BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
Musuh Itu Datang


__ADS_3

Bo Li mengepalkan kedua tangannya erat, dan berdiri dengan tatapan dingin, merasakan luka itu kembali hadir di setiap tulang rusuknya.


Nadinya terbakar penuh api kemarahan, jiwanya remuk redam dan nyala kebencian menyelimuti hatinya yang mati.


Bayangan akan kematian terus terulang kembali dibenak Bo Li, saat kedua orangtuanya dihabisi nyawanya di depannya, rintihan yang menyayat hati terngiang di telinga Bo Li setiap siang dan malam.


"Apa kabar nona ?", sapa Abiyyu ramah.


"Perkenalkan ini...", ucap Ivander Liam dan tiba-tiba Bo Li mendekat kearahnya dan merangkul lengannya.


"Sayang..., Ivander Liam...", ucap Bo Li sambil menyunggingkan senyumannya.


"Iya...!?", jawab Ivander Liam.


Pria itu tersentak kaget melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Bo Li kepada dirinya, ia tidak mengira perempuan cantik itu akan bersikap semanis itu padanya.


"Aku tunangannya, namaku Amanda, senang mengenal anda ! Oh iya, aku harus pergi dulu sayangku karena aku masih ada urusan penting di rumah, bolehkan ?", kata Bo Li sambil menatap manja kepada Ivander Liam.


"A--apa !? Eh, iya...!?", jawab Ivander Liam bingung.


"Aku tadi di telpon kakek dan ia ingin berbicara padaku, tetapi karena kamu ada tamu penting dari luar negeri untuk urusan bisnis maka aku akan menerima telepon kakek di rumah saja, biar lebih santai, bolehkan sayang !?", kata Bo Li sambil mengerjapkan kedua matanya pelan.


"Telepon dari kakek !? K--kapan !?", kata Ivander Liam bingung.


"Iyah..., telepon dari kakek dan ada hal penting yang ingin kami bicarakan karena jika di kantor akan sangat mengganggumu, sebab kami selalu berbicara dengan keras di telepon !", kata Bo Li mencoba merayu.


"Berbicara keras !? Astaga !?", kata Ivander Liam.


"Iya sayang, karena kakek pendengarannya agak berkurang baik maka aku harus berbicara dengan suara keras dan berteriak kencang agar kakek dapat mendengar suaraku !?", kata Bo Li seraya menepuk dada Ivander Liam.


"Uhk...!?", pria itu setengah menahan rasa sakit akibat tepukan yang cukup kuat di dadanya dan membuatnya tersedak.


"Aku pamit pulang dulu ya, sayangku, karena kamu sudah memakan bekal siangmu maka tugasku disini sudah selesai, aku pulang, ya", kata Bo Li sambil merapikan bekal makan siang dan mmbungkusnya dengan kain, serapi mungkin.


"Pulang !? T--tunggu, B...", ucap Ivander Liam, lalu terhenti ketika Bo Li tiba-tiba berhamburan ke dalam pelukannya.


Pria itu berdiri tercengang saat Bo Li memeluknya erat, dia terasa tubuhnya menjadi kaku dan tegang.


Dia hanya diam dengan semua perlakuan yang dilakukan oleh Bo Li padanya tanpa mampu berbuat apa-apa.


Sampai Ivander Liam tidak menyadari jika Bo Li telah berlari menjauh darinya dengan langkah buru-buru.


"Daaahhh, sayang !!!", kata Bo Li cepat-cepat.


"A--apa..., apaan ini...!?", gumam Ivander Liam diam mematung tak berdaya.


"Sampai jumpa lagi, ya !", teriak Bo Li lalu berlari ke arah pintu ruangan kantor yang terbuka lebar.


Bo Li pergi meninggalkan Ivander Liam yang terbengong, ia terlihat tergesa-gesa dengan menenteng bungkusan kain di tangannya dan pergi dari ruangan kantor dengan berlari secepatnya.

__ADS_1


"Amanda !? Apa yang sedang ia katakan !? Sejak kapan ia mengganti namanya menjadi Amanda !? Apa yang ada dipikiran perempuan itu !?", ucap Ivander Liam dalam hatinya bingung, tetapi ia tidak dapat berbuat apapun pada Bo Li, dan akhirnya ia yang mengalah.


***


Bo Li berlari dengan cepat menuju lift dan segera masuk ke dalam lift lalu menutupnya, keringat membasahi seluruh tubuh Bo Li yang bergetar hebat.


Peri Dryada kemudian mengubah wujudnya dari semut menjadi peri kecil daun hijau kembali, ia melihat kearah Bo Li yang menunduk dengan tubuh gemetar hebat.


