BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
Mulai Mencair Gunung Es itu


__ADS_3

Bo Li hanya diam melihat perhatian Ivander Liam kepadanya ketika pria itu melayani dirinya sepenuh hati.


Ivander Liam sangat telaten memperlakukan Bo Li dimeja makan saat makan malam, ia memberikan makanan lezat itu diatas piring makan Bo Li dengan mengambilnya sendiri khusus untuk Bo Li.


Bo Li menyantap makan malamnya tanpa bersuara dan hanya fokus kepada makanan yang ada diatas piringnya.


Wajahnya sangat serius sekali saat menikmati makan malamnya karena dia berusaha tidak gugup dihadapan Ivander Liam.


Dia mati-matian untuk bersikap tenang dan sewajarnya saat makan malam bersama tunangannya meski ia sangat penasaran dengan ekspresi wajah Ivander Liam akan tetapi Bo Li tidak berani melihat kearah pria itu.


"M..., apa makan malamnya lezat ? Iya, aku tahu jika ini adalah makan malam pertamamu di rumah ini sejak lima hari kamu menghilang", kata Ivander Liam.


Bo Li menghentikan gerakan garpu serta pisau makannya lalu terdiam memandangi makan malamnya diatas piring saji, dia tidak berselera untuk melanjutkannya.


Kata-kata Ivander Liam seakan hendak mencari sebuah jawaban atas teka-teki perginya Bo Li selama lima hari dari rumah mewah ini.


***


Bo Li hanya terdiam tanpa melihat kearah Ivander Liam dan berusaha tidak merespon perkataan pria itu padanya tetapi tetap terasa sangat sulit untuk menerimanya.


Akhirnya dia tidak sanggup untuk tidak menahan dirinya dan mulai berbicara pada pria berambut pirang itu.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu tanyakan dengan mengundangku makan malam bersamamu ?", kata Bo Li dengan ekspresi wajah datar.


"Maksudmu ?", sahut Ivander Liam.


"Apakah acara makan malam ini merupakan siasat darimu untuk menanyakan perihal aku menghilang dari rumah yang hampir sepekan tanpa kabar ?", kata Bo Li dengan pandangan mata tertunduk.


"Tidak juga, aku hanya mengingatkan saja bahwa kamu telah pergi menghilang tanpa kabar kepadaku dan hal itu sangat wajar jika aku bertanya tapi aku tidak bermaksud menyinggungnya", jawab Ivander Liam acuh tak acuh.


"Aku berharap juga kamu tidak pernah menanyakannya kembali karena aku rasa itu tidak penting buatmu", kata Bo Li tanpa menyentuh lagi makan malamnya yang terasa hambar.


Ivander Liam menghentikan gerakan tangannya diatas piring kemudian menatap kearah Bo Li yang ada disamping meja makan.


Pria itu bergeming sesaat lantas melanjutkan makan malamnya tanpa bersuara.


***


Beberapa saat setelah Ivander Liam menghabiskan makan malamnya dia melihat kearah Bo Li yang terdiam.


"Makanlah makan malammu, Bo Li nanti keburu dingin", ucap Ivander Liam.


Bo Li nampaknya tidak berselera untuk menghabiskan makan malamnya meski Ivander Liam memaksanya ketika pria itu melihat makanan yang tersaji diatas piring Bo Li masih tersisa setengahnya.


"Mmm..., apakah aku perlu mengganti menu makan malamnya agar kamu mau menghabiskan makan malammu, Bo Li...", kata Ivander Liam seraya mengerutkan dahinya.


"Tidak, ini sudah cukup dan aku rasa aku hanya lelah saja karena kurang tidur", sahut Bo Li.


"Tidak dibenarkan didalam rumah Ivander Liam menyisakan makanan karena itu tidak baik dan aku rasa sedikit...mmm...kurang hormat saja terhadap pemberian Tuhan atas rejeki kepada kita, dan aku takut...mmm...jika Tuhan akan memarahiku karena seseorang yang tinggal di rumahku ini tidak terpuaskan akan rejeki yang ada di rumah ini...apalagi dia telah hilang dari rumah tanpa kabar selama berhari-hari dan menambah kepanikan sesaat di rumah ini...", ucapan Ivander Liam seperti sindiran.


