
Ibu sudah mulai terlelap. Sementara aku yang dari tadi terjaga, tak sengaja melihat keanehan ketika melihat ke luar jendela. Aku melihat lagi gadis berseragam SMA yang tadi aku lihat di lantai satu.
Gadis tersebut sedang berdiri sambil menangis, menghadap ke arahku. Tatapannya begitu kosong dan mengiba, seakan memberi kode untuk meminta pertolonganku.
"Siapa dia? Kenapa dia seperti ingin mengatakan sesuatu?"
Aku kembali melihat ibu, sepertinya kali ini tidurnya sudah sangat nyenyak. Aku menyelimuti ibu dulu sebelum meninggalkannya. Aku putuskan untuk keluar mendekati gadis itu. Yah, aku sangat penasaran mengapa gadis berseragam SMA itu berulang kali menemuiku, terlebih kali ini mengangkat satu tangan kirinya menempelkan ke Jendela.
"Siapa kamu?" tanyaku ketika sampai luar ruangan bertanya kepada gadis itu.
Dia diam saja, gadis berseragam putih abu itu terus menangis, tapi tanpa mengeluarkan suara sedikit pun hanya air matanya saja yang mengalir deras.
"Tunggu! Mau ke mana kamu?"
Wajah gadis itu sangat pucat. Dia langsung berjalan setelah sebelumnya menengok ke arahku berulang kali berharap aku mengikuti langkahnya.
"Hai, bisakah kamu berhenti sebentar?"
Dia akhirnya berhenti setelah sekian lama aku ikuti. Kali ini kita telah sampai di ruang Intensive Care Unit (ICU). Gadis tersebut menengok ke arahku lagi setelah itu tangannya terangkat, menunjuk jendela ruang ICU dari luar.
"Kamu ingin menunjukkan apa?"
Tak menjawab lagi, dan membuatku semakin penasaran dengan apa yang ditunjuknya. Gadis itu memberikan kode, seakan menyuruhku agar masuk ke dalam ruang tersebut. Aku menolak, karena suster akan melarang kalau ketahuan. aku Tak diperbolehkan sembarang orang masuk ke ruang ICU, walaupun aku karyawan di sini. Apalagi kondisiku memang sedang tidak dinas hari ini.
"Lain kali saja, aku akan menengoknya nanti."
Perkataanku membuat gadis itu menunduk. Wajahnya terlihat sedih. Tapi mau gimana lagi? Ini sudah prosedurnya.
"Dara." Sebuah suara tiba-tiba mengagetkanku dari belakang, "sedang apa kamu di sini?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Aku langsung berbalik badan. "Eh Suster Wina. Aku juga tidak tahu ... gadis ini yang mengajakku ke sini."
"Gadis yang mana?"
"Yang berdiri di sebelahku, Suster. Masa suster engga liat sih?"
Terlihat kening Suster Wina mengernyit. "Tidak ada orang di sampingmu, Dara. Kau ini!"
Masa iya tidak ada? Tidak mungkin kan Suster Wina tidak melihat?
"Siapa dia? Dari tadi aku ngga melihat seorang pun ada di sebelahmu, Dara."
Aku membalikkan badan lagi. Menengok ke kanan dan ke kiri. Benar kata suster Wina, ternyata tidak ada seorang pun di sebelahku.
"Aku tidak bohong. Tadi ada seorang gadis mengajakku ke mari, Sus."
"Sudah, Suster." Aku mengangguk. Entahlah kenapa pikiranku malah tidak enak kali ini. Aku malah memikirkan apa maksud gadis barusan. Kalau Suster Wina tidak melihat, itu tandanya gadis tersebut merupakan makhluk yang tak kasat mata.
Apa mungkin dia? Aku menduga-duga kalau gadis tersebut korban kecelakaan barusan. Dilihat dari seragamnya yang masih mengenakan pakaian putih abu.
"Tunggu, Suster." Aku menghentikan langkah Suster Wina yang hendak masuk ke ruang ICU.
"Iya, ada apa lagi, Dara?"
"Suster, aku ingin tanya. Siapa pasien yang sedang di ruang ICU sekarang? Apa pasien itu adalah seorang gadis berseragam SMA?" tanyaku sebelum suster Wina membuka pintu.
Suster Wina terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab. "Iya, yang ada di ruangan ICU sekarang adalah seorang gadis berseragam sekolah. Barusan setelah dia pulang dari sekolah, mengalami kecelakaan di jalan tadi. Pasien tersebut sedang dalam keadaan kritis. Kasihan sekali, tubuhnya robek di bagian tengah. Setelah diperiksa ternyata tangan satunya yang bagian kiri menghilang. Kabarnya, polisi sedang mencari keberadaannya di tempat. Tetapi sepertinya, belum ditemukan sampai sekarang."
Aku terdiam. Dugaanku sepertinya tidak salah. Gadis yang membawaku tadi juga tak memiliki satu tangan. Mungkinkah gadis itu menangis karena salah satu bagian tubuhnya menghilang?
__ADS_1
"Tragis sekali, Sust. Apa mungkin, tangannya remuk karena terkena bagian tajam bawah truk yang melindasnya?" tanyaku semakin penasaran.
"Entahlah, aku tidak tahu. Tak ada bekas daging yang berantakan atau tertindas di tempat kejadian. Kalau ada mungkin petugas sudah mengambilnya, Dara. Bisa jadi ... salah satu tangannya terpental jauh ke sawah. Sudahlah, kita tak usah menduga biar polisi yang menanganinya saja," kata Suster Wina, "aku tinggal sebentar, ya? Kalau ada apa-apa dengan ibumu. Hubungi saja suster jaga. Oh iya, Dokter Tika juga sudah datang. Kamu bisa berkonsultasi dengannya langsung."
"Iya, terima kasih, Sus informasinya."
"Sama-sama, Dara."
Perempuan yang mengenakan masker dan berseragam hijau itu menarik daun pintu, lalu masuk ke dalam ruang ICU meninggalkan aku sendirian.
Baru beberapa detik ditinggal sendirian, aku melihat lagi perempuan berseragam abu tadi. Kini posisinya agak menjauh di dekat tangga.
Gadis itu datang lagi? Sepetinya dia ingin memberikan sebuah pesan.
Mungkinkah dia adalah roh yang meninggalkan jasadnya karena tersesat?
Tangan kanannya terus melambai ke arahku. Sementara bagian kiri yang buntung, terlihat darah yang mengucur deras, menetes tiada henti sampai ke bawah tangga.
"Tunggu, aku ingin bicara sebentar?"
Aku berjalan cepat mengikuti langkah gadis tersebut menuruni tangga. Namun baru beberapa langkah, sebuah tangan menahanku.
"Jangan ikuti dulu, Dara."
"Pak Samsul!"
Aku menengok kaget melihat Pak Samsul menahan langkahku.
"Seorang pengikut sesat sudah menandainya menjadi tumbal. Lihatlah ada tanda hitam yang menghubungkan ke dua alisnya? Kamu pasti melihatnya tadi. Tubuhnya sekarang wangi bagi penciuman dedemit. Siapa pun yang sekarang menjalani praktik ilmu hitam sedang rebutan ingin menjadikannya tumbal," kata Pak Samsul lagi.
__ADS_1