
Bo Li memberi aba-aba kepada peri kecil daun hijau untuk segera bersembunyi dari pandangan orang lain.
Dia mengangkat jari tangannya dengan memulai pada jari kelingking hingga jari tengah seraya berhitung.
"Satu... Dua... Dan Tiga...", ucap Bo Li berseru sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
Bersamaan terbukanya pintu kamar tidur, peri kecil daun hijau itu turut menghilang dan bersembunyi di dalam selimut tebal yang ada di atas tempat tidur di ruangan itu.
Suara Bo Li tercekat saat ia melihat orang yang berdiri di depan kamar tidurnya ternyata pria berambut pirang.
Pria dengan setelan jas lengkap dengan bawahan celana warna hitam tengah dan mengenakan sepasang sepatu warna senada sedang menatap tajam ke arah Bo Li.
"Ivander Liam...", ucap Bo Li terkejut.
Pria berambut pirang itu hanya memandangi perempuan cantik di hadapannya tanpa berkedip sedikitpun.
Tak lama dia mulai sadar dan terbatuk-batuk seraya mengalihkan pandangannya dari Bo Li yang ada di depannya.
"Uhuk... Ehem... Ehem... !?", pria itu tengah berdehem lalu melirik ke arah Bo Li.
Hanya itu yang bisa dilakukan pria bernampilan formal bernama Ivander Liam saat melihat tunangannya.
Tak banyak kata yang diucapkan oleh Ivander Liam ketika ia melihat penampilan Bo Li.
Tampak perempuan cantik dengan balutan gaun pesta warna ungu yang berkilauan itu berdiri sangat anggun sekali.
Bo Li terlihat sangat berbeda dari biasanya, malam ini dia benar-benar menjelma bak seorang puteri dalam dongeng yang sangat cantik jelita.
Wajah Ivander Liam berubah memerah ketika ia melihat Bo Li dengan balutan gaun pesta yang indah itu serta sebuah mahkota yang menghiasi kepalanya berdiri menyambut kedatangannya di kamar.
"Ehem... Apakah kamu sudah siap ?", tanya Ivander Liam sambil menatap Bo Li penuh pesona.
"Em, iya, aku sudah siap dan menunggumu sedari tadi, Ivander Liam", sahut Bo Li seraya menundukkan pandangannya.
"Ehem... Ehem... ! Baiklah, kita segera berangkat ke acara pesta itu", kata Ivander Liam sambil berdehem, bukan karena tenggorokannya gatal karena ia terpesona dengan Bo Li yang terlihat sangat cantik bagaikan bidadari, malam itu.
"Baik. Mari kita pergi ke acara itu", kata Bo Li.
"Mmmm... Iya... !?", sahut Ivander Liam bingung.
Bo Li melangkahkan kedua kakinya ke depan dan pada saat ia berjalan, muncul sepasang sepatu yang sangat cantik menghias di kedua kaki Bo Li.
Akibat ia terlalu memperhatikan sepasang sepatu baru, Bo Li tidak melihat langkah kakinya dan ia tersandung lalu terjatuh pada pria yang berdiri di depannya.
Ivander Liam menangkap tubuh Bo Li dengan sigapnya dan memeluk erat perempuan cantik itu.
Keduanya lama terdiam mematung dalam pikiran mereka masing-masing. Bo Li hampir kaku dalam pelukan pria itu, dia nyaris tidak percaya akan terjatuh ke dalam dekapan Ivander Liam yang merupakan tunangannya.
Peri kecil daun hijau yang berada sangat jauh dari mereka berdua, ia terlihat tengah mengintip dari balik selimut, pemandangan yang tidak akan pernah ia duga sebelumnya.
"Haish... Romantisnya..., ini seperti gambaran sepasang bidadari yang sedang kasmaran dan saling jatuh cinta..., sangat indah sekali...", ucap peri kecil daun hijau seraya tersenyum lembut.
Peri Dryada lalu memutar tongkat ajaibnya ke arah kedua pasangan tersebut, sekali hentakan lalu muncul cahaya pelangi meluncur cepat ke arah Bo Li. Dan terdengar suara dari perempuan cantik itu.
"Awh !?", pekik Bo Li pelan.
Tubuh Bo Li semakin menempel erat kedalam pelukan Ivander Liam karena cahaya ajaib itu mendorong tubuhnya cukup keras ke pelukan pria itu sehingga mukanya membentur kancing jas pria berambut pirang.
"Ehk !? Apa kamu baik-baik saja ? Kenapa kamu menjerit, B--bo Li ?", tanya Ivander Liam tertegun.
"Argh... Tidak apa-apa... Kepalaku terbentur kancing jasmu", sahut Bo Li.
__ADS_1
"Mana !? Mana coba aku lihat !?", ucap Ivander Liam panik.
"Aku baik-baik saja, hanya terkena kancing", kata Bo Li.
"Tidak ! Tidak ! Aku harus melihatnya, tunggu sebentar, aku akan memeriksanya", ucap Ivander Liam.
