
Ivander Liam keluar dari dalam mobil lalu berjalan ke arah pintu mobil yang berada di sebelah kanan dengan sikap wibawanya seraya merapikan jas yang ia kenakan.
Pria berambut pirang itu membukakan pintu mobil dimana Bo Li duduk di sebelah pintu tersebut.
Bo Li yang berpenampilan sangat cantik malam itu lalu keluar dari dalam mobil Rolls Royce sambil memegangi mahkota yang menghias di atas kepalanya.
Perempuan cantik itu terlihat kesulitan dengan gaun yang ia kenakan dan di bantu tunangannya, Ivander Liam untuk keluar dari mobil mewah itu. Bo Li akhirnya dapat turun dari Rolls Royce, hanya saja kakinya menginjak kain gaun berwarna ungu berhias kilauan kristal yang panjang menjuntai itu.
"Ehk !?", ucap Bo Li tanpa sengaja terjatuh ke dalam pelukan Ivander Liam. Dan dia hanya terdiam membeku.
"Hati-hatilah jika melangkah...", kata Ivander Liam seraya memegangi lengan Bo Li.
"M--maaf... Aku tidak sengaja..., karena kedua kakiku terinjak gaun pesta ini, maafkan aku", kata Bo Li agak gugup saat berbicara.
"Hmmm, aku tahu itu agak merepotkan saat memakai gaun sepanjang itu apalagi kamu belum biasa, Bo Li", sahut Ivander Liam dengan tersenyum simpul.
"Maafkan aku, tolong maafkan aku", ucap Bo Li lagi.
Bo Li terlihat jengah dalam pelukan Ivander Liam tetapi ia tidak dapat berbuat banyak karena ia membutuhkan bantuan pria tampan itu untuk berjalan dengan gaun pesta yang merepotkan itu.
Dia harus berpegangan pada Ivander Liam agar mudah berjalan masuk sampai ke dalam gedung hotel.
"Bisakah aku berpegangan padamu, Ivander Liam", ucap Bo Li.
"Mmm..., tentu saja, kamu bebas berbuat apa saja kepadaku, kalau bisa aku menggendong mu sampai ke dalam, Bo Li", sahut Ivander Liam dengan santainya.
"Emm, jangan memancing pertengkaran, aku hanya ingin melewati pesta ini dengan hati damai, Ivander Liam", kata Bo Li seraya membetulkan letak gaun pestanya yang sangat cantik itu.
"Baiklah, aku akan menuruti semua permintaanmu dan akan membiarkan dirimu menikmati kebahagiaan malam ini, cantik", kata Ivander Liam.
"Berhentilah berbicara seperti itu dan jangan menggodaku !", ucap Bo Li.
"Mengapa aku tidak boleh menggoda perempuan cantik sepertimu, wajar bukan jika aku tertarik kepadamu karena kamu adalah tunangan ku, Bo Li !?", sahut Ivander Liam seraya melirik perempuan cantik yang ada di sebelahnya dan berpegangan erat kepadanya.
"Kamu selalu mengingatkan kepadaku, jika aku ini adalah tunangan mu...", kata Bo Li.
"Itu juga hal yang wajar, karena memang aku adalah tunangan mu dan aku mencoba membuatmu terus ingat akan statusmu sebagai tunangan ku agar kamu tidak meluapkannya", ucap Ivander Liam.
Bo Li hanya terdiam tanpa menanggapi ucapan Ivander Liam yang selalu menyindirnya dan mengingatkan dirinya bahwa ia adalah tunangan Ivander Liam.
Perempuan cantik bergaun ungu itu hanya menundukkan wajahnya tanpa menoleh ke arah Ivander Liam lagi.
Keduanya berjalan melewati anak-anak tangga saat masuk ke dalam gedung hotel bintang lima itu.
Aula hotel...
