
"Jauhi dia Dara. Aku tidak suka lelaki itu dan keluarganya. Jangan dekati dia lagi," teriakku kencang. Bukan tanpa alasan aku melarangnya.
Bukannya menurut Dara malah diam saja. Malah sibuk menyuruhku agar tak mengamuk. Jelas bukan itu mauku. Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk putriku satu-satunya.
"Aku tidak menyukainya. Aku juga tak menyukai Kemuning. Dia selalu menggangguku. Dia ada di sini tadi. Menerorku terus menerus. Lihat cakaran di tanganku ini, Dara. Ini kelakuan Kemuning. Aaarghhh ...." Aku terus berteriak sambil menunjukkan bekas cakaran Kemuning. Berharap Dara mengerti kalau ucapanku tidak berbohong, "Kemuning dan pemiliknya mengincarmu, Dara. Kita harus pergi."
"Ibu, tenangkan diri. Dara ada di sini, Kemuning tidak akan berani menyakiti ibu."
Aku tetap tak tenang kecuali segera pergi dari rumah sakit dan rumah Ni Rum sejauh mungkin. "Kita harus pergi, Dara. Kita harus bersembunyi. Aargh ... ayo pergi Dara, hiks."
Suster Wina memasuki ruanganku. Membawa beberapa alat medis dan sekantong cairan infus. Suster Wina mendekati kami, kemudian menyuntikkan obat di cairan infus yang terhubung dengan tubuhku.
"Maaf, Dara. Aku harus menenangkan ibumu dulu agar tidak mengamuk."
Aku tak bisa menolak. Beberapa suster berdatangan dan memegangi tubuhku. Mungkin mereka pikir kalau aku sedang gila.
"Ibu sebaiknya jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi secara berlebihan. Sebaiknya ibu beristirahat sekarang. Dara akan menemani ibu tidur di sini."
Sekarang tubuhku mulai melemah. Dara memelukku sangat erat. Mataku mendelik ke seluruh ruangan takut kalau Kemuning datang lagi dan malah mengganggu Dara. Pikiranku sangatlah kacau, yang kutakutkan kali ini adalah tidak bisa melindungi Dara lagi.
"Ibu Kemuning sudah tidak ada. Dia sudah meninggal saat ibu melahirkannya."
"Jangan takut, Bu. Ada Dara dan suster di sini. Ibu istirahat saja."
"Benar, Ibu Sekar. Sebaiknya ibu beristirahat saja. Kami sudah menyuntikkan obat tidur. Semoga setelah ini kesehatan ibu akan membaik," sambung Suster Wina.
Kata-kata Dara dan beberapa suster seperti dongeng pengantar tidur. Mungkin efek obat tidur yang barusan disuntikkan sudah bereaksi. Membuat kelopak mataku semakin berat.
"Kalau Kemuning sudah mati. Di mana jasadnya? Ayahmu selalu menutupinya, Dara."
Perlahan, Sebelum mataku benar-benar terpejam. Aku mengingat lagi saat aku melahirkan Kemuning. Waktunya sangat cepat, bahkan aku melahirkannya di usia kandunganku menginjak tujuh bulan.
Mahesa, suamiku. Dia sengaja mengorbankan Kemuning. Mengingat Mahesa membuatku tambah mengantuk. Aku merasakan bayang-bayang Mahesa kembali berputar di ingatanku, sebelum akhirnya aku menutup mata.
Flashback 21 tahun yang lalu (Tahun 1988)
Malam Minggu seperti biasanya aku sengaja mengepang dua rambutku, berdandan lebih cantik dari biasanya. Hanya untuk menonton sebuah pertunjukan tari topeng dekat dengan panti asuhan Kasih Bunda yang di tempatiku sekarang.
__ADS_1
"Mas Mahe pasti sudah datang," kataku seusai bercermin.
Suara gong dan beberapa alat musik pengiringnya menggema hingga area panti karena saking dekatnya. Suara yang mengisi saling berpadu dan saling harmonis menandakan akan dimulainya pertunjukan. Aku langsung berlari keluar, sangat tidak sabar menyaksikan pertunjukan tari topeng. Tetapi yang paling utama tidak sabar ingin melihat Mahesa. Pemuda tampan dari desa sebelah. Tak lupa sebelum keluar, aku sempatkan untuk mengambil satu rantang makanan yang sudah aku siapkan dari tadi siang untuk Mas Mahesa.
