita membersihkan kamar di sebelah gudang yang akan di tempatinya.


"Mita kakak tinggal dulu ya. Kamar sudah rapi kan dan siap kamu tempati. Di lemari dapur ada mi instan. Barangkali kamu lapar, kamu bisa membuatnya sendiri di dapur. Anggap saja rumah sendiri, jangan malu-malu daripada kamu kelaparan."


"Iya, Kak. Terima kasih," jawab Mita.


Setengah jam kemudian, jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Saat itu juga aku berpamitan kepada Mita dan ibu untuk pergi ke pasar. Ya, tujuan aku pergi ke pasar adalah untuk mencari boneka barbie yang akan ku berikan kepada Ani, anak Mang Udin. Karena mimpi semalam, tiba-tiba perasaanku tidak enak. Kebetulan hari ini adalah hari ulang tahun Ani yang ke lima, aku ingin memberikan kado boneka barbie seperti yang diamanatkan Mang Udin tadi malam.


...***...


Akhirnya setelah satu jam sampai pasar, aku berhasil mendapatkan boneka barbie berambut panjang di salah satu kios mainan. Harganya memang sangat mahal untuk ukuranku yang memiliki gaji di bawah UMR, uang yang diberikan Mang Udin hanya separuh dari harga boneka itu. Namun, karena niat aku ikhlas ingin memberi, aku sisihkan uangku sebagian untuk menambahkan membeli boneka barbie.


"Sangat cantik, pasti Ani menyukainya."


Setelah membungkus boneka, aku menyetop sebuah beca. Menurutku lebih enak mencari rumah Mang Udin menggunakan beca. Aku bisa turun untuk bertanya, selain itu bisa sambil menikmati pemandangan sekeliling.


"Mang, turunkan aku di Desa Sodeng sebelah jembatan ya. Turun di rumah Mang Udin, sopir angkot. Ongkosnya berapa ya?" tanyaku kepada salah satu mamang beca yang sedang duduk di becanya.

__ADS_1


"Mang Udin sopir angkot jurusan kota itu? Neng mau ngelayat?" tanya pengemudi beca.


"Ngga, Mang. Aku ingin menemui Ani anak Mang Udin," jawabku.


"Hayo naik, Neng. Sepuluh ribu saja."


Tak menawar lagi, aku langsung duduk di jok beca sambil memegangi boneka barbie yang sudah terbungkus kertas kado. Mang Beca lalu mulai mengayuh becanya.


Sepuluh menit kemudian.


Sepertinya tempat ini adalah tempat di mimpiku semalam? Batinku sambil melihat sawah di pinggiran jalan. Orang-orangan sawah menggunakan daster yang koyak sebagai cirinya, tepat berdiri di tengah sawah. Sama seperti yang ada di mimpi. Aku terus melihat tak berkedip bahkan saat beca semakin maju pun, aku menengok ke belakang.


"Rumahnya masih jauh, Mang?"


"Sebentar lagi, Neng," jawab Mang beca, "sepertinya Eneng bukan berasal dari desa sini yah?" imbuhnya sambil terus mengayuh beca.


Aku mengangguk masih terus memperhatikan pemandangan di sekitar. Tidak ada bambu tempat ritual semalam bedanya. "Iya, Mang. Aku bukan berasal dari sini. Baru pindah seminggu lebih dari Jakarta."


"Kenal Mang Udin dari mana, Neng?" tanya Mang beca lagi.


"Aku bekerja di rumah sakit. Setiap pulang malam, Mang Udin selalu mengantarkanku pulang, sudah tujuh kali aku naik angkot Mang Udin."


"Di daerah sini tidak ada angkot yang beroperasi, Neng. Ada juga Angdes, itu pun hanya beroperasi sampai jam tujuh malam. Bukannya Mang Udin sedang koma selama tujuh hari. Tadi malam dia baru saja dikabarkan meninggal, Neng." kata Mang Beca terus mengayuh becanya.


"Apa?!" Aku sangat kaget, "ta-tapi seminggu ini Mang Udin mengantarkanku pulang. Terakhir malam, dia mengantarkan banyak orang ke arah sawah. Mamang jangan bercanda," imbuhku tak percaya.


Saat itu juga beca yang kutumpangi berhenti. Mang beca bilang aku telah sampai di desa sodeng. Tidak jauh dariku turun, terlihat sebuah rumah yang sangat ramai dengan bendera kuning tertancap di salah satu batang pisang. Dari simbol bendera itu, sepertinya keluarga pemilik rumah sedang berduka.


"Kita sudah sampai. Itu rumah Mang Udin, Neng. Setau mamang dia punya anak perempuan bernama Ani. Kalau tidak percaya Neng masuk saja ke dalam, liat fotonya samakan dengan yang Neng lihat seminggu ini. Setahu mamang, Mang Udin menderita penyakit stroke selama sebulan terakhir, jadi tak mungkin Mang Udin mengendari angkotnya malam-malam mencari penumpang seperti yang Neng ceritakan," kata Mang Beca sambil menunjuk rumah Mang Udin.


Aku terlihat gamang, antara percaya dan tidak dengan apa yang diucapkan Mang beca barusan. Setelah aku membayar ongkosnya, aku melangkahkan kaki ini ke halaman rumah yang tampak berjejer bangku itu. Di sana terlihat seorang anak sedang menangis sendirian.


"Bapak ... bapak ...."

__ADS_1


__ADS_2