
Bo Li melangkah mendekat kearah lemari kamarnya kemudian membuka laci tersebut.
Dia menengok kedalam laci lalu terbelalak lebar, ia terkejut tidak mendapati apa yang dicarinya di laci lemari kamarnya dan isi laci itu sekarang kosong.
Bo Li menoleh kearah peri kecil Dryada yang ada dibelakangnya kemudian menatapnya bingung.
"Mmm...?", gumam Bo Li dengan tatapan muram.
"Ada apa ?", tanya peri hijau daun kecil lalu terbang mendekat kearah Bo Li.
"Buku harianku..., buku itu hilang !", kata Bo Li.
"Mungkin kamu lupa menaruh buku tersebut, Bo Li !", sahut peri Dryada.
"Emm..., apakah aku meninggalkan buku harian itu begitu saja ketika Sistem Bo Li 115 mengirimku menjalani hukuman sehingga ada yang menemukannya ?", kata Bo Li.
"Apakah kamu meninggalkan buku harian itu di lantai kamar ?", kata peri Dryada.
"Astaga !", pekik Bo Li sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.
"Iya !?", kata peri Dryada.
"Mungkinkah ? Mungkinkah Ivander Liam yang telah menemukan buku harian milikku itu dan sekarang menyimpannya ?", pekik Bo Li.
"Cobalah kamu untuk mengingatnya ! Kemungkinan kamu menaruh buku harian itu ditempat lain !", kata peri Dryada.
"Tidak ! Tidak ! Aku mengingatnya jika aku meninggalkan buku harian itu setelah pergi ke dimensi waktu menuju dunia peri didalam kamar ini ! Aku tidak menaruhnya kembali kedalam laci lemari !", kata Bo Li mulai panik.
"Jika demikian itu artinya kamu telah meninggalkan buku harian itu tergeletak di lantai saat kamu pergi dari dunia manusia, Bo Li", kata peri Dryada.
"Celakanya, aku lupa jika sistem itu berubah kembali menjadi sebuah buku harian setelah aku pergi", kata Bo Li.
"Artinya ada seseorang yang telah memungut buku harian itu dari bawah lantai kamar ini dan mungkin...", ucap peri Dryada curiga.
"Mungkin Ivander Liam yang mengambilnya !!!", ucap mereka kompakan.
"Ya Tuhanku ! Ini akan sangat sulit untuk mengambilnya kembali dari tangan Ivander Liam !", kata Bo Li.
"Bagaimana kalau kita langsung ke kamarnya dan mencari buku harian itu sekarang !", kata peri Dryada.
"Tunggu, bagaimana caranya kita pergi ke kamar pria itu ? Dia pasti menemukan keberadaan kita disana !", kata Bo Li.
"Apakah kamu lupa jika sekarang kamu mampu mengendalikan kemampuan Amethyst Ungu itu ?", kata peri Dryada.
"Maksudmu ?", tanya Bo Li kebingungan.
"Yeah..., kamu bisa menggunakan kekuatan tembus pandangmu dan menyelinap kedalam kamar Ivander Liam untuk mencari buku harian itu, Bo Li !", kata peri kecil Dryada sambil mengepakkan sayapnya yang indah.
"Bagaimana caranya agar aku dapat menggunakan kekuatan Amethyst Ungu itu, peri ?", tanya Bo Li.
"Berkonsentrasilah, Bo Li !", kata peri kecil Dryada.
"Berkonsentrasi ???", kata Bo Li.
"Hmmm !?", gumam peri Dryada menganggukkan kepalanya.
"Mmm..., baiklah ! Aku akan mencobanya untuk berkonsentrasi !", kata Bo Li.
__ADS_1
Bo Li memejamkan kedua matanya dan mulai berkonsentrasi penuh, wajahnya terlihat sangat serius.
Perlahan-lahan aura dari dalam tubuh Bo Li memancar keluar sebuah aura berwarna ungu yang berkilaun indah.
Tubuh Bo Li pelan-pelan berubah menjadi transparan serta seluruh badan Bo Li mulai menjadi tembus pandang, ia lalu merasakan perubahan ditubuhnya yang menjadi dingin seperti saat ia berubah berwarna ungu.
Bo Li lalu membuka kedua matanya yang terpejam dan melihat kearah tubuhnya kembali berwarna ungu serta tembus pandang.