"Bo Li...", kata peri kecil itu iba.


Bo Li memandang kearah peri kecil itu dengan berurai airmata, dan ia menahan amarah yang membuncah di dadanya.


Peri Dryada terkejut kaget ketika melihat Bo Li menangis tanpa bersuara, perempuan cantik itu menahan emosi di hatinya yang penuh amarah dan kebencian yang teramat dalam.


"Ada apa Bo Li ? Kenapa kamu menangis ?", tanya Peri Dryada panik.


"D--dia... D--ia..., datang peri !? Dia datang... !", kata Bo Li ketakutan.


Tubuhnya berkeringat dingin dan wajah Bo Li berubah pucat pasi, ia tidak dapat menyembunyikan rasa takutnya yang terlihat jelas di wajahnya.


Bo Li berdiri gemetar saat berada di dalam lift tanpa bisa berhenti menangis, ia lalu jatuh terduduk di atas lantai lift dan terdengar menangis sangat keras.


"Bo Li..., apa yang terjadi padamu ?", tanya Peri Dryada bingung.


Tetap tidak ada jawaban dari Bo Li, dan ia masih terus menangis semakin keras, sehingga membuat Peri Dryada kebingungan.


Peri Dryada terbang pelan mendekati Bo Li yang termenung, peri kecil itu lalu turun ke arah bawah dan duduk di depannya sambil bertopang dagu. Ia mengusap tangan Bo Li dengan pelan-pelan, sambil memperhatikan raut wajah Bo Li yang merah padam karena menangis tiada hentinya.


"Bo Li..., tenanglah !", ucap peri kecil daun hijau lembut.


Bo Li masih tidak merespon ucapan peri kecil itu dan tetap diam tanpa menjawab ucapan peri itu, ia menangis dengan beruraian air mata terus-menerus tiada hentinya dan memalingkan wajahnya yang memerah karena menahan marah.


Tiba-tiba tubuh Bo Li berubah cepat menjadi ungu serta tembus pandang dan bersamaan berubahnya tubuhnya, pintu lift terbuka secara otomatis. Dan lift berhenti bergerak, yang mengejutkan adalah Bo Li mendadak terbang melesat cepat keluar lift.


Dia meninggalkan peri kecil daun hijau sendirian yang kebingungan, tetapi ia lalu dengan cepat menyadarinya dan terbang menyusul Bo Li yang pergi darinya seperti kilat cahaya terang.


Mereka terbang saling berkejaran di udara seperti cahaya terang yang berkilauan, dan melesat bagaikan sinar yang melewati awan-awan di langit cerah, seakan saling berlomba menjadi pemenang. Tetapi kecepatan keduanya sama-sama dan berimbang satu dengan lainnya.


Bo Li terbang tanpa menoleh ke arah manapun serta tidak lagi memperdulikan sekitarnya, dengan terus terbang melesat tanpa hentinya.


Dia terbang melewati pepohonan yang rindang di sebuah daratan tinggi yang sangat luas dan di tengah-tengah daratan tersebut terdapat sebuah rumah yang megah dengan pagar tinggi meruncing ke atas.


"Dia pergi kemana !? Kenapa Bo Li tidak kembali pulang ke rumah priia berambut pirang itu !?", tanya Peri Dryada heran.


Peri kecil daun hijau itu melihat perempuan berwarna ungu yang tembus pandang itu terbang merendah, lalu turun ke bawah dan ia berjalan cepat di halaman rumah tersebut tanpa menoleh sedikitpun.


Bo Li masuk dengan menembus ke dalam rumah megah itu kemudian menghilang lenyap tak terlihat lagi dari luar rumah.


"Aaahhhk !!! A--pa ini !?", pekik peri kecil itu terkejut kaget saat ia hendak menyusul Bo Li ke dalam rumah megah itu.

__ADS_1


Sebuah cahaya pelindung menghalangi jalan masuk peri daun hijau itu dan menyebabkan Peri Dryada tidak dapat masuk ke rumah megah tersebut, cahaya pelindung itu sangat berenergi listrik yang sangat kuat dan sempat melukai tubuh peri kecil itu.


Peri Dryada tidak dapat melihat cahaya pelindung yang menghalangi dirinya untuk masuk ke rumah itu, ia tidak menyadarinya bahkan sensornya tidak dapat mendeteksi keberadaan pelindung itu.


"Cahaya pelindug apakah ini ? Aku bahkan tidak dapat mendeteksinya atau melihatnya jelas ?", kata Peri Dryada kaget.


Peri kecil itu terbang mondar-mandir di depan gerbang pagar yang tinggi sekali, bahkan bentuk pagar rumah megah itu sangat runcing seperti paku tajam dan beraliran energi listrik yang sangat kuat yang datangnya dari sumber cahaya pelindung.


