BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
Mata Iblis


__ADS_3


Di sudut suatu ruangan dengan cahaya remang, terlihat seorang pria duduk di atas kursi seraya menyilangkan kedua kakinya ke atas.


Tidak terlihat jelas wajah pria itu karena tersamarkan oleh tirai yang membayang menutupi wajah pria tersebut.


"Apakah kalian telah menyelesaikan tugas yang aku berikan untuk mencari keberadaan buah surga itu ?", tanya pria itu.


"Hog... Hog... Hog... Kami sudah mencarinya tetapi yang kami temukan hanya aroma buah surga itu, tuanku", sahut makhluk yang mirip landak terbang mendekat ke arah pria itu.


"Aroma buah surga ? Dimana kalian menemukannya ?", tanya pria misterius itu.


"Hog... Hog... Hog... ! Kami mencium aroma buah surga itu di badan seorang perempuan cantik yang kami temui di sebuah rumah mewah tetapi kami tidak mengetahui identitasnya karena perempuan itu tertutup oleh semacam mantra pelindung, tuanku", sahut makhluk aneh itu.


"Murdhuacha, aku perintahkan kalian untuk menyelidiki keberadaannya dan mencari tempat tinggal perempuan cantik itu, segera laporkan perkembangannya kepadaku secepatnya, kalian mengerti", ucap pria itu.


"Hog ! Hog ! Hog ! Baik tuanku, kami akan segera pergi untuk mencari perempuan cantik itu, apakah kami harus membawanya kehadapan anda tuanku", sahut makhluk aneh yang ternyata Murdhuacha.


"Bawalah kemari jika kamu sanggup melakukannya dan jangan sampai ia terluka, karena aku membutuhkan dirinya, kamu mengerti", ucap pria misterius itu.


"Hog... Hog... Hog... Hog... Siap tuanku, kami akan mohon pamit untuk mencari perempuan beraroma buah Amethyst Ungu itu, tuanku", kata Murdhuacha.


"Pergilah ! Dan bawalah segera dia ke hadapanku secepatnya ! Ingat ! Jika kalian sampai gagal maka kalian harus tahu akan konsekuesinya, mengerti !?", ucap pria itu seraya mengibaskan salah satu tangannya ke arah makhluk landak di depannya.


"Hog... Hog... Hog... Kami mengerti tuanku, selamat malam tuanku, semoga hari anda menyenangkan malam ini", sahut Murdhuacha.


Tampak kilatan bayangan hitam menuju keluar dari ruangan salah satu gedung hotel dan bergerak cepat lalu menyebar.


Sebagian dari mereka bergerak ke arah gedung hotel bintang lima serta puncak gedung tempat Bo Li dan Ivander Liam yang tengah menghadiri acara pesta malam itu.


Gerakan mereka tidak terbaca bahkan sangat cepat sekali, makhluk yang mirip seperti landak dapat berubah wujud serta mampu menyesatkan pandangan manusia.


Kemampuan Murdhuacha yang menipu setiap makhluk yang diganggunya tidak dapat terbaca oleh panca indera yang dimiliki makhluk lainnya sehingga tidak ada yang akan tahu penyamaran Murdhuacha di sekitar area manusia.


Hanya orang berkemampuan khusus saja yang dapat menemukan keberadaan makhluk aneh yang termasuk golongan peri, yaitu peri landak atau yang dikenal dengan nama lainnya, Murdhuacha.


Gedung hotel bintang lima, aula hotel...


Sebuah ruang tunggu hotel, terlihat seorang wanita bergaun merah tengah berdiri menunggu seseorang di sana.


Sesekali ia menolehkan kepalanya ke sekitar ruangan tunggu yang sangat sepi, memang ruang yang merupakan salah satu bagian dari aula hotel bintang lima diperuntukkan secara khusus bagi penyewa aula.


Bisa disebut sebagai ruang privat bagi pengguna aula untuk pesta atau acara lainnya di hotel.


"Rebecca Menfez !", terdengar suara pria memanggil nama perempuan itu.


