
Setelah mengambil ember dan seutas tali cadangan. Aku kembali berjalan menuju sumur. Meskipun berusaha acuh, tetapi nyatanya pandanganku tak beralih melihat ke arah bak mandi yang ada di luar. Pintunya masih tertutup, tetapi suara guyuran air itu sudah tak terdengar lagi.
Mungkin tetangga yang sedang menumpang mandi, pikirku dalam hati.
Tak mau berlama-lama di sumur. Aku segera menimba air dan menaruhnya di bak kecil untuk membilas piring kotor yang baru kucuci. Aku berusaha menepis pikiran aneh yang sedang berkecamuk di dalam hati.
Tenangkan pikiranmu, Dara.
Buru-buru aku membilas satu persatu piring itu. Namun, ketika hampir menyelesaikan pekerjaanku. Terdengar suara pintu dari bak mandi yang membuka perlahan.
Kriet. Suara pintu berbahan kayu yang rapuh terdengar sedikit berat saat terbuka, karena engselnya yang sudah berkarat.
Mendengarnya, aku terdiam sejenak sambil berusaha agar tetap tenang. Aku berpikir mungkin angin yang menyebabkan pintu itu tertutup dan terbuka sendiri, mengingat di desa ini dekat dengan sawah dan anginnya memang lumayan kencang.
__ADS_1
Tiba-tiba ... Bruk! Terdengar suara benda terjatuh dari dalam kamar mandi. Aku yang awalnya berpura-pura tak tahu langsung terkesiap. Di detik itu juga aku langsung menaruh semua piring yang sudah dibersihkan tadi ke dalam baskom lalu dengan cepat berlari ke dalam. Aku tak memperdulikan apa pun yang ada di kamar mandi itu.
"Dara!" seru Ni Rum dari dalam, "kenapa jalanmu sangat cepat sekali? Hati-hati, nanti kamu terjatuh dan piringnya juga pecah dan mengenai kakimu," imbuhnya lagi.
Aku langsung menoleh mendengar suara Ni Rum. "Iya, Ni. Maaf tadi Dara sangat takut soalnya ..., apa ada orang yang menumpang mandi di rumah ini, Ni?"
"Tidak ada siapa pun Dara," jawab Ni Rum, "ya sudah, kamu taruh saja piringnya di situ," kata Ni Rum memutar kursi roda yang di dudukinya dengan tangan. Wanita tua itu kembali sibuk membersihkan debu di topeng yang di taruh di atas meja.
"Ini topeng apa Ni Rum?" tanyaku mendekati Ni Rum. Aku sangat penasaran karena setiap hari Ni Rum selalu menyempatkan diri membersihkannya, padahal menurutku topeng ini tidak kotor sama sekali.
Wanita berwajah keriput itu tersenyum, menunjukkan sederet giginya yang sudah hampir habis. "Ini adalah topeng yang digunakan untuk kesenian tari topeng dan salah satu peninggalan kakekmu. Sangat legendaris pada masanya. Topeng kelana ini pernah digunakan penari remaja yang seusia dengan ayahmu waktu itu. Dia sangat terkenal karena pernah menjadi juara pertama di pentas tari tingkat Jawa barat."
Aku memegang salah satu topeng berwarna merah. "Kenapa tidak digunakan lagi, Ni? Bukankah kesenian itu masih ada sampai sekarang?" tanya Dara.
__ADS_1
"Memang masih ada, apa kamu mau menjadi penarinya? Hati-hati memegangnya, nanti catnya mengelupas!" seru Ni Rum sambil menepuk punggung tanganku.
"Maaf, Ni. Ah tidak! Aku tidak berbakat menari."
"Kalau belum mencobanya mana tahu kalau kamu berbakat atau tidak. Ini adalah peninggalan kakekmu. Pernah ada yang meminjam tetapi dia tak bertanggung jawab dengan menaruh topeng ini sembarangan. Nini tidak mau kejadian itu terulang lagi. Topeng ini bisa rusak karena kalau sering berpindah tangan," kata Ni Rum.
Ni Rum menaruh topeng kelana berwarna merah pekat itu ke dalam peti sedangkan topeng lainnya, dia menyuruh ku untuk memasangnya lagi ke dinding.
"Kenapa tempatnya dipisah Ni?"
Raut wajah Ni Rum langsung berubah. Seperti tidak suka dengan pertanyaanku. Sadar kalau pertanyaanku mungkin terlalu lancang, aku memberanikan diri untuk pamit ke kamar.
"Benda keramat tidak boleh ditaruh di tempat sembarangan."
__ADS_1