__ADS_1
Seorang pria tengah berdiri di dekat pintu masuk aula berpakaian tuxedo garis-garis cokelat serta celana kain hitam panjang seraya tersenyum kepada setiap tamu yang datang ke acara pesta yang ia adakan.
Pada saat melihat Bo Li dan Ivander Liam datang ke acara pesta serta berjalan menuju ke arah aula hotel. Pria muda itu segera melangkahkan kakinya menghampiri pasangan muda tersebut sambil meretangkan kedua tangannya ke samping.
"Selamat datang wahai sahabatku, kami sudah lama menanti kedatangan mu. Dan... Oh..., kamu ternyata membawa pasanganmu bersamamu, Tuan Ivander Liam !", ucapnya berseru.
Ivander Liam lalu melirik ke arah Bo Li yang terdiam dan tertunduk itu, ia sempat mengernyitkan dahinya saat melihat ekspresi wajah Bo Li yang mendadak berubah sangat dingin sekali.
Rupanya Ivander Liam telah membaca tanda-tanda aneh yang selalu ditunjukkan oleh Bo Li setiap kali perempuan cantik itu berjumpa dengan Abiyyu Kuota.
"Apakah Bo Li memiliki hubungan khusus dengan Abiyyu ataukah ada yang ia sembunyikan dariku ? Tapi setahuku dari cerita kakek bahwa Bo Li berasal dari Kota B-One bukan dari negara Kerajaan Kuota berasal !?", ucap Ivander Liam dalam hatinya.
Ivander Liam membalas sambutan Abiyyu dengan sikap ramahnya seraya menjabat tangan pria asing itu.
"Terimakasih atas undangannya, Tuan Abiyyu, kami sangat terhormat sekali dapat datang ke acara pesta anda ini", ucap Ivander Liam lalu mengajak pria muda itu masuk ke ruangan aula.
"Suatu kehormatan juga bagiku, anda mau menghadiri acara pesta ini. K--kenapa tidak menyuruh pasangan anda ikut masuk, Tuan Ivander Liam... !?", ucap Abiyyu Kuota sembari menoleh ke arah Bo Li.
"Tenanglah Tuan Abiyyu, dia dapat berjalan sendiri tanpa harus dituntun olehku setiap saat. Mari kita langsung menemui rekan-rekan yang lainnya ! Oh, itu Tuan Bernard William !", sahut Ivander Liam seraya merangkul pundak Abiyyu Kuota.
"Sayang sekali, tidakkah anda memperkenalkan kepada yang lainnya, Tuan Ivander Liam !? Pasangan sungguh cantik sekali, sebuah kebanggan dapat mengenalnya", kata Abiyyu.
"Cantik !? Berani sekali pria ini memuji tunangan orang lain, apakah dia tidak memandangku sama sekali !? Ataukah ia ingin cepat tiada dari dunia ini ???", kata Ivander Liam dalam hatinya setengah kesal.
Ivander Liam hanya melirik ke arah Bo Li yang masih berdiri terpaku di depan pintu masuk aula hotel tanpa dapat berbuat apa-apa dan tampak kebingungan sendirian.
"Hai ! Jangan berdiri bengong di muka pintu ! Kamu menghalangi jalanku ! Minggir, aku mau lewat ! Dasar perempuan aneh !", bentak seorang wanita bertubuh langsing bergaun merah dengan hiasan bunga mawar di kepalanya.
"M--maaf..., maafkan aku..., membuat jalanmu terhalang olehku", sahut Bo Li gugup.
Dia berusaha untuk minggir dari muka pintu aula hotel bintang lima itu tetapi gaun pestanya sungguh membuatnya kerepotan sekali. Dan ia terlihat kesulitan untuk berjalan masuk ke ruangan pesta yang gemerlap oleh indahnya lampu-lampu kristal.
"Minta maaf ! Minta maaf ! Hai lambat, siapa yang menyuruhmu untuk datang ke pesta ini jika tidak biasa pergi ke acara semewah ini !? Pesta seperti ini hanya pantas untuk orang-orang dari kalangan atas, kamu paham !?", bentak wanita itu.
