
"Ibu!" Aku berlari mendekati ibu yang sudah berlumuran darah.
Dengan gerakan cepat, tanganku meraih pisau di tangan ibu yang digunakan untuk mencabik boneka Kemuning. "Apa yang ibu lakukan? Lihat paha ibu terluka!"
Seketika tubuh ibu ambruk ke samping dengan darah memenuhi dres putihnya. Sambil menangis, aku langsung memapah tubuh ibu ke ranjang. Entah apa yang membuat ibu sampai melukai dirinya sendiri?
Setelah membaringkan ibu, aku berlari menuju kamarku untuk mengambil kotak obat. Kemudian berlari lagi ke kamar ibu.
"Ibu kenapa menyakiti diri sendiri? Apa ibu tidak merasa sakit? Ini sangat membahayakan, Bu!"
Aku meluruskan kaki ibu yang telah berbaring di ranjang, membuka kain yang menutup pahanya lalu mengusap perlahan dengan kain kasa yang sudah ia dibasahi. Lukanya sangat parah, darahnya terus saja keluar meskipun sudah kubersihkan.
"Ya Allah, Bu. Kenapa jadi seperti ini?"
Bibir ibu meringis sambil merintih, sepertinya ibu merasakan perih, saat aku membubuhi pahanya dengan obat luka. Nampak luka itu terlhat tak beraturan membentuk sayatan. Walaupun lukanya tak terlalu dalam, tetap saja darah tak berhenti mengalir. Untung saja aku datang tepat waktu. Kalau tidak, aku yakin ibu akan lebih parah menyakiti dirinya dengan pisau.
__ADS_1
"Kemuning ingin menyakitimu, Dara. Dia ingin mengajakmu ikut dengannya ke sana. Ibu tidak mau!" ucap ibu dengan berlinang air mata.
Dari cara bicara ibu, sepertinya ibu tak sadar telah melukai dirinya sendiri. Entah ambisi dari mana sampai-sampai ibu ingin mengkoyak boneka kesayangannya. Sampai berakhir melukai dirinya sendiri.
"Ibu, kita harus ke rumah sakit sekarang! Luka ibu sangat parah. Dara tidak mau luka ibu menjadi infeksi," ucapku setelah membalut paha ibu dengan kain kasa.
"Aku harus menghancurkan Kemuning dulu, Dara. Dia terus mengganggumu. Kamu harus hati-hati," kata Ibu sambil menangis.
"Kemuning sudah meninggal semenjak ibu lahirkan. Benda itu hanyalah sebuah boneka, Ibu. Sadarlah!"
"Tidak! Dia adalah boneka yang diisi roh jahat Kemuning! Dia ingin kamu menjadi pengendali rohnya. Kemuning bukan manusia!" Ibu terus berteriak histeris.
"Tenanglah, Bu. Aku akan membawa ibu ke rumah sakit sekarang."
Bertepatan dengan adzan dhuhur, saat itu juga aku mengambil kursi roda milik Ni Rum di kamarnya. Meminjamnya sebentar untuk mengantar ibu ke rumah sakit. Saat itu tak ada Ni Rum, sampai aku berjalan mondar mandir ke ruangan lain, tapi tak kutemui juga Ni Rum. Tanpa menunggu persetujuannya, aku ambil saja kursi rodanya untuk mengantar ibuku.
__ADS_1
"Lebih baik aku pinjam saja sebentar. Lagipula Ni Rum masih bisa berjalan menggunakan tongkat. Mudah-mudahan Ni Rum mengerti mengapa aku mengambilnya tanpa izin karena keadaan darurat," pikirku.
Di tengah jalan saat baru keluar rumah. Aku melupakan sesuatu yang sangat penting yang harus aku bawa. Yah, aku melupakan kartu identitas Ibu dan tentunya dompetku. Aku kembali lagi ke dalam meninggalkan ibu di luar. Berlari cepat untuk mengambilnya.
"Siapa yang baru keluar dari kamar ibu?"
Aku menghentikan langkahku tepat di lorong sebelum sampai ke kamar ibu. Entah halusinasiku atau apa, sepertinya ada bayangan hitam yang baru saja keluar dari kamar ibu. Merasa ada yang janggal, aku langsung berlari melihat sekeliling. "Sebenarnya siapa tadi?"
"Ah sudahlah' lupakan bayangan itu. Aku harus cepat menolong ibu." Karena tak menangkap apa pun di sekitar kamar ibu, aku putuskan untuk fokus mengambil dompet.
"Hah, kenapa bonekanya kembali utuh? Siapa yang memperbaikinya?"
Aku terperangah. Pasalnya begitu masuk ke kamar ibu lagi, boneka kemuning kini kembali utuh meskipun sudah terdapat jahitan di sana sini. Mustahil kalau orang biasa yang memperbaikinya dengan waktu singkat beberapa menit.
Boneka kemuning kembali utuh sudah duduk seperti sedia kala, di kursi rotan merah dengan dacron yang berceceran ke lantai. Tak jauh dari boneka Kemuning, aku menemukan sebuah potongan kertas.
__ADS_1
"Tulisan ini kenapa aku merasa seperti ... mantra!"