
Pria berambut pirang dengan wajah tampannya berdiri menghadap ke arah ranjang tidur Bo Li.
Dimana perempuan cantik itu sedang duduk di atas ranjangnya dan menatapnya terkejut akan kehadirannya yang tiba-tiba ke dalam ruangan kamarnya.
Ivander Liam mendekat ke tempat tidur seraya menatap dingin kepada Bo Li.
"Berbicara dengan siapa kamu ?", tanya Ivander Liam.
"A--ku..., aku tidak berbicara dengan siapapun !?", sahut Bo Li gelagapan.
Dia tidak menyangka pria itu akan mengikutinya hingga ke kamar tidurnya, ia melirik ke arah peri daun hijau kecil itu cemas karena makhluk ajaib itu tidak sempat bersembunyi dari pria itu.
Peri Dryada langsung terdiam membatu saat pria berambut pirang itu masuk ke kamar dan berdiri di sana.
"Aduh !? Bagaimana ini ? Peri Dryada belum sempat bersembunyi !? Apa yang harus kami lakukan sekarang ? Bukankah pria itu dapat melihat peri ?", kata Bo Li dengan kedua tangan gemetaran.
"Bo Li !? Apakah kamu mendengarkan ku ? Kenapa kamu berbicara tanpa melihatku ?", tanya Ivander Liam dingin.
"A--apa perlu ? Aku sudah menjawab mu, bukankah itu sudah lebih dari cukup ?", kata Bo Li.
"Tidak ! Aku ingin kamu melihatku saat sedang berbicara padaku !", kata Ivander Liam.
"Aku sudah bilang jika aku tidak ingin bertengkar denganmu, kenapa kamu masih saja menanyakannya !? Apa itu tidak cukup ?", sahut Bo Li mencoba berani.
"Maka jawablah pertanyaan ku yang aku tujukan kepada kamu ! Bisakah kamu berbicara sambil melihatku ?", kata pria berambut pirang itu.
"Aku lelah dan aku ingin beristirahat ! Aku mohon kamu mengerti !?", jawab Bo Li memalingkan wajahnya.
"Hai... Tidak bisakah kamu berbicara dengan memandangku ? Lihat aku, Bo Li !", kata Ivander Liam seraya mendongakkan dagunya.
"Aku sudah katakan kalau aku lelah, dan aku ingin segera beristirahat ! Bisakah kamu mengerti aku ?", sahut Bo Li sedikit emosi.
"Tidak ! Sebelum kamu mengatakan kepadaku, kemana kamu seharian dan menginap dimana dengan siapa ? Kenapa tidak memberitahukan kepadaku ?", tanya Ivander Liam membungkukkan badannya ke arah Bo Li.
"Hah !? Apa !?", gumam Bo Li.
Saat Bo Li memalingkan mukanya ke arah depan tanpa sengaja kedua wajah mereka saling berdekatan dan pandangan keduanya saling bertemu.
Bo Li tersentak kaget dengan rileksnya dia memundurkan badannya ke belakang seraya menarik selimut yang ada di hadapannya cepat-cepat.
"A--apa yang kamu lakukan itu ? Tidak bisakah kamu sedikit menjauh dariku ? Kamu sangat berbahaya !", ucap Bo Li tersipu malu.
Jelas sekali jika wajah Bo Li berubah menjadi merah padam dan tubuhnya mendadak kaku akibat wajahnya hampir bersentuhan dengan pria berambut pirang itu.
Ivander Liam rupanya sedikit kesal karena penolakan dari perempuan cantik itu, dan ia agak malu saat Bo Li menghindari dirinya.
"Apa yang aku lakukan ? Aku ini tunangan kamu dan sebentar lagi akan menjadi suami kamu ! Bagaimana bisa kamu bersikap dingin padaku ?", kata Ivander Liam.
"Ta--tapi aku sangat malu sekali karena bagaimanapun kita belum resmi menikah dan pertunangan ini masih memerlukan banyak waktu untuk kita saling mengenal satu dengan lainnya", kata Bo Li gugup.
"Malu ??? Kamu malu dengan siapa, pada siapa dan untuk apa kamu malu ???", tanya Ivander Liam.
"Emm... Tidak ! Tidak ! Tidak ada siapa-siapa di kamar ini !", kata Bo Li dengan cepatnya.
"Benarkah ? Apakah kamu menyembunyikan seseorang di kamar ini ? Siapa ?", cecar Ivander Liam.
Ivander Liam hampir membuat perempuan cantik itu menangis kesal dengan kelakuannya yang mengganggu Bo Li.
Pria berambut pirang itu juga melirik ke arah Peri Dryada sembari memicingkan kedua matanya.
Dia bergumam di dalam hatinya saat ia melihat sosok makhluk kelip-kelip dengan kedua sayap yang bergerak berkilauan.
__ADS_1
"Haishhh ! Makhluk astral bertubuh mungil dan sangat menggemaskan sekali itu datang lagi ? Apa hubungannya makhluk aneh itu dengan Bo Li ? Dan dia, si kecil bertubuh hijau itu sama menggemaskannya dengan Bo Li !?"