"Ma--maaf...", hanya itu yang Bo Li ucapkan.
"Pergi sana ! Kamu membuat orang tidak masuk ke dalam aula ! Terhalang ! Tahu tidak kamu !? Hah !?", kata wanita itu seraya menekan keras bahu Bo Li.
Ivander Liam lalu berjalan menghampiri kedua perempuan yang tengah berselisih paham itu dengan gerakan yang cepat, Ivander Liam langsung memeluk tubuh Bo Li erat.
"Aku yang membawanya kemari, nona !", sahut Ivander Liam seraya menatap tajam ke arah perempuan bergaun merah mencolok itu yang sedari tadi menghardik Bo Li, tunangannya.
Wanita itu tampak terkejut sekali ketika Ivander Liam datang ke hadapannya dengan langsung memeluk Bo Li dan penuh perhatian Ivander Liam memandangi wajah Bo Li yang ia tengadahkan wajah perempuan cantik itu ke arahnya.
"Apa !?", ucap wanita itu bertambah kesal saat melihat perhatian Ivander Liam terhadap Bo Li.
Wanita muda itu terlihat sangat tidak senang dengan sikap pria berambut pirang kepada Bo Li dan ia merasa cemburu kepada Bo Li yang mendapatkan perhatian ekstra dari Ivander Liam karena ia sendiri sedang memburu pria tampan itu untuk ia jadikan kekasihnya.
Abiyyu Kuota datang mendekati wanita bergaun merah yang tengah marah-marah itu lalu menariknya menjauh dari Ivander Liam dan Bo Li cepat-cepat.
__ADS_1
"Rebecca Menfez ! Kendalikan amarahmu ! Tidakkah kamu merasa malu dengan sikapmu yang memalukan itu !? Apakah kamu tidak melihat banyak mata tengah memandang kita di acara pesta ini !?", ucap Abiyyu Kuota seraya memelankan suaranya kepada wanita muda bernama Rebecca Menfez.
"Maaf, sayang tetapi perempuan itu sungguh membuatku kehilangan kendaliku serta membuatku sangat kesal sekali", sahut Rebecca Menfez.
"Jangan membuatku malu malam ini, dan ingat jika aku sedang mengadakan acara pesta ini untuk keberhasilanku berkerja sama dengan perusahaan Ivander Liam ! Jangan sampai ulahmu menggagalkan perjanjian kerjasama kami yang berharga triliunan itu ! Kamu paham, Rebecca Menfez !?", ucap Abiyyu geram.
"I..iya aku mengerti, sayangku, aku minta maaf karena terlalu emosi tadi sehingga kehilangan kesabaranku", sahut Rebecca Menfez.
"Sekarang pergilah dahulu ke ruangan tunggu yang ada di aula hotel ini untuk menenangkan dirimu di sana, kamu mengerti, Rebecca Menfez !?", kata Abiyyu Kuota dengan nada penuh tekanan.
"Tidak usah, sayangku karena aku sudah tidak marah lagi dan aku janji akan menjaga sikapku di pesta ini tapi mohon jangan mengurungku sendirian, sayangku", bujuk mesra Rebecca Menfez kepada Abiyyu.
"Apakah kamu bisa menepati ucapan mu itu, Rebecca Menfez ? Karena jika kamu mengulanginya lagi maka aku akan menghukum mu lebih berat, kamu paham !?", kata Abiyyu Kuota.
"Tentu saja, aku mengerti, sayangku, dan aku akan berhati-hati dengan sikapku di acara pestamu ini, Abiyyu sayang", sahut Rebecca Menfez.
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan tetapi setelah tiga puluh menit acara berlangsung segeralah datang ke dalam ruang tunggu aula hotel karena ada yang aku ingin bicarakan denganmu, Rebecca Menfez", kata Abiyyu Kuota seraya mengusap wajah wanita bergaun merah itu.