Bo Li lalu mengalihkan pandangan matanya kearah pria itu dan ia sedikit kesal dengan ucapan Ivander Liam pada saat makan malam bersamanya.

__ADS_1


Pria itu tidak henti-hentinya mengungkit tentang kepergiannya selama hampir sepekan dari rumah ini dan itu membuat Bo Li sedikit jengah.


Tidak bisakah pria itu berbicara hal lain selain tentang menghilangnya dirinya dari rumah tanpa kabar dan hal itu juga bukan keinginannya serta tanpa kuasa Bo Li jika dirinya menghilang ke dunia peri.


"Baiklah, aku tahu itu salah telah membuatmu khawatir karena aku tidak muncul di rumah ini untuk menyapamu dan aku meminta maaf akan hal itu akan tetapi aku melihat tidak satupun dari orang di rumah ini yang datang menjengukku atau sekedar menyapaku untuk bertanya akan kabarku", jawab Bo Li.


"Apakah kamu berkata tentang diriku atau yang lain di rumah ini ?", kata Ivander Liam.


"Entahlah, apa yang ada dipikiranmu Ivander Liam, haruskah aku bersilat lidah terus-terusan denganmu sepanjang hari ?", kata Bo Li mulai hilang kesabarannya.


"Aku tidak menyuruhmu akan hal itu karena itu semua akan sia-sia saja untukmu dan membuang tenaga saja, aku rasa sebenarnya...!?", sahut Ivander Liam cuek.


"Kamu selalu merasa jika aku tidak cukup cerdas untuk berbicara padamu", kata Bo Li kesal.


"Tidak..., aku tidak pernah berpikir demikian tentangmu...", sahut Ivander Liam.


"Oh iya ?", jawab Bo Li cepat.


"Benar, aku sangat menghormati keberadaanmu di rumah ini bahkan kamu adalah satu-satunya wanita tercerdas di rumah ini dan yang paling berani tidak mengindahkan akan keberadaanku disini", jawab Ivander Liam seraya melirik kearah Bo Li lalu meminum minumanya yang ada digelas kristal.


"Benarkah ?", sahut Bo Li.


"Hemm...", jawab Ivander Liam menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu aku juga dapat kembali bekerja mengurus perusahaanku karena tidak mungkin kamu berkata jika aku bukan orang tercerdas di perusahaan dan tidak becus menjalankan perusahaan milikku", kata Bo Li.


"Eh...!?", sahut Ivander Liam kaget.


"He...He...He..., kamu memiliki banyak akal rupanya sehingga mampu menjebakku dalam perkataan..., baiklah aku akui kamu sangat cerdas dalam mengurus usahamu akan tetapi kamu adalah tunanganku dan aku tidak mengizinkannya lagi untuk mengurus perusahaan itu lagi", kata pria betambut pirang itu serius.


"Maksudmu...?", kata Bo Li tersentak tak percaya dengan yang dia dengar dari pria itu.


"Yah..., ini hanya sebuah nasihat serta pesan dari suamimu untuk berdiam diri di rumah dan mempersiapkan dirimu untuk mengurus rumah tangga nantinya", sahut Ivander Liam tenang.


"Maksudmu, aku tidak diijinkan kembali lagi ke perusahaan dan menyentuh laptopku lagi ?", kata Bo Li panik.


"Yeaah..., itu benar sekali dan aku rasa itu baik buatmu agar bersiap-siap mengurus pernikahan yang sebentar lagi ada didepan mata serta kamu akan melewati banyak hari di rumah ini bersamaku kedepannya...karena itu aku sarankan kamu lebih menyiapkan dirimu sebaik-baiknya untuk menerimaku sebagai suamimu nantinya..., Bo Li", kata Ivander Liam sedikit menyunggingkan senyumannya.


"T--tapi..., tapi itu tidaklah benar...karena aku belum siap akan itu semua...Ivander Liam !", ucap Bo Li semakin panik.


"Habiskan makan malammu karena jika kamu tidak menghabiskannya aku akan memaksa untuk menyuapimu, Bo Li !", ucap Ivander Liam dengan nada menekan.


Bo Li langsung terdiam ketika Ivander Liam menatap dirinya dengan tatapan tajam serta tersenyum tipis padanya.