Pria berpenampilan sangat keren itu dengan setelan jas lengkap warna hitam serta dasi berwarna ungu menggandeng tangan Bo Li ke sebuah sofa yang terletak di dalam ruangan tidur.
Ivander Liam tanpa sadar langsung mendudukkan tubuh Bo Li di atas sofa yang ada di ruang tidur dan diikuti oleh pria itu yang turut duduk bersamanya.
Memeriksa kepala Bo Li yang terbentur kancing jas yang ia kenakan dengan penuh perhatian kemudian meniup kening perempuan cantik itu yang agak memerah.
"Aku harap kamu akan baik-baik saja setelah ini, maaf membuatmu harus mengalami insiden kecil ini, Bo Li", ucap Ivander Liam sambil mengusap lembut kepala Bo Li.
Bo Li yang menerima perhatian dari Ivander Liam hanya termangu kaku, apalagi ia tengah berada di dekat pria yang sangat tampan itu sehingga ia semakin tidak dapat mengucapkan sepatah katapun, dan yang keluar dari bibirnya yang mengkilat oleh sapuhan lipstik berwarna merah itu hanyalah kata "M".
"M...", gumam Bo Li.
"Kenapa ? Apakah masih sakit ?", tanya Ivander Liam lembut.
Bo Li hanya mampu melihat pria tersebut dengan raut wajah tersipu malu, dengan refleks ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Mata Ivander Liam terbelalak kaget lalu pria berambut pirang itu tersenyum lembut melihat tingkah laku perempuan cantik yang ada di atas sofa itu.
"Apakah kamu malu ?", tanya Ivander Liam.
Tidak ada jawaban dari Bo Li, perempuan cantik itu hanya terdiam membisu.
Ivander Liam meraih kedua tangan Bo Li yang menutupi wajah perempuan bergaun warna ungu itu, perlahan-lahan ia melepaskan tangan tersebut kemudian menatap teduh Bo Li seraya tersenyum lembut.
"Kamu malu, Bo Li", ucap Ivander Liam.
Bo Li tidak berani menatap pria di hadapannya itu dan menundukkan wajahnya serta berusaha menghindari kontak mata dengan pria tersebut.
Terlihat wajah Bo Li yang bersemu merah menahan rasa malunya.
"Oh tidak, aku tidak merasa malu, sungguh, dan aku baik-baik saja", ucap Bo Li gugup.
Bo Li segera berdiri dan mencoba menghindari kontak fisik dengan Ivander Liam serta tetap menjaga jarak dengan pria itu. Tetapi gaun pesta yang sedikit merepotkannya karena ia tidak terbiasa memakai gaun pesta membuat Bo Li kehilangan keseimbangannya saat berjalan dan ia tersandung kembali.
Tetap Ivander Liam lah yang menolongnya agar tidak terjatuh dan dengan cepat pria itu menangkap kembali tubuh Bo Li yang terhuyung-huyung ke depan karena tersandung gaun pestanya.
"Berhati-hatilah, Bo Li !", ucap Ivander Liam di dekat telinga Bo Li.
"Emm...!?", gumam Bo Li.
Bo Li memalingkan wajahnya cepat ke arah Ivander Liam dan tanpa sengaja wajah keduanya bertemu serta hampir saling bersentuhan.
Mereka berdua berdiri saling mematung saat berhadap-hadapan satu sama lainnya, terdengar bunyi degup jantung Bo Li yang berdetak kencang ketika menatap mata Ivander Liam.
"Sayang...sekali... Jika kita terlalu lama membuang-buang waktu kita di dalam ruangan ini, Bisakah kita segera menyelesaikan acara pesta itu, Ivander Liam ?", kata Bo Li.
Peri Dryada tampak kesal mendengar ucapan Bo Li yang tidak peka terhadap perhatian yang diberikan oleh Ivander Liam, peri kecil itu memukul pelan bantalan yang ada di bawahnya.
"Apa yang Bo Li katakan !? Seharusnya ia langsung bergelayut manja pada pria itu, bukannya bicara seperti itu !", bisik Peri Dryada sambil menepuk keningnya kesal.
Peri kecil daun hijau itu sangat gemas sekali melihat sikap kaku yang ditunjukkan Bo Li kepada Ivander Liam.
"Bukankah mereka adalah pasangan yang telah bertunangan lalu kenapa masih malu-malu untuk saling mengungkapkan perasaan mereka berdua !? Haruskah aku turun tangan membantunya lagi !?", ucap Peri Dryada dari balik selimut tengah mengintip.
Ivander Liam tersenyum mendengar ucapan Bo Li dan melihat wajah perempuan itu bersemu merah karena malu.
Pria berambut pirang itu lantas merangkul pinggang Bo Li lalu menatapnya lekat-lekat seraya berkata padanya.
__ADS_1
"Mari kita berangkat menghadiri acara pesta malam ini, Bo Li", bisik lembut Ivander Liam.
"Ehk !?", sahut Bo Li tersentak kaget.