"Iya, aku mengerti, sayangku. Aku akan ke ruangan tunggu yang ada di aula hotel ini, Abiyyu sayang", kata Rebecca Menfez.
"Aku akan pergi meminta maaf kepada Ivander Liam agar ia tidak mengurungkan kerjasama kami dan jangan mencari masalah lagi, Rebecca Menfez", ucap Abiyyu mengingatkannya.
Rebecca Menfez hanya menganggukkan kepalanya pelan ketika melihat Abiyyu Kuota pergi menuju ke tempat Ivander Liam dan Bo Li yang berdiri di samping meja panjang hotel.
"Maafkan aku Tuan Ivander Liam dengan kelancangan dari Rebecca Menfez, wanitaku itu memang agak berlebihan jika bersikap kepada siapapun, maklum ia tidak terbiasa bertemu orang asing, aku mewakilinya untuk meminta maaf kepada kalian..., nona...!?", kata Abiyyu Kuota.
"Amanda...", sahut Ivander Liam cepat.
"Iya, Nona Amanda tolong maafkan atas kelakuan wanitaku yang bernama Rebecca Menfez, dia masih tidak dewasa dalam berpikir. Dan jika anda ingin kompensasi atas perlakuannya kepada anda maka aku akan berkenan memberikan hadiah cuma-cuma untuk anda", kata Abiyyu Kuota sambil menjabat tangan Bo Li dan mengusapnya lembut.
Ivander Liam sangat tidak menyukai sikap Abiyyu Kuota kepada Bo Li yang menunjukkan sikap perhatian yang terang-terangan terhadap tunangannya itu apalagi di depan kedua matanya.
Pria berambut pirang itu lalu menarik tangan Bo Li dari genggaman tangan Abiyyu Kuota yang seakan memaksa memegang tangan perempuan cantik itu.
"Baiklah, kami memafkannya Tuan Abiyyu Kuota atas sikap wanita mu terhadap tunangan ku, dan aku harap kejadian itu tidak akan terulang lagi", kata Ivander Liam.
"Pasti..., pasti..., aku pasti menjaminnya Tuan Ivander Liam, percayalah pada perkataan ku", jawab Abiyyu Kuota.
"Terimakasih atas perhatian anda, dan bisakah kami menikmati jamuan makan malam di acara pesta anda, Tuan Abiyyu Kuota karena aku harus segera pergi untuk menyelesaikan pekerjaanku yang lainnya", kata Ivander Liam sambil mengangkat sedikit dagunya.
"Yah, aku mengerti Tuan Ivander Liam. Silahkan anda dan pasangan menikmati hidangan pesta ini, semoga anda menyukainya, jangan sungkan", ucap Abiyyu Kuota.
"Aku ucapkan terimakasih sekali lagi atas undangan pesta malam ini serta jamuan makan malamnya, Tuan Abiyyu Kuota", sahut Ivander Liam.
Ivander Liam seakan ingin menunjukkan pengaruh dirinya serta kewibawaannya kepada Abiyyu Kuota dan ia juga ingin mengatakan bahwa dirinya adalah pria pendamping Bo Li yang resmi.
Membaca sikap Ivander Liam membuat Abiyyu Kuota mengerti jika pria yang sangat tampan itu hendak menunjukkan kekuasannya atas Bo Li, perempuan cantik yang mampu mencuri hati Abiyyu Kuota.
Tanpa Abiyyu Kuota sendiri sadari bahwa perempuan cantik yang mampu menarik hatinya adalah sepupunya yang merupakan musuh besarnya yaitu gadis kecil berusia sepuluh tahun yang pernah dibunuh oleh ayahnya, Elmar. Dan dimana kedua orang tua perempuan cantik itu yang mati di tangan Abiyyu Kuota. Dia adalah Putri Bo Li Arwa Kuota Sanders.
__ADS_1