"Abiyyu ! Sayangku, aku sudah menunggumu dari tadi, kemana saja sayangku ? Kakiku sampai kesemutan karena lama berdiri, sayangku", ucap manja Rebecca Menfez.


"Maaf sayang, aku tadi harus menemui rekan-rekan bisnis lainnya sebelum kemari. Apakah kamu lelah ? Bagaimana jika kita duduk sebentar di bangku tunggu itu !?", sahut Abiyyu.


"Uhk, baiklah, kakiku capai sekali ! Apa yang ingin kamu sampaikan sehingga kita harus bertemu di ruang se-privat ini ?", tanya Rebecca Menfez.


"Ada yang ingin aku katakan padamu secara pribadi, mungkin ini agak sulit untukmu, sayangku", sahut Abiyyu Kuota.


"Apakah itu, sayangku ?", tanya Rebecca Menfez.


"Aku memberimu tugas penting, apakah kamu sanggup untuk melakukakannya ?", ucap Abiyyu Kuota.


"Tugas apakah itu ?", tanya wanita itu.


"Tolong kamu selidiki perusahaan Ivander Liam dan carilah data perusahaan-perusahaan yang bekerjasama dengannya, kamu paham bukan, sayangku !?", ucap Abiyyu Kuota.

__ADS_1


"Menyelidiki Ivander Liam ? Untuk apa ?", tanya Rebecca Menfez terkejut.


"Kenapa ? Apakah kamu merasa keberatan, sayangku ?", tanya Abiyyu Kuota seraya mengerutkan dahinya.


"Ehk tidak ! Aku tidak keberatan sama sekali tetapi bagaimana caranya aku dapat masuk ke perusahaan itu untuk mengambil data-data yang sangat rahasia itu ? Bukannya penjagaan di sana sangat ketat sekali, sayangku !?", ucap Rebecca Menfez.


"Aku tahu itu, tetapi bukankah kamu pintar berakting maka gunakanlah bakatmu itu untuk mendapatkan data-data itu, sayangku", kata Abiyyu Kuota.


"Hmmm... !?", gumam Rebecca Menfez.


Rebecca Menfez terdiam memandangi pria muda di hadapannya itu seraya bergumam di dalam hatinya.


"Ini merupakan kesempatan baik buatku untuk mendekati Ivander Liam, aku juga bisa memanfaatkan peluang ini dan menjadikan tugas dari Abiyyu sebagai alasan kuat untuk menjalin kedekatan dengan pria tampan itu. Aku akan mengiyakan saja perkataan Abiyyu, meski aku tidak mendapatkan data-data perusahaan tetapi aku dapat mendekati Ivander Liam serta mungkin saja aku bisa memiliki pria itu..."


Wanita bergaun merah itu lalu menganggukkan kepalanya setuju untuk menerima tugas dari Abiyyu yang merupakan kekasihnya itu.


"Jika aku boleh tahu, apakah tujuanmu mendapatkan data-data perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Ivander Liam ?", tanya Rebecca Menfez.


"Sebenarnya itu rahasia, tetapi aku akan membocorkan sedikit padamu mengenai tujuanku untuk mendapatkan data-data tersebut", jawab Abiyyu Kuota.


"Apakah kamu tidak mempercayaiku, sayangku !? Lalu untuk apa kamu memberiku tugas mengambil data-data tersebut jika kamu tidak percaya padaku !?", kata Rebecca Menfez.


"Hmmm..., aku bukan tidak mempercayaimu, hanya saja ini bersifat rahasia dan siapa saja yang mengetahui rahasia ini harus dilenyapkan...", sahut Abiyyu Kuota.


"Apa ? D--di lenyapkan ?", sahut Rebecca Menfez terpaku kaget.


Dia langsung merasakan tubuhnya menjadi membeku ketika mendengar jawaban yang keluar dari bibir Abiyyu Kuota.


"Tujuanku adalah menguasai aset perusahaan milik Ivander Liam dan mengambil alih perusahaan tersebut dari pria sombong itu", ucap Abiyyu Kuota dengan menatap tajam Rebecca Menfez.


