
Ibu memeluk boneka kemuning sambil berjalan menuju ranjang. Langkahnya sangat pelan. "Ayahmu sering ibu lihat sedang duduk di belakang dekat dengan pohon bambu belakang rumah, seperti saat pertama kali bertemu ibu dulu," ujar ibu. Sambil mengingat lagi pertemuan pertamanya dengan ayahku.
"Mungkin ibu salah melihat orang," ucapku sambil menyelimuti tubuh ibu, "Sekarang ibu tidur ya. Dara ke kamar dulu ya, Bu. Kalau ada apa-apa panggil saja Dara di kamar."
Setelah ibu mengangguk terus berbaring. Aku langsung ke luar dari kamarnya, berniat membersihkan diri sebelum memasuki kamarku. Aku benar-benar sangat mengantuk dan ingin sekali cepat tidur.
...***...
Aku membuka mata, ketika mendengar suara yang amat berisik di telinga. Suara sekumpulan orang yang sangat berisik, seperti sedang mengobrol. Tetapi dari bahasanya, aku tak mengerti apa yang mereka obrolkan.
__ADS_1
Aku mulai sadar kalau sekarang tubuhku berada di atas sebuah gundukan tanah yang tinggi, seperti sebuah bukit, namun tidak terlalu tinggi. Di kanan kiriku, terdapat pohon bambu yang sangat rindang dan sawah yang membentang luas tidak jauh dariku berbaring. Kenapa aku bisa berbaring di sini?
Aku melihat dari atas, sekumpulan orang sedang berjalan beriringan menggunakan kebaya jaman dulu, membawa beberapa wadah yang terbuat dari anyaman bambu yang ditutupi kain berwarna putih. Di belakangnya ada beberapa lelaki yang membawa tandu, menggotong seseorang yang berbaring di atasnya. Sama seperti wadah bambu tadi, tandu itu pun di tutupi kain berwarna putih.
Salah satu dari mereka membawa seekor ayam cemani yang masih hidup dan beberapa sesajen yang sudah di tata begitu rapi, dipanggul di atas kepala seorang perempuan berkebaya. Sekumpulan orang yang berjalan itu kira-kira berjumlah sekitar dua puluh.
Karena penasaran, aku mengendak-endap mengikuti langkah mereka dari jarak jauh. Bau kemenyan mulai menyeruak di hidungku, membuatku semakin penasaran sebenarnya apa yang akan mereka lakukan.
Aku melihat empat lelaki yang membawa tandu tadi, menurunkan tandunya. Mulai membuka kain putih, menggotong lelaki yang berada di atas tandu ke sebuah meja yang terbuat dari bambu. Lelaki itu tampak diam saja tak berdaya. Mereka membaringkan lelaki itu lalu menyiramnya dengan air kembang tujuh rupa dari kepala hingga kakinya.
__ADS_1
"Siapa lelaki yang yang ada di meja bambu itu? Kenapa aku seperti mengenalnya?"
Aku sangat penasaran, rasanya ingin sekali bergerak maju. Namun semakin kupaksakan, langkahku terhenti seakan ada sebuah portal yang menahan kaki ini untuk memasuki tempat itu.
Terdengar suara saling bersahutan seperti sedang melafazkan sebuah mantra. Aku tak terlalu paham bahasa yang mereka ucapkan karena terdengar sangat pelan. Namun, karena diucapkan berbarengan seperti orang yang sedang mengobrol dan lama kelamaan memekakkan telinga.
Tak lama, dua orang berjalan menggunakan jubah hitam menjuntai ke bawah menyambut mereka, lalu membawa ayam cemani itu ke depan. Aku tak mengenal orang berjubah hitam itu, lantaran kepalanya tertutup dengan kain hitam yang rapat, dengan sedikit lobang di mulut dan hidungnya.
Satu orang berjubah hitam lagi membawa sebuah pisau dan golok yang sangat tajam. Mungkin untuk menyembelih ayam itu, pikirku.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang akan mereka lakukan?" Aku mendadak gemetar ketika orang yang membawa pisau itu mengangkat tangannya ke atas, seakan ingin menghujam pemilik tubuh yang terbaring itu.