
Lima belas menit kemudian kami sampai ke rumah sakit. Aku dan beberapa suster jaga mendorong ibu yang sudah dibaringkan di brankar. Darah ibu masih memenuhi pahanya yang kurus. Aku mendengar ibu terus merintih kesakitan sambil menyebut namaku berulang kali.
"Ibu akan baik-baik saja, bertahanlah!" kataku menguatkan.
"Kami akan membantu ibumu, Dara. Tolong tunggu di luar dulu yah," kata seorang suster ketika brankar ibu sudah memasuki ruang UGD. Sudah SOP rumah sakit tersebut kalau penunggu dilarang masuk ketika penangangan berlangsung.
"Terima kasih, Suster Wina. Tolong bantu ibuku."
"Aku akan usahakan untukmu, Dara. Sebaiknya kamu duduk saja di luar sambil berdoa," kata suster Wina. Kemudian dia menutup pintu ruangan UGD dengan rapat, menyuruhku agar duduk saja di ruang tunggu pasien.
Semoga ibu kuat dan baik-baik saja, batinku kalut.
Saat aku duduk menunggu ibu. Beberapa petugas rumah sakit yang ada di dalam tiba-tiba berhamburan keluar. Biasanya kalau ada pasien baru dalam kondisi darurat pasti keadaan depan terlihat kalang kabut seperti sekarang. Beberapa perawat baik pria dan wanita terlihat berlari, ada yang membawa brankar ada pula yang membawa alat bantu oksigen.
"Cepat ada pasien baru korban kecelakaan. Keadaannya kritis," kata salah satu dari mereka.
Aku pun ikut penasaran. Beberapa menit kemudian dari arah luar, mereka sudah masuk lagi dan bergerak cepat. Akan tetapi sekarang brangkar yang mereka bawa tadi sudah terisi pasien baru. Dari desas desus yang aku dengar barusan, pasien yang dibawa itu adalah korban kecelakaan mobil di jalan raya Pantura beberapa menit yang lalu.
"Awas tangannya putus," teriak seorang perawat lelaki membenarkan posisi tangan pasien yang sedang sekarat tersebut. Mereka mendorong brankar bersama-sama sambil berlari menuju ruang ICU.
"Kasian sekali perempuan itu. Mana masih muda lagi," kata seorang ibu yang ikut mengantar di dalam mobil ambulance tadi, memasuki ruang tunggu berdiri di dekatku.
"Kecelakaan di mana, Bu?" tanya seorang penunggu pasien lainnya yang sedang duduk.
"Di perempatan toko Ahong tadi jam setengah satu, Bu. Kayaknya ini anak habis pulang sekolah. Sebelum kecelakaan aku melihat anak itu naik motor sebelahan bareng temen-temannya. Cuman ini anak yang kecelakaan. Kayaknya si, mereka naik motor ugal-ugalan. Terus pas sampai perempatan, ini anak yang dibawa tadi nyalip truk. Mungkin ngga tau atau gimana kalau truk di depannya tuh ternyata gandengan." Ibu yang sebagai saksi itu menjelaskan.
"Mungkin lajunya cepat juga ya, Bu. Makanya sampai kebablasan nabrak truk gandeng. Duh, serem kalau lewat jalan situ, minggu kemarin juga ada kecelakaan korbannya mati di tempat. Kalau anak ini keadaannya bagaimana Bu?"
"Tadi si masih ada nyawanya. Aduh Bu ngeri kalau pas liat tadi tangannya remuk. Dagingnya aja uda pada keluar. Ngga tau sekarang, mungkin tangan dan kakinya misah," kata Ibu yang sebagai saksi tadi menambahi.
"Loh, Bu. Bukanya tangan dan kaki kita juga misah," celetuk seorang lelaki yang hanya mendengarkan saja dari tadi.
__ADS_1
"Hust, si bapak ini. Orang lagi kecelakaan kok dibercandain." Istrinya di sebelah menepuk bahunya. Suaminya malah tertawa apalagi pas melihat mimik ibu yang bercerita tadi. Nyerocos mulu sampai bibirnya melebihi lima senti.
"Maksudnya putus bukan misah," ujar ibu saksi membenarkan.
"Nah kalo ini baru jelas, Bu. Kalau kaki ama tangannya nyatu. Yo ngga bisa buat makan sama jalan toh Buk, Buk." Kembali si suami tertawa dan si istrinya kembali menepuk. Kali ini bokongnya yang kena.
Sambil menunggu penanganan ibu, aku yang semula was-was teralihkan oleh obrolan mereka. Aku memang mendengarkan mereka, tetapi tidak dengan mataku. Pandanganku teralihkan oleh sosok mengenakan baju putih rok abu yang sangat pucat tidak jauh dari tempatku berdiri. Ada di pojokan UGD sedang duduk menyendiri sambil melihatku.
