
Bapak ... bapak ...." Tangisan bocah kecil meraung-raung di depan rumah. Beberapa orang tetangga bahkan tak sanggup menenangkan bocah perempuan itu.
Aku tak bergeming, kulangkahkan kakiku terus masuk ke halaman rumah. Kemunculanku sepertinya dianggap aneh warga sekitar, mereka menatapku seperti orang asing, begitu pula bocah kecil yang menangis.
Dari luar, rumah Mang Udin terlihat paling besar diantara rumah lainnya. Pertama melihat, aku ragu kalau itu adalah rumah Mang Udin. Pikirku, Mang Udin bukanlah orang kaya.
"Maaf, apa ini rumah Mang Udin?" tanyaku kepada salah satu orang yang duduk di salah satu bangku plastik.
Orang itu mengangguk. Alisnya terlihat berkerut. "Iya. Gulati sapa Mba?" (Iya, nyari siapa Mba?) Dengan logat dan bahasa Cirebon.
Walaupun baru dua mingguan tinggal di Cirebon. Sedikit demi sedikit aku mengerti bahasa orang tersebut. "Ani, Bu," jawabku.
"Oh, Ani. Kuh, lagi nangis. Kelangan bapane mau bengi meninggal." Tunjuk orang itu menunjuk bocah perempuan berambut keriting.
(Oh Ani. Tuh, lagi nangis. Kehilangan bapaknya yang tadi malam meninggal.)
"Terima kasih ya, Pak."
Dengan langkah pelan, aku berjalan memasuki teras depan rumah. Pertama kali yang dirasakanku saat memasuki halaman depan, aura rumah itu sangat wingit. Aku merasa seperti banyak pasang mata yang memperhatikan. Namun, sepertinya lagi tidak hanya manusia yang melihat ke arahku, ada mahluk yang tak kasat mata yang sedang memperhatikanku. Dan aku merasa mereka ada di dalam rumah.
__ADS_1
Rumah ini, sangat ....
Saat melihat tembok di ruang tamu dari luar, Alangkah kagetnya aku begitu melihat foto Mang Udin yang terpajang di dinding. Aku sedikit memajukan langkah kaki, memastikan kalau yang kulihat itu memang benar. Mataku memang masih berfungsi baik. Ternyata benar kata Mang Beca tadi, kalau Mang Udin yang dia kenal itu sama dengan yang aku maksud.
Aku mengurungkan langkah ini masuk ke dalam. Lantaran saat baru memasuki ruang tamu, aku melihat sosok berkebaya, berambut panjang berantakan menyeringai melihat ke arahku. Wajahnya penuh dengan darah, apalagi mulutnya meneteskan banyak darah ke lantai. Wanita berkebaya tersenyum melotot ke arahku, seakan sedang mengucapkan selamat datang. Karena keseringan melihat setan, aku tahu kalau dia bukanlah manusia.
"Namamu, Ani, Dek? Apa dia bapakmu?" Aku menunjuk foto Mang Udin, lalu beralih mendekati Ani.
Bocah kecil berambut kriting itu mengangguk dan mulai menangis lagi.
"Maaf, Dek. Jangan menangis! Bukankah ini adalah hari ulang tahunmu?" tanyaku mencoba menenangkan bocah kecil bernama Ani.
Ani menyeka air matanya sambil menerima kado pemberianku. Kata Ani, memang benar hari ini adalah hari ulang tahunnya. Harusnya ini adalah hari bahagia untuk Ani. Namun nyatanya tidak, hari ini adalah hari yang paling menyedihkan bagi Ani. Dia mengatakan tadi malam bapaknya baru saja meninggal.
"Aku turut berduka cita, Ani."
Seorang tetangga yang menenangkan Ani, pamit ke depan, dia berkata hendak menyiapkan acara tahlilan untuk malam ini. Tetangga tadi juga bercerita Ani masih memiliki bu tiri, namun semenjak Mang Udin mengalami stroke, dia pergi meninggalkannya. Bahkan sekarang saja tak ikut melayat.
"Apa ini benar dari bapak?" tanya Ani sambil sesenggukan.
__ADS_1
Aku mengangguk sambil mengusap punggungnya. "Iya, Dek. Dibuka saja."
Bocah kecil yang sudah yatim piatu itu langsung membuka pembungkus kado. Aku melihat air matanya kembali menetes, ketika mengetahui isi bungkusan kado yang dibukanya itu adalah boneka barbie yang bapaknya janjikan sebelum sakit.
"Bapak ... bapak ...." Ani menyeka air matanya.
Melihat Ani menangis, aku langsung memeluk bocah kecil itu. Aku mengingat lagi pertemuan terakhirku semalam dengan Mang Udin, saat itu Mang Udin sampai meneteskan air mata ketika memberikan uang yang akan dibelikannya boneka kepadaku. Walaupun waktu itu aku tak mengerti maksud Mang Udin menyuruhku datang ke rumah. Namun, dari sorot mata bapak satu anak itu tadi malam, benar-benar menggambarkan kesedihannya.
Saking terharunya, aku sampai ikut meneteskan air mata. Ani memeluk erat boneka barbie pemberianku. Meskipun Ani masih berusia lima tahun, sepertinya dia cukup cerdas sebagai bocah kecil. Kata tetangganya tadi, Ani yang terbiasa hidup dengan bapaknya semenjak lahir, merasa benar-benar kehilangan sosok panutannya.
"Yang sabar ya Ani, kamu pasti kuat."
Aku mengusap rambut anak itu sambil memberitahukan pesan terakhir yang dititipkan Mang Udin untuk Ani. Tidak lama ketika kami menangis bersama, keluarga Mang Udin yang dari sumatera datang. Karena tak ingin mengganggu, aku memutuskan untuk pulang di menit itu juga.
***
"Neng Dara!"
Mendengar namaku dipanggil, aku langsung menengok ke arah sumber suara. "Pak Samsul," kataku begitu sampai di depan gang rumah Mang Udin. Aku melihat Pak Samsul, pemandi mayat di rumah sakit, sedang berdiri seperti bersembunyi di antara pohon pisang.
__ADS_1
"Ke sini sebentar. Ada yang ingin bapak bicarakan," kata Pak Samsul menyuruhku mendekat ke arahnya.