Dia seperti dikendalikan oleh kekuatan ajaib yang membuatnya menuruti perintah Ivander Liam kepadanya dan ia mulai menghabiskan makan malamnya tak bersisa sedikitpun.


Ivander Liam terlihat sangat puas ketika melihat makan malam Bo Li yang habis dan ia seraya tersenyum kecil kepada Bo Li.


***


Makan malam telah usai dan Bo Li kembali ke kamar tidurnya dengan diantar oleh Ivander Liam.

__ADS_1


Pria itu sedari tadi hanya diam selama berjalan menuju ke kamar Bo Li.


Sesekali pria itu melirik kearah jam ditangannya kemudian kembali bersikap serius sembari menatap lurus kedepan.


"Sepertinya ini akan menjadi rutinitasku sehari-hari untuk mengantarkanmu kembali ke kamar serta memastikan keberadaanmu di rumah ini", ucap pria berambut pirang itu.


"Apakah itu melelahkan bagimu ?", tanya Bo Li.


"Mm..., aku rasa tidak sama sekali..., itu akan menjadi kebiasanku mulai sekarang dan aku rasa aku mulai menyukainya...", kata Ivander Liam.


"Benarkah...dengan yang kamu ucapkan itu ?", kata Bo Li sesekali melirik kearah wajah Ivander Liam.


"Iya..., apakah aku pernah berbohong padamu ?", kata Ivander Liam.


Mereka berdua terhenti langkahnya saat tiba didepan pintu kamar lalu saling terdiam satu dengan lainnya.


"M...!?", mereka berkata secara bersamaan.


"Kamu dulu....", dan kembali keduanya berbicara bersamaan.


"Baiklah..., baiklah...", mereka berdua berkata kompak.


"Eh...", gumam keduanya.


"Baiklah kamu saja...", ucap keduanya lagi secara bersama-sama dan keduanya lalu terdiam dan malu.


"Aku pergi dulu karena hari sudah malam dan aku rasa tidak baik untuk seorang pria terlalu lama berdua-duaan dengan seorang wanita dimalam hari dan aku takut terjadi hal yang diinginkan meski aku tahu bahwa aku adalah tunanganmu yang akan menjadi suamimu kelak", kata Ivander Liam.


Ivander Liam lalu membalikkan badannya untuk pergi tetapi langkahnya terhenti oleh ucapan Bo Li yang sangat mengejutkannya.


"M..., aku ucapkan terimakasih atas makan malamnya hari ini..., makan malamnya sangat lezat sekali..., terimakasih", ucap Bo Li bersemu merah lalu bergegas masuk kedalam kamar tidurnya kemudian menguncinya dari dalam.


Ivander Liam menolehkan kepalanya kearah kamar Bo Li yang tertutup rapat itu seraya berdiri mematung dengan tatapan teduh.


Dia tahu bahwa Bo Li masih membutuhkan banyak waktu untuk menerima kehadirannya dalam hidup Bo Li. Dia juga tahu betul itu sangatlah sulit dan Ivander Liam sadar jika itu tidaklah mudah bagi mereka berdua untuk menautkan kedua hati tanpa cinta, meski Ivander Liam tahu jika hatinya selalu jatuh cinta pada Bo Li.


***


Bo Li beringsut pelan kebawah saat dirinya berada didalam kamar tepat didepan pintu kamarnya.


Wajahnya semburat memerah karena malu akan sikap yang ia tunjukkan kepada Ivander Liam dan seharusnya itu tidak ia lakukan karena akan menimbulkan kesalahpahaman.


"Seharusnya aku tidak mengucapkan apa-apa padanya tentang makan malam ini dan membiarkan saja pria itu pergi dari kamarnya secepatnya tanpa mengucapakan terimakasih", kata Bo Li sambil memegangi kedua pipinya yang bersemu merah.


Bo Li hanya memandangi ruangan kamarnya dengan ekspresi wajah termangu dan ia merasakan kedua kakinya gemetaran saat ini.


Gugup..


Kemungkinan kata itu yang sangat cocok kini untuk menggambarkan situasi Bo Li saat ini setelah berhadapan dengan sesosok pria tampan yang sangat sempurna, pria yang mulai menyentuh ruang kehidupan pribadi Bo Li.


Pria bernama Ivander Liam...

__ADS_1


Tunangannya...


__ADS_2