Bo Li berusaha mundur dari Ivander Liam dan menjaga jarak dengan pria berwajah tampan itu. Namun, Ivander Liam meraih kembali pinggang Bo Li dan merangkul pinggang langsing perempuan cantik itu.
Ivander Liam melangkahkan kakinya dengan langkah hati-hati sembari merangkul pinggang Bo Li erat-erat.
Mereka berdua pergi meninggalkan ruang tidur menuju keluar.
Sekumpulan bintang bercahaya warna-warni terbang mengikuti mereka dari arah belakang dan memaksa salah satu tangan Bo Li untuk bergerak sendiri.
Bo Li yang mengetahui tangannya bergerak sendiri hanya terdiam membeku sembari melirik ke arah tangannya yang dipenuhi bintang-bintang penuh cahaya berwarna-warni yang indah.
Dia membelalakkan kedua matanya lebar-lebar saat menyadari tangannya bergerak ke tubuh Ivander Liam.
"Apa yang sedang aku lakukan !? K--kenapa..., kenapa tanganku bergerak sendiri !? Apa, apa yang terjadi !? Oh Tuhan, tidak !?", ucap Bo Li dalam hatinya.
Tangan perempuan tersebut terangkat ke atas seraya mengusap lembut punggung Ivander Liam kemudian merangkul lengan tangan pria berambut pirang itu.
Ivander Liam menolehkan kepalanya seraya tersenyum kepada Bo Li atas perlakuan perempuan cantik itu kepada dirinya sedangkan Bo Li yang kaget dengan sikapnya sendiri tampak kebingungan tidak mengerti.
"Kamu sangat cantik sekali malam ini, Bo Li", ucap Ivander Liam seraya mengusap lembut pipi Bo Li.
"Emm !? Terimakasih !?", sahut Bo Li.
Bo Li berusaha menjaga konsentrasi pikirannya tetap stabil agar tidak terpengaruh dengan suasana malam itu karena jika tidak ia akan berubah menjadi berwarna ungu apabila pikirannya panik dan emosinya terpengaruhi.
Kedua pasangan itu berjalan menuruni anak tangga ruangan rumah dengan langkah sangat hati-hati, terlihat Ivander Liam menuntun Bo Li sangat penuh perhatian ketika mereka melangkah turun ke bawah.
"Berhati-hati dan perhatikan langkah kakimu, Bo Li", ucap Ivander Liam.
"Iya, iya, terimakasih atas perhatiannya", kata Bo Li seraya menatap Ivander Liam.
"Mari kita menuju keluar rumah, mobil sudah lama menunggu kita karena itulah aku menjemputmu ke atas tadi", kata Ivander Liam.
"Oh m--maaf, maafkan aku jika membuatmu lama menunggu di luar sebab aku tengah mempersiapkan diriku agar tampil baik di acara pesta itu", ucap Bo Li.
"Hmm...", gumam Ivander Liam.
"Aku agak kesulitan dengan gaun baruku ini dan belum terbiasa sehingga membuatmu lama menunggu, maafkan aku", kata Bo Li.
Ivander Liam hanya tersenyum mendengar ucapan Bo Li dan saat ia melihat perempuan cantik itu tengah kesulitan berjalan karena gaun pesta yang dikenakannya.
"Aku akan sering-sering mengajakmu keluar ke acara pesta supaya kamu terbiasa mengenakan gaun pesta yang cantik, Bo Li", ucap Ivander Liam.
"Sering-sering ke acara pesta !? Apakah kamu punya banyak undangan acara pesta sehingga aku harus menghadirinya bersama denganmu !?", tanya Bo Li seraya menengadahkan kepalanya ke arah Ivander Liam.
"Yah, kamu harus ikut bersamaku sebab kamu adalah tunanganku dan bagaimana bisa aku tidak mengajakmu ke setiap acara pesta tersebut, Bo Li", sahut Ivander Liam.
"Haruskah itu aku lakukan !?", ucap Bo Li bergumam lirih.
Terlihat dua orang petugas keamanan berdiri di depan pintu rumah yang berukuran besar dan tengah menunggu kedatangan mereka berdua disana.
Pada saat Bo Li dan Ivander Liam datang menuju ke arah pintu keluar rumah, kedua petugas keamanan langsung membuka pintu rumah dengan sangat lebar agar mereka berdua dapat berjalan leluasa melewati pintu tersebut.
"Bersiaplah, kita akan segera berangkat ke acara pesta malam ini, Bo Li", ucap Ivander Liam sembari menepuk lembut tangan Bo Li yang menggandeng erat lengan pria itu.
Bo Li hanya diam menanggapi ucapan Ivander Liam kepadanya dan berjalan beriringan bersama-sama dengan Ivander Liam keluar dari rumah mewah itu menuju ke arah mobil yang telah menunggu mereka berdua.
Tampak seorang pria berpakaian rapi telah berdiri menanti kedatangan Bo Li dan Ivander Liam di sisi mobil yang terparkir di depan beranda rumah.
__ADS_1