"Untuk apa kamu mengambil perusahaan miliknya, apakah itu terlalu penting buatmu, sayangku ?", tanya Rebecca Menfez.


"Oh itukah alasan di balik rencana rahasia mu itu, sayangku", kata Rebecca Menfez tertegun.


"Yah... terdengar sederhana tetapi memiliki pengaruh sangat besar untukku, sayang", kata Abiyyu Kuota.


"Emm !? Aku paham, sayangku", ucap wanita bergaun merah itu.


"Baiklah, tidak ada lagi yang harus aku bicarakan denganmu, kamu boleh pergi dari ruang tunggu ini dan kembali ke acara pesta, sayangku", kata Abiyyu Kuota.


"Oh iya, iya, aku akan segera ke acara pesta lagi jika tidak ada yang kamu tugaskan padaku, sayangku", ucap Rebecca Menfez.


"Iya...", sahut Abiyyu Kuota singkat.


Pada saat Rebecca Menfez hendak melangkahkan kakinya keluar dari ruang tunggu, Abiyyu Kuota kembali memanggil wanita bergaun merah itu.


"Rebecca Menfez", ucap Abiyyu Kuota.


"Iya, ada apa sayangku !?", sahut Rebecca Menfez.


Dia membalikkan badannya dengan kaku ke arah pria itu lalu menghadap kepada pria bernama Abiyyu Kuota, terlihat sekali wanita bergaun merah itu tengah ketakutan serta merasa sangat ngeri saat kembali melihat pria tersebut.


Keringat dingin mengalir turun dari kening Rebecca Menfez saat berhadapan dengan Abiyyu Kuota.


"Kamu harus ingat pesanku, jangan sampai rahasia ini bocor ke luar, kamu tahu akan resikonya jika rencana ini diketahui oleh orang lain atau Ivander Liam, bukan ?", kata Abiyyu Kuota.


"A--aku... Aku mengerti sayangku, aku tahu itu, percayalah padaku, aku tidak akan membocorkan rahasia ini kepada siapapun, sa--sayangku...", sahut Rebecca Menfez.


"Baiklah, kamu boleh pergi, sayangku, dan ingat akan resiko dari pekerjaan ini, akan dilenyapkan jika tugas ini sampai bocor keluar, kamu mengerti, Rebecca Menfez", kata Abiyyu Kuota.


"Aku paham, Abiyyu Kuota", jawab Rebecca Menfez.

__ADS_1


Rebecca Menfez lalu pergi meninggalkan ruangan tunggu privasi itu menuju kembali ke aula hotel bintang lima untuk menghadiri acara pesta malam yang diadakan Abiyyu Kuota untuk merayakan kerjasama diantara perusahaan miliknya dengan perusahaan yang dipimpin Ivander Liam.


Terlihat seorang pria muncul dari balik remangnya lampu ruang tunggu privasi itu seraya mengajak bicara Abiyyu Kuota yang berdiri menatap lurus ke arah pintu ruangan tersebut.


"Kenapa kamu memberikan tugas ini kepada wanita seperti dia ?", tanya pria itu.


"Itu lebih baik kalau aku menyerahkan tugas rahasia dan sepenting ini kepada Rebecca Menfez karena wanita licik itu sedang mengincar Ivander Liam untuk ia miliki", sahut Abiyyu Kuota.


"Bukankah wanita itu memiliki hubungan spesial denganmu, lalu kenapa kamu membiarkannya dan memberinya peluang kepadanya mendekati pria itu ?", tanya pria misterius itu.


"Heh... Aku hanya menarik dua umpan sekaligus untuk aku lenyapkan...", sahut Abiyyu Kuota seraya tersenyum sinis.


"Apa kamu tidak akan menyesalinya ?", tanya pria dari balik remangnya lampu.


"Untuk seorang pengkhianat seperti Rebecca Menfez, aku tidak akan pernah menyesalinya, dengan mengirimnya dalam tugas rahasia ini akan menjebak wanita itu pada dua pilihan yang hanya dia yang tahu harus mengambil pilihan yang mana untuk dirinya", jawab Abiyyu Kuota.