"Tempat apakah ini !?", kata peri kecil itu sangat bingung sekali.


Peri Dryada benar-benar tidak dapat menembus cahaya pelindung itu kemudian ia mencari cara yang lainnya dan mengeluarkan sebuah tongkat sakti dari tangannya.


Dia lalu mengarahkan tongkat tersebut ke cahaya pelindung itu dan ia mulai komat-kamit membaca mantera.


"Aku akan mencoba menghilangkan pelindung ini, tetapi untuk apa sebuah rumah harus di beri cahaya pelindung sakti ini !? Apakah rumah ini milik Bo Li ? Apakah cahaya pelindung ini sengaja dibuat untuk melindungi dari iblis jahat itu ?", kata Peri Dryada lalu tersadar.


Peri kecil daun hijau itu lalu menghentikan gerakan tongkatnya yang tadi ia arahkan ke rumah megah itu dengan maksud untuk menghilangkan cahaya pelindung, tetapi semuanya terlambat karena Peri Dryada tidak dapat membatalkan mantera tongkat ajaibnya yang terlanjur ia beri mantra.


Benar saja mantera dari tongkat sakti miliknya itu mengeluarkan sinar kuat yang bergerak cepat mengarah ke rumah megah itu dan berbenturan keras menimbulkan suara ledakan yang besar.


"Auuuuwh !!!", teriak Peri Dryada keras.


Tubuhnya terpental jauh dari rumah megah itu dan menyebabkan peri kecil itu terbang terpelanting kerasnya, dan menjauhkan peri itu.


"Aaampuuun...!!! Aku tidak dapat mengendalikan tubuhku.... Tolong.... !!!", teriak peri Dryada kencangnya.


***


Suara ledakan yang hebat terdengar sampai ke dalam rumah megah itu, dan mengejutkan pria tua yang tengah duduk di sebuah taman yang penuh bunga bermekaran penuh warna-warni, tempat dengan makam gantung yang berada di atas tengah-tengah bunga yang mekar segar itu.


Bunga yang tidak akan pernah layu bahkan mati karena kering, karena bunga-bunga yang ada di taman yang letaknya di dalam suatu ruangan rumah itu tidak akan pernah layu ataupun gugur dan tetap mekar dengan segarnya sampai akhir masa.


"Suara apakah itu ?", kata pria tua seraya menolehkan kepalanya ke arah suara ledakan tersebut.


Mendadak pria itu teringat akan sesuatu di luar rumahnya, kemudian ia berlari cepat ke arah luar rumahnya. Dia berdiri mematung di depan rumah, pagar runcing yang tinggi itu menjadi rusak berat.


Pria tua itu lalu berjalan pelan menuju ke depan halaman rumahnya, dan ia melihat pagar tinggi rumahnya sebagian besar hangus terbakar. Kondisinya rusak parah, ia melihat ke sekitar rumahnya yang sangat luas itu dan ia memastikan keadaan pelindung yang melingkupi seluruh rumahnya dalam keadaan baik-baik saja.


"Untunglah, cahaya pelindung itu tidak mengalami kerusakan sama sekali, tetapi aku harus memperbaiki dan mengganti pagar itu dengan yang baru dan kokoh !? Aku juga akan menggandakan ekstra pelindung di sekitar rumah !?", kata pria itu.


Dia lalu mengangkat kedua tangannya ke arah atas seraya bibirnya bergerak komat-kamit membaca mantera serta kedua matanya terpejam rapat.


Sebuah angin ****** beliung muncul dari arah bawah tanah lalu membentuk gulungan angin kecil yang bergerak menggulung pelan dan terpencar ke arah seluruh area rumah megah itu, mulai dari pagar yang rusak parah, halaman rumah sampai ke dalam rumah megah itu.


Cahaya pelindung itu semakin kuat dan berpendar sebentar saat menyinari seluruh ruangan rumah megah tersebut, lalu perlahan-lahan menghilang lenyap tak terlihat oleh mata dan pancaindera lainnya.


Begitu pula dengan kondisi pagar rumah itu yang telah kembali kokoh seperti sediakala dan terliihat semakin kuat karena pria itu telah mengganti bahan pagar rumahnya dengan bahan baja yang sangat kuat dan tidak mudah hancur oleh apapun.


Pria tua itu benar-benar mengunci rumahnya tertutup rapat dengan dikelilingi oleh pagar baja yang kuat dan tahan cuaca serta benda asing yang berusaha memaksa masuk ke rumah itu, sebuah rumah megah dengan benteng pelindung yang menjulang tinggi.

__ADS_1


__ADS_2