"Aku berubah kembali menjadi ungu dan tembus pandang mirip sekali dengan bayangan", kata Bo Li.
"Nah, sekarang kamu bisa pergi ke kamar Ivander Liam sekarang dan dapat menyelinap masuk kesana tanpa ada yang mengetahuinya", kata peri Dryada.
"Benarkah ? Apakah dia tidak dapat melihatku nanti ?", kata Bo Li.
"Ya, mungkin saja, maka berdoalah agar pria itu tidak mengetahuinya !", kata peri Dryada.
"Hah..., baiklah, aku akan berdoa didalam hati saja agar Ivander Liam tidak mengetahui keberadaanku yang tembus pandang", kata Bo Li seraya berdoa.
"Cepatlah, Bo Li ! Waktu sudah beranjak sore dan sebentar lagi hari akan mulai gelap, pria itu pasti akan pergi beristirahat ke kamarnya maka cepatlah pergi kesana sebelum Ivander Liam kembali ke kamar tidurnya", kata peri Dryada.
"Hmmm..., baiklah, aku akan segera pergi kesana dan tunggulah disini karena kamu tidak dapat berubah menjadi tembus pandang, peri !", kata Bo Li pada peri daun hijau kecil.
"M..., benar juga, kamera pengawas didalam rumah mewah ini akan dengan mudah menemukan kehadiranku didalam rumah ini", jawab peri Dryada.
"Benar sekali, karena kamu juga tidak dapat bersembunyi dibadanku saat aku berubah menjadi transparan seperti ini maka diamlah di kamar ini untuk berjaga-jaga, siapa tahu seseorang akan datang mencariku", kata Bo Li.
"Iya, aku mengerti, aku akan menjaga keadaan di kamar ini ketika kamu pergi dari sini, Bo Li", kata peri Dryada.
Bo Li lalu menganggukkan kepalanya dan pergi melesat cepat menuju kearah pintu kamar.
Sebelum dia pergi, Bo Li menoleh kembali kearah peri Dryada seraya menatapnya lurus kearah peri kecil itu.
"Baiklah, berhati-hatilah !!", sahut Bo Li lalu pergi secepat kilat keluar dari dalam kamar tidurnya.
Peri Dryada hanya menatap lurus Bo Li yang menghilang dari pandangan matanya dengan cepat kemudian peri daun hijau kecil itu menutup pintu kamar tidur Bo Li dan menguncinya.
***
Bo Li yang tembus pandang terlihat bergerak cepat bagaikan kilat didalam ruangan rumah mewah itu.
Dia melesat menuju kearah kamar Ivander Liam lalu masuk kedalam kamar pria itu tanpa membuka pintunya.
"Dimanakah buku harian itu berada ?", gumam Bo Li pada dirinya sendiri.
Bo Li bergerak pelan didalam ruangan kamar tidur Ivander Liam yang sangat luas.
Dia mulai mencari-cari buku harian miliknya diruangan kamar itu, mulai dari tempat tidur Ivander Liam, ia membuka selimut serta bantal tetapi ia tidak menemukan keberadaan buku harian itu disana.
"Mmm..., dimanakah buku harian itu berada sekarang ?", kata Bo Li lalu menoleh kearah sekeliling kamar tidur pria itu.
Kamar Ivander Liam sangatlah luas dan tidak mudah untuk mendapatkan buku harian itu didalam kamar tidur seluas ini.
Bo Li berkeliling didalam kamar tidur pria berambut pirang itu dan melihat-lihat keseluruh perabotan kamar tidur Ivander Liam yang tertata rapi.
"Hmmm..., dimanakah buku harian itu dia simpan ya ?", kata Bo Li.
Dia menghentikan langkahnya dan mengamati ruangan kamar itu, ia melihat kearah atas kamar tetapi anehnya dia tidak mendapati satupun kamera pengawas diruangan ini.
__ADS_1
Bo Li berpikir jika Ivander Liam telah menyembunyikan keberadaan kamera pengawas itu sehingga dia tidak dapat menemukan kamera itu.
"Apakah Ivander Liam tidak menaruh kamera pengawas di kamar pribadinya ? Ataukah dia sengaja menyembunyikan kamera itu tersembunyi agar tak seorangpun melihatnya ?", kata Bo Li.