"Hmmm... Kamu banyak berubah sejak tumbuh dewasa...", ucap pria itu dengan dinginnya.


"Aku banyak belajar darimu", kata Abiyyu Kuota seraya melangkah pergi meninggalkan pria misterius yang berada di balik remangnya lampu.


Pria misterius itu menatap Abiyyu Kuota dengan mata berkilat-kilat saat dia pergi keluar dari ruangan tunggu aula hotel.


Tampak pria itu tersenyum tipis lalu menghilang dari balik remangnya lampu ruangan.


Bo Li duduk di kursi tamu yang disediakan hotel untuk acara pesta, di sampingnya Ivander Liam turut duduk menemani Bo Li yang menikmati hidangan makan malamnya.


"Maaf, kamu harus mengalami kejadian yang tidak mengenakkan seperti tadi, Bo Li", kata Ivander Liam.


"Tidak apa-apa, mungkin juga salahku karena berdiri terlalu lama di muka jalan masuk sehingga menghalangi orang lain", ucap Bo Li sambil mengiris steak saus krem di atas piring makannya.


"Mmm... Setelah makan malam, aku akan segera mengajakmu pulang ke rumah, Bo Li", kata Ivander Liam.


"Jangan bersikap seperti itu, akan tidak baik terlalu menarik perhatian dengan pergi meninggalkan pesta yang masih berlangsung, Ivander Liam", kata Bo Li.


"Tidak masalah buatku untuk pergi dari acara pesta ini karena ini tidak terlalu penting bagiku dibandingkan dirimu, Bo Li", ucap Ivander Liam.


Bo Li terdiam dan tidak melanjutkan lagi pembicaraannya dengan Ivander Liam saat di meja makan hotel.


Dia langsung melahap habis hidangan makan malamnya tanpa bersuara lagi seraya menikmati musik yang mengalun merdu di ruangan aula hotel sepanjang acara pesta masih berlangsung.


Tiba-tiba Bo Li merasakan sesuatu tengah mengamati tempat ini, tapi ia tidak terlalu meresponnya dan hanya bersikap waspada.


Diam-diam Bo Li memperhatikan sekeliling ruangan aula hotel bintang lima tempat pesta makan malam diadakan, ia mencari arah datangnya sesuatu yang asing itu.


Bo Li melihat sepasang mata di kaca jendela hotel sedang melihat ke dalam aula ini. Mata itu berwarna merah mengkilat serta memancarkan hawa iblis yang sangat kuat di seluruh ruangan aula, seolah-olah tengah mengincar sesuatu di tempat itu.


"Apa itu ?", gumam Bo Li kaget.


"Ada apa, Bo Li ?", tanya Ivander Liam.


"Tidak ada apa-apa, Ivander Liam... Aku hanya terkejut saja karena kakiku terasa ada yang menggigit, mungkin semut...", sahut Bo Li dengan cepat mengalihkan pembicaraan mereka.


"Benarkah ? Jika ada yang perlu kamu beritahukan kepadaku, katakan saja, aku pasti akan mendengarkannya, Bo Li", ucap Ivander Liam.


"Emm..., tidak..., tidak ada apa-apa dan tidak ada yang perlu aku katakan karena memang tidak ada yang terlalu penting untuk aku sampaikan, Ivander Liam", kata Bo Li berusaha menutupi rasa paniknya.


"Hmm... Baiklah, jika memang seperti itu tetapi kamu tidak perlu sungkan untuk mengatakan hal yang mengganggu pikiranmu itu, Bo Li", ucap Ivander Liam seraya memutar tangannya di samping kepalanya.


"Iya, aku tahu itu, Ivander Liam", sahut Bo Li.


Bo Li berusaha tetap tenang agar Ivander Liam tidak membaca pikirannya serta gerak-gerik tubuhnya yang terganggu dengan kehadiran "mata iblis" yang baru dilihatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2