Pandangan gadis itu sangat gamang kulihat. Seakan memelas menatap ke arahku. Entah apa maksud dari gadis itu. Aku penasaran dan ingin mendekatinya. Namun, sebelum aku beranjak, Suster Wina lebih dulu membuka pintu.
"Sudah selesai, Dara. Kamu boleh melihat ibumu."
Sontak, aku pun mendadak menghiraukan gadis berwajah pucat tersebut. Aku langsung masuk ke ruang UGD menemui ibu yang kulihat sedang duduk sambil menangis.
"Ibu, jangan menangis lagi ya. Nanti Dara carikan obat yang mujarab untuk menyembuhkan luka di paha ibu," kataku sambil mengusap air mata di pipi Ibu.
"Maafkan ibu ya Dara, karena sering menyusahkanmu dan Kirana. Harusnya ibu tadi sadar kalau kelakuan ibu itu salah."
"Ibu kangen ayahmu, Dara." Ibu kembali menangis terisak sambil memelukku.
"Ayah sudah tidak ada di dunia. Ibu harus mengikhlaskannya agar ibu dan ayah bisa tenang."
Memang benar, semenjak ayah meninggal. Kesehatan mental ibu menurun. Ibu yang semula hanya mengalami stress ringan. Kini di diagnosis mengalami gangguan jiwa Skizofrenia akut kata Dokter. Di mana dia tak bisa membedakan mana yang halusinasi dan nyata. Seorang psikolog mengatakan kepadaku, kalau kemuning yang ibu anggap hidup adalah hasil dari imajinasi ibu belaka. Entahlah benar atau tidak.
"Tapi ayahmu sering mendatangiku, Dara. Kadang dia memelukku dari belakang setiap tid–"
Ucapan ibu terpotong karena kedatangan Suster Wina. Membawa kursi roda untuk mengangkut ibu. "Dara, mari aku antar ibumu ke bangsal tiga belas. Aku sarankan ibumu dirawat di sini dulu beberapa hari."
"Di rawat?" Aku sempat kaget mendengarnya.
"Ya, aku sarankan sebaiknya ibumu dirawat saja. Ya minimal satu hari di sini," jawab Suster Wina sambil mengganti botol infus.
__ADS_1
"Ta-tapi, Sus. Aku tak--"
"Jangan khawatir. Kalau untuk rawat inap, pihak management menggratiskan biaya inap dan pengobatan selama sehari bagi karyawan atau keluarga pasien yang kurang mampu. Urus saja dokumennya dulu di depan. Aku akan mengantarkan ibumu ke ruangan." Suster Wina memapah tubuh ibu membantunya menaiki kursi roda.
"Terima kasih, Sus."
"Ya, nanti kalau Dokter Tika datang, kamu bisa konsultasikan kesehatan ibumu. Besok pagi Dokter Tika biasanya sudah datang dari jam delapan," kata Suster Wina lagi.
"Baik, Sus. Aku akan cepat mengurusnya."
Aku hanya bisa mengangguk. Karena ibu sudah ada yang membantu, saat itu juga aku putuskan langsung ke bagian administrasi untuk mengurus berkas-berkas ibu yang akan dirawat.
Untung saja semua berkas sudah aku bawa tadi. Dan kebetulan aku memiliki semua kopiannya, sehingga tak begitu sulit dan harus wara-wiri lagi pulang ke rumah.
"Untung fotokopi KTP dan kartu keluarga semuanya dibawa. Inilah pentingnya membawa dokumen penting saat keadaan darurat seperti ini.
Coba kalau tidak, sudah bolak-balik aku ke rumah." Aku berbicara sambil berjalan dan merapihkan dokumen.
Akan tetapi, seseorang tiba-tiba memberhentikan langkahku secara mendadak. Akibatnya, aku kaget dan semua dokumen yang aku pegang tak sengaja kulepas dan membuatnya berhamburan ke lantai.
"Aargh!" jeritku mendadak.
"Maaf, Dara. Aku tak sengaja menabrakmu. Apa kamu baik-baik saja?"
Aku mendongak. Ternyata lelaki yang menghentikanku adalah Damar. Aku tak menyangka akan bertemu Damar lagi di sini. Aku pikir kakeknya sudah sembuh dan pulang.
"Damar."
Refleks, setengah berjongkok kucoba meraih kertas yang tercecer di lantai. Tanganku langsung meraih salah satu dari keras yang terlepas. Begitu pula Damar, gerakan kami sama. Tak sengaja tangan kami bersentuhan saat mengambil kertas, dan mendadak membuat jantungku seakan berhenti seketika, apalagi saat mata kami saling bertemu dengan jarak yang sangat dekat seperti sekarang.
"Ahh' Da-mar," batinku salah tingkah.
__ADS_1