Dia berjalan pelan kearah sebuah lemari di kamar tersebut, lalu berhenti tepat disana seraya memandangi lemari itu karena hanya ada satu lemari didalam kamar Ivander Liam yaitu lemari yang ada didepan Bo Li.
"Kamar seluas ini hanya ada satu lemari ?", kata Bo Li.
Dia meraih pintu lemari kemudian berhenti sesaat, berpikir cepat.
"Untuk apa aku membuka pintu lemari, bukankah aku dapat menembus semua benda didalam ruangan kamar ini ? Bagaimana jika aku langsung masuk kedalam lemari untuk mencari buku harian tersebut ?", kata Bo Li.
Bo Li langsung masuk kedalam lemari yang ada didepannya dan mulai mencari-cari keberadaan buku harian miliknya akan tetapi dia sama sekali tidak menemukan buku tersebut didalam lemari.
Dia menghentikan aktivitasnya dan mengeluarkan tubuhnya dari dalam lemari lalu terdiam.
Bo Li yang kini telah berubah menjadi makhluk ungu dan tembus pandang itu termenung sesaat memandangi lemari, buku harian itu tidak ada disana lantas dimanakah buku harian itu disimpan oleh Ivander Liam.
"Aku harus segera menemukannya secepatnya sebelum Ivander Liam kembali ke kamar ini", kata Bo Li.
Dia bergerak cepat keseluruh ruangan kamar tidur mewah itu dan mencari disetiap sudut kamar mulai dari kursi sofa sampai balik cermin yang ada di kamar luas itu.
Tetap saja dia tidak menemukan apapun yang dia cari di kamar itu.
Buku harian miliknya tidak dapat dia temukan dimana-mana dan anehnya meski hanya ada satu lemari pakaian didalam kamar ini tetap sangat sulit menemukan buku harian itu.
Bo Li menoleh kedalam laci meja yang ada disamping tempat tidur, dia telah melewatkan kedua meja tersebut.
"Aku belum mencari didalam laci meja itu, mungkin saja buku harian itu diletakkan disana", kata Bo Li.
Dia bergerak cepat menuju meja yang berada disamping tempat tidur Ivander Liam lalu membuka laci meja itu dan dia melihat buku harian miliknya terletak didalam laci meja, ia meraih buku harian miliknya.
Tiba-tiba dari arah pintu kamar terdengar suara kunci pintu berputar dan pintu tersebut terbuka.
Seorang pria berambut pirang serta berpakaian serba hitam muncul dari balik pintu dan masuk kedalam kamar, Bo Li dengan terburu-buru menutup laci meja saat pria itu melangkah masuk.
"Ivander Liam ? Rupanya dia telah kembali ke rumah setelah pergi dari kamarku tadi", kata Bo Li.
Dia lalu melesat cepat kearah pintu kamar yang agak terbuka sedikit lalu terdiam menatap kearah Ivander Liam.
"Siapa ?", kata Ivander Liam.
"Hah ? Apa ? Apakah dia mampu melihat diriku yang transparan ini ?", kata Bo Li tercengang.
"Siapa ? Siapa disana ? Kenapa kamu masuk kedalam kamarku ?", ucap Ivander Liam.
"Apakah dia mampu melihatku ?", gumam Bo Li pelan.
Ivander Liam perlahan berjalan mendekat kearah pintu kamar dimana Bo Li berada tepat berdiri disana dengan tubuh berwarna ungu yang tembus pandang.
"Aku harus pergi dari sini, sebelum dia benar-benar menyadari keberadaanku disini", kata Bo Li lalu cepat pergi meninggalkan kamar tersebut secepat kilat.
"Tunggu ! Jangan lari !", teriak Ivander Liam berlari menyusul bayangan ungu yang ada didepan pintu kamarnya.
Ivander Liam melihat sesosok bayangan bergerak melesat kilat disepanjang koridor ruangan rumahnya lalu menghilang sekejap mata dari pandangannya.
Pergi bagaikan angin...
__ADS_1
Dan tanpa meninggalkan jejak disetiap tempat dia berpijak.
Tak satupun jejak langkah kakinya yang terlihat diruangan lantai rumah mewah Ivander Liam. "Apakah dia sesosok siluman ?", batin Ivander Liam termenung sendirian didepan pintu kamar tidurnya yang luas.