Ivander Liam lalu menyeringai berusaha membuat makhluk kecil itu merasa ketakutan padanya dan ia sedikit ingin menggodanya.
Tampaknya usaha yang dilakukan oleh pria itu berhasil membuat peri kecil hijau daun menggigil ketakutan padanya.
"Makhluk kecil itu mengeluarkan suara aneh !?", gumam Ivander Liam dalam hatinya.
"Klik... Klik... Kliik... Kliiiik...", suara yang dikeluarkan peri kecil itu.
"Ehk !? Kemana perginya makhluk berwarna hijau daun itu !? Apakah ia juga dapat melihatku dan mengetahui kalau aku dapat melihatnya !? Hmmm....!?", gumam Ivander Liam dalam hatinya.
Pria itu lalu tersenyum simpul dan mengalihkan pandangannya kembali ke arah Bo Li yang menutupi tubuhnya dengan selimut tebalnya.
Ivander Liam hanya berdecak pelan ketika melihat ekspresi wajah Bo Li yang polos dan berpura-pura tidur.
"Dia tidur ? Yang benar saja, dia tidur dan berpura-pura memejamkan matanya untuk menghindar dariku !? Sikap macam apa itu !?", kata Ivander Liam gemas.
Ivander Liam lalu menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan posisi terlentang, ia sengaja berbaring di atas tempat tidur Bo Li.
Dia melakukannya agar Bo Li merasa terganggu dan tidak berpura-pura tidur lagi sehingga perempuan cantik itu tidak dapat menghindar lagi darinya.
Usaha Ivander Liam tampaknya berhasil membuat Bo Li belingsatan di dalam selimut tebalnya.
"Apa yang kamu lakukan di atas sini ?", teriak Bo Li terkejut.
"Hmmm...", gumam Ivander Liam.
"Tidak bisakah kamu pergi ke kamar tidurmu dan tolong, beristirahatlah di sana saja, di dalam kamar tidurmu sendiri !", kata Bo Li.
"Aku ini tunangan mu yang berharga, nona, seharusnya kamu lebih memperhatikan pria ini ketimbang keluyuran tidak jelas di luar sana, kamu tahu jika tunangan mu ini memiliki begitu banyak fans di luar sana", kata Ivander Liam.
"Lantas apa hubungannya denganku !? Apakah itu berkaitan erat antara fans beratmu denganku ?", sahut Bo Li merengut.
"Bersikaplah lembut, akan tidak baik menyia-nyiakan tunangan mu yang berharga ini, dan tidak baik membiarkanku tanpa kejelasan", ucap Ivander Liam terpejam tidur dengan lengan sebagai bantalannya.
"Eh !?", gumam Ivander Liam lalu membuka kedua matanya.
Pria berambut pirang itu lalu terdiam sesaat dan memandang ke atas langit-langit atap ruangan kamar.
Dia menghela nafas panjangnya, lalu menolehkan kepalanya ke arah Bo Li.
"Bo Li...", panggil Ivander Liam.
"A--apa !?", sahut Bo Li.
"Bisakah kamu tidak mengungkit tentang perjodohan itu lagi, kamu harus menyadari jika kita telah menerima pertunangan ini dan telah sepakat tanpa harus menyalahkan pihak manapun, dan ingat jika ini adalah keputusan kita berdua !", kata Ivander Liam.
"Mmm...!?", gumam Bo Li kelu.
"Ada satu hal lagi yang perlu kamu ketahui, bahwa aku tidak sedikitpun akan membatalkan pertunangan ini, kamu mengerti !?", kata Ivander Liam.
"Apa yang kamu pikirkan ?", kata Bo Li tertegun.
"Hanya kamu !", sahut Ivander Liam.
Bo Li terdiam dan bergeming tanpa berani melihat ke arah Ivander Liam, ia sendiri tidak dapat berpikir secara jernih saat ini.
Dia tidak dapat menjawab perkataan Ivander Liam yang terdengar sungguh-sungguh, dia juga tidak tahu harus bersikap apalagi untuk membuat pria itu mengerti jika suatu saat nanti Bo Li harus pergi darinya.
Namun, semua itu tidak mampu Bo Li katakan bahkan kini keinginannya yang mengharap pertunangan untuk dibatalkan lambat laun memudar.
Apakah ia telah goyah ? Ataukah Ivander Liam mampu mencuri hatinya dan mengubahnya yang dingin itu ataukah ia mulai menerima kehadiran pria berambut pirang yang merupakan tunangannya itu dalam hidupnya ?
"Baiklah aku akan bersiap-siap dahulu, dan aku harap kamu juga bersiap-siap untuk malam nanti", kata Ivander Liam lalu beranjak dari atas ranjang dan berdiri.
__ADS_1
"Nanti malam ?", tanya Bo Li.
"Tuan Abiyyu mengundang kita untuk jamuan makan malam, merayakan kerjasama di antara kami berdua", ucap Ivander Liam.
"Apakah aku boleh menolaknya ?", tanya Bo Li.