"Mas Mahe," teriakku kencang. Namun, sepertinya Mas Mahesa tak mendengar karena tak menanggapiku.
Aku terus berusaha mencuri-curi pandang lelaki dengan menggunakan blangkon yang sedang menabuh kendang duduk di tengah pertunjukan. Berharap dia menengok ke arahku. Dia adalah Mas Mahesa. Seorang penabuh kendang pertunjukan tari topeng berusia 19 tahun, seumuran denganku.
Wajah Mas Mahesa sangat tampan, bukan hanya aku saja yang mengakuinya. Banyak gadis lain sering membicarakannya di setiap obrolan. Mereka berlomba-lomba mendekati Mas Mahesa berharap menjadi istrinya nanti. Termasuk aku yang hingga kini sangat tergila-gila dengan pesonanya. Selain tampan, Mas Mahesa juga anak pengusaha topeng yang kaya dan terkenal di desa ini. Topeng yang diproduksi keluarga Mas Mahesa aku dengar, penjualannya sudah tembus sampai ke luar negeri.
Selain dipasarkan di luar negeri, ada juga beberapa warga lokal yang sengaja memesan topeng khusus kepada Ki Dharma, nama ayah Mas Mahesa. Rumor mengatakan, topeng yang dibuat secara khusus oleh Ki Dharma kabarnya beraura magic, dapat membuat pemiliknya berwibawa dan merasakan keberuntungan. Terutama bagi penari yang memakainya. Entahlah aku pun antara percaya atau tidak.
"Mas Mahe," teriakku lagi.
Aku tak henti-hentinya melihat ke arah Mas Mahesa dari jauh. Hampir pandangannya tak teralihkan apalagi saat dia dengan wibawanya memainkan tangannya menepuk kendang. Mengikuti irama musik tari topeng Kelana.
"Mas," kataku sambil melontarkan senyum.
Aku sangat senang karena kali ini Mas Mahe mendengar teriakanku dan membalas dengan tersenyum balik.
"Pertunjukannya sangat bagus. Aku ingin memberikanmu sebuah hadiah." Aku mendekati Mas Mahesa yang sedang merapihkan pangkon alat musik yang digunakan untuk mengiringi tari topeng ke tempatnya. Sebentar lagi katanya mereka akan berpindah tempat, melakukan pertunjukan lagi di desa sebelah.
Mas Mahesa terlihat sibuk, dia pasti lapar. Aku sudah berinisiatif ingin memberikan makanan di rantang yang sudah aku sembunyikan di belakang punggung. Aku sudah mengenal Mas Mahesa lama. Kami pernah satu sekolah saat berada di sekolah menengah atas.
"Terima kasih, kamu sama siapa ke sini, Nok?" tanya Mas Mahesa, lelaki berlesung pipi itu. Dia terlihat lebih manis saat tersenyum.
"Aku sengaja ke sini ingin menemuimu." Aku sangat malu dan terus menunduk.
"Terima kasih, Sekar. Kamu memang teman yang terbaik. Aku kita kamu tak datang malam ini."
Mendengar Mas Mahesa menyebutku 'teman' Aku menggeleng pelan sedikit tak suka. "Apa aku lebih pantas hanya sebagai teman?"
"Tentu saja Sekar, kamu adalah teman terbaikku," sahut Mas Mahesa, tangannya dengan cekatan masih merapihkan gendang bersama teman-temannya.
"Tapi, aku ...."
Sebentar lagi aku mengeluarkan kotak yang sudah aku sembunyikan dari tadi, seorang perempuan mengenakan busana tari topeng kelana datang menghampiri Mas Mahesa. Dia adalah salah satu penari topeng yang mempertunjukan tariannya barusan.
__ADS_1
"Mas, aku bawakan bekal. Kebetulan tadi siang aku sengaja memasak makanan kesukaan Mas Mahe. Kita makan dulu, yuk." Perempuan yang aku tahu bernama Ayu itu membuka kotak bekal berisikan jengkol dan sambal goreng ati, "cobain deh, Mas. Aku yang buat sendiri. Aku siapin ya."
Ayu menyodorkan sendok di depan mulut Mahesa. Tak ada penolakan sama sekali karena yang aku tahu ke dua makanan itu adalah kesukaannya. "Wah enak banget, Dek. Masakanmu enak sekali. Ngga salah Mas menjadikanmu calon istri," kata Mas Mahesa sambil mengunyah.
