
Jarum panjang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Itu artinya, sudah waktunya aku pulang. Semua pekerjaan sudah rampung. Aku yang masih di lantai atas berniat turun ke bawah menemui Mba Siti yang masih ada di ruang pantry lantai satu.
"Semoga Mbak Siti sudah selesai nyucinya."
Seperti biasa setiap hari sudah malam, suasana rumah sakit mendadak sangat sepi dan sunyi. Tidak sampai lima puluh persen semua bangsal terisi pasien rawat inap. Rumah sakit tempatku bekerja letaknya di kabupaten, memang dekat dengan jalan raya, namun, karena bangunannya sudah tua, di tambah lagi letaknya sangat jauh dari perkotaan, hanya pasien darurat dan orang daerah saja yang memilih rawat inap di sini.
Rumah sakit yang dibangun sejak tahun 1970an itu bangunannya sangat besar dan luas. Sayangnya, di beberapa ruangan tertentu tembok rumah sakit untuk bangsal kelas bawah banyak yang sudah mengelupas dan beberapa lantai yang sudah tercongkel keramiknya, mungkin karena retak dan pecah. Direktur rumah sakit sengaja tidak memperbaiki, karena kabarnya seluruh kegiatan operasional rumah sakit itu, akan berpindah ke bangunan baru yang letaknya di desa sebelah.
Untuk sampai ke bawah, aku harus menuruni tangga yang menghubungkan lantai dua dengan lantai satu yang posisinya di tengah bangunan. Sangat jauh dari ruang jaga perawat.
Meski lelah, dengan langkah santai aku mulai melangkahkan kaki menuruni anak tangga satu demi satu.
__ADS_1
"Akhirnya pulang juga."
Tinggal beberapa anak tangga lagi sampai ke lantai satu. Dari tempatku berdiri, aku melihat dari jarak dekat, Mang Udin sopir angkot yang menjadi langgananku beberapa hari ini lewat di depan. Sontak, aku yang melihat langsung berteriak untuk memanggilnya. "Mang Udin ...."
Namun, Mang Udin tak bergeming dan tak menoleh. Dia malah terus berjalan seakan tak mendengar teriakanku.
'Kenapa Mang Udin tak menoleh, apa Mang Udin tak mendengarku?' batinku.
"Mang Udin? Mamang narik kan?"
Mang Udin kembali tak menjawab. Dua anak tangga lagi kakiku sampai ke lantai satu. Tetapi, tiba-tiba aku yang masih memperhatikan Mang Udin, merasakan kakiku seperti menginjak sesuatu yang tak rata. Aku merasa seperti berdiri di atas tubuh seseorang. Ya, tepatnya seperti berdiri di atas perut. Aku mendadak diam seketika, apalagi sesuatu yang akan pijak itu tiba-tiba bergerak, membuat kakiku mendadak tak seimbang. Seakan bergoyang ingin jatuh.
__ADS_1
'Sebenarnya apa yang sudah aku pijak?'
Aku yang mencoba menguatkan kaki, pelan-pelan menunduk karena penasaran ingin melihat ke bawah, memastikan sedang berdiri di mana sebenarnya aku sekarang.
Ketakutanku ternyata benar. Setelah melihat ke bawah, ternyata aku sedang berdiri di atas tubuh seseorang yang sedang terbaring horisontal di anak tangga ke dua. Belum menstabilkan napas, dengan gemetar aku memberanikan diri menengok ke kanan, ingin melihat wajahnya, memastikan siapa yang berani tidur di anak tangga malam-malam begini.
"Argh!" Napasku tiba-tiba tercekat, aku mencoba berteriak kencang. Sayangnya suaraku sama sekali tak bisa keluar.
Ternyata aku sedang berdiri di atas tubuh setan berambut panjang. Begitu menoleh ke kanan, setan itu menatapku begitu menyeringai. Matanya yang hampir keluar terlihat sangat bulat menunjukkan urat berwarna merah bercampur darah pekat mengalir di sela-sela hidung yang sudah berlobang memperlihatkan tulang tengkoraknya.
"Tolong jangan ganggu aku."
__ADS_1