"Alasan apa yang membuatmu menolak undangan tersebut ?", jawab Ivander Liam.
"Aku merasa tidak enak badan, bisakah aku tidak ikut bersama denganmu untuk makan malam ?", ucap Bo Li.
"Kamu akan membiarkanku seorang diri, pergi ke acara pesta tersebut ?", tanya Ivander Liam dingin.
"Tapi maaf, aku benar-benar tidak ingin menghadirinya, dan aku meminta maaf akan hal itu !?", kata Bo Li.
"Kenapa kamu selalu menolak ajakan ku ? Apakah terasa memberatkan mu jika bersama denganku ?", tanya Ivander Liam dengan tatapan dinginnya.
"Bukan, bukan seperti yang kamu ucapkan, tapi memang aku tidak enak badan dan aku tidak berbohong akan hal itu !?", sahut Bo Li.
"Kamu selalu mencari-cari alasan jika bersama denganku, Bo Li !?", kata Ivander Liam.
"Tidak ! Aku tidak mencari alasan untuk menghindari mu tapi aku memang sedang tidak enak badan karena semalam aku berada di luar rumah !", kata Bo Li.
Perempuan cantik itu berusaha untuk menjelaskan alasannya tidak pulang ke rumah Ivander Liam, tapi ia lalu mengurungkannya dan menyembunyikan kepulangannya ke rumah kakek.
Bo Li terdiam menatap bawah ke arah selimut yang menutupi tubuhnya dan termenung sejenak.
Hal tersulit bagi Bo Li karena harus menyembunyikan identitas pribadinya yang sebenarnya dari orang yang paling dekat dengannya dan orang itu adalah tunangannya sendiri.
Dia sendiri terus bertanya-tanya pada dirinya, sampai kapan ia harus menutupi identitas sebenarnya pada Ivander Liam.
Haruskah ia bersembunyi dari tunangannya dan menyembunyikan identitas aslinya pada Ivander Liam, membuka kedok aslinya sebagai seorang ratu.
Membuat jurang yang dalam di antara mereka berdua dan menyembunyikan terus identitas aslinya sampai ia pergi, kembali ke kerajaannya.
"Jika kamu tidak memiliki alasan untuk menolak ku ! Seharusnya kamu menerima ajakan ku untuk pergi, Bo Li !", kata Ivander Liam.
Bo Li terdiam dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Seharusnya kamu mengerti akan posisimu di rumah ini sebagai tunangan ku, nyonya rumah ini, isteri ku, Bo Li !", ucap Ivander Liam marah.
"Ivander Liam...", gumam Bo Li.
Ucapan Ivander Liam sontak mengejutkan perempuan cantik itu, dan membuat Bo Li tersentak kaget.
"Aku adalah tunangan mu, Bo Li ! Memang kita belum sepenuhnya menikah tapi kamu adalah isteriku, wanita milikku dan seharusnya kamu memahaminya, Bo Li !", ucap Ivander Liam kehilangan kendali emosinya.
"A--aku tahu itu..., t--tapi...", ucap Bo Li gugup.
"Kamu tahu Bo Li, aku menerima pertunangan ini bukan karena terpaksa atau karena menuruti perkataan kakek tapi aku mulai menyukaimu !", kata Ivander Liam.
"Eh, apa !?", ucap Bo Li kaget.
"Iya benar ! Dan dengarkanlah baik-baik ucapan ku, bahwa aku sangat menyukaimu dan mungkin aku mulai jatuh cinta pada kekonyolan mu itu !", kata Ivander Liam dengan ekspresi wajah yang serius.
"A--apa yang sedang kamu bicarakan, Ivander Liam ? Apa kamu sadar dengan yang kamu katakan ?", kata Bo Li terperangah.
"Haruskah aku mengulanginya perkataan ku lagi, Bo Li !?", sahut Ivander Liam.
"Bagaimana kamu bisa mencintaiku sedangkan kita tidak pernah saling suka dan tidak banyak kita menghabiskan waktu kita bersama ?", tanya Bo Li dengan wajah merah padam.
"Benarkah ? Apakah itu yang kamu inginkan ? Apa kamu ingin kita bersama dalam waktu yang panjang saat berdua ?", tanya Ivander Liam tertegun.
"Bu-bukan, bukan seperti itu ! Maksudku adalah bagaimana kita saling suka jika kita pernah akrab dan sering berdebat ? Maksudku kita selalu tidak akur ? Bukankah demikian ?", ucap Bo Li.
Tiba-tiba pria berambut pirang itu mendekatkan wajahnya ke arah Bo Li, tunangannya.
__ADS_1
Hal itu membuat wajah keduanya hampir bersentuhan dan Bo Li dengan sigapnya menarik selimutnya ke atas untuk menutupi wajahnya yang semburat memerah.
Ivander Liam hanya tersenyum tipis ketika melihat reaksi berlebihan yang ditunjukkan oleh Bo Li, perempuan cantik yang telah menjadi tunangannya itu dan pria itu berhasil menggoda dan membuat Bo Li tersipu malu.