Deg. Tiba-tiba saja jantungku seakan berhenti saat ini juga mendengar Mas Mahesa mengatakan Ayu adalah calon istrinya.
"Aku juga bawa minuman jahe, Mas. Biar kita ngga masuk angin pas tampil malam di desa sebelah."
"Oalah, kamu bener-bener perhatian, Dek. Terima kasih ya."
Ayu terus menyuapi Mas Mahesa dengan tangannya langsung, tanpa memperdulikan aku yang masih berdiri di depan mereka berdua.
Pemandangan di depan jelas membuatku tertunduk lesu karena menyaksikan keromantisan mereka berdua. Sebenarnya hari ini aku menemui Mas Mahesa ingin memberikannya rantang bekal untuknya. Seharian ini, aku habiskan berkutat di dapur panti hanya untuk memberikan bekal untuk Mas Mahesa. Bahkan aku sampai memecahkan celengan ayamku hanya untuk membelikan daging sapi. Sayangnya ternyata usahaku sia-sia
Mendengar Mas Mahesa mengatakan akan menjadikan Ayu calon istri, hatiku begitu sangat sakit.
Mas Mahesa tidak tahu kalau aku dari dulu sangat menyukainya. Dari umur lima tahun tepatnya. Aku sudah dekat dengan Mas Mahesa saat lelaki itu baru pindah dari Jawa tengah. Rumah Mas Mahesa dulu bertetangga dengan panti asuhan tempat tinggalku. Sejak kecil, teman-temanku sering mengatakan kalau aku dan Mas Mahesa adalah sepasang kekasih yang sangat serasi, yang sering didoakan supaya berjodoh.
Namun, semenjak perekonomian keluarga Mas Mahesa naik drastis. Hubungan aku dan Mas Mahesa lambat laun merenggang. Apalagi semenjak Mas Mahesa pindah rumah, keluarganya beralasan rumah mereka terlalu sempit untuk usaha topeng dan rotan mereka.
Walaupun terpisah, aku yang merupakan adik kelas Mas Mahesa, masih sering bertemu dengannya di sekolah. Aku selalu berusaha mendekati Mas Mahesa seperti dulu lagi. Sayangnya, akhir-akhir ini aku merasa ada perubahan pada diri Mas Mahesa. Terutama saat dirinya terjun menjadi penabuh kendang di pertunjukan tari topeng.
"Sekar. Tadi kamu bilang ingin memberikan sesuatu untukku. Apa itu? Sebentar lagi pertunjukkan kami akan pindah ke desa sebelah." Mas Mahesa berkata padaku.
Akhirnya aku memberanikan diri mengangkat wajahku yang dari tadi menunduk. Aku bahkan berusaha menahan air mata yang hampir jatuh ke pipi. Perasaanku benar-benar bertambah sakit apalagi saat Mas Mahesa merangkul Ayu di depan mataku langsung. Kenapa dia tega sekali?
"Aku hanya ingin memberi semangat, Mas. Maksudku itu, hanya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilan pertunjukanmu barusan." Aku mendadak canggung.
Aku cukup tahu diri siapa aku, kalau harus dibandingkan Ayu. Kelas sosial aku dan Ayu sangat berbeda jauh. Ayu adalah anak dari juragan rotan yang terkenal di desa sebelah, sedangkan Mas Mahesa merupakan anak lelaki satu-satunya Ni Rum, calon ahli waris usahanya.
Wajar saja kalau Mas Mahesa lebih memilih Ayu. Apalagi Ayu merupakan penari topeng berbakat di daerah kami. Pertunjukannya selalu memukau dan tak pernah gagal. Dia juga pernah menjadi juara satu lomba tari topeng tingkat Ciayumajakuning. Prestasinya jelas tidak diragukan lagi, orang tua Mas Mahesa pasti akan menyetujui hubungan keduanya. Sangat serasi, berbeda dengan aku yang merupakan anak yatim piatu dan tidak berprestasi sama sekali.
"Aku pergi dulu. Selamat ya atas hubungan kalian. Semoga hubungan kalian bisa lanjut sampai ke pelaminan."
Saat itu juga aku berbalik badan, berlalu meninggalkan mereka berdua sambil menangis.
"Aku harus memilikimu, Mas. Bagaimana pun caranya, aku akan berusaha," ucapku sambil terisak.
__ADS_1