BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
Undangan Makan Malam


__ADS_3

Sesampainya dikamar tidurnya, Bo Li berjalan kearah ranjang tidurnya lalu duduk disana memandangi buku harian yang ada ditangannya.


Peri kecil Dryada terbang mendekat kearah Bo Li sambil mengepakkan kedua sayapnya yang kelip-kelip.


"Kamu telah mendapatkan buku harian itu, bagaimana kamu tidak ketahuan oleh tunanganmu itu ?", kata peri Dryada.


"Mmm..., tidak. Hanya saja dia mampu mengetahui keberadaanku di kamar itu tadi dan itu sangat membahayakanku", kata Bo Li.


"Bagaimana mungkin pria itu mampu melihatmu ?", tanya peri daun hijau tercengang.


"Entahlah..., aku juga tidak tahu, bagaimana jika dia menyadari itu adalah aku?", kata Bo Li.


"Tidak mungkin orang biasa dapat melihat kekuatan ajaib buah surga karena hanyalah keturunan raja yang mampu melihat kekuatan buah itu secara langsung dan bahkan mampu melihat peri...?", kata peri daun hijau kecil itu lalu terkejut kaget.


"Kenapa kalau dia dapat melihat peri ?", tanya Bo Li heran.


"Ya Tuhan, kamu masih saja menanyakannya Bo Li ? Tidak sadarkah kamu bahwa tunanganmu itu mampu melihat diriku tetapi dia berpura-pura tidak melihatku agar kamu tidak takut padanya ! Tuhanku..., kamu benar-benar payah, Bo Li !", kata peri Dryada.


"Oh Tuhan..., itu tidaklah mungkin terjadi dan bagaimana bisa pria itu mampu melihat kita yang aneh serta ajaib ini ?", kata Bo Li panik.


"Hah...", ucap peri Dryada. "Itulah yang aku maksudkan, dia sengaja berpura-pura tidak melihat diriku serta dia telah mengetahui sesuatu tentang dirimu, Bo Li", ucapan peri Dryada membuat Bo Li tersentak kaget ketika mendengarnya.


"Astaga ! Ini sangat berbahaya, peri ! Kita harus mencari cara untuk menghindari pertanyaan Ivander Liam jika dia datang ke kamar ini ! Tuhan !", kata Bo Li cemas.


"Tunggu ! Tunggu ! Lihatlah dirimu Bo Li, kamu harus segera kembali kewujud asalmu dulu sebelum tunanganmu itu datang untuk melihatmu disini !", ucap peri daun hijau kecil.


"Baiklah, baiklah, aku harus segera berkonsentrasi untuk mengubah diriku kembali kewujud semula", kata Bo Li.


"Cepatlah ! Cepatlah !", kata peri Dryada sambil mengibaskan tangannya kepada Bo Li.


"Iya..., aku akan mulai berkonsentrasi dan jagalah pintu itu jika dia datang sewaktu-waktu", kata Bo Li.


"Tentu, aku akan berjaga-jaga untukmu, Bo Li", sahut peri Dryada.


Bo Li lalu memejamkan kedua matanya dan mulai berkonsentrasi penuh, terlihat tubuh Bo Li berangsur-angsur mulai terlihat seperti sediakala.


Tiba-tiba terdengar ketukan dari arah pintu yang membuyarkan konsentrasi Bo Li sehingga dia tidak dapat kembali kewujud asalnya dan tubuhnya tetap transparan serta berwarna ungu seperti buah Amethyst Ungu.


Dia membelalakkan kedua matanya dan melihat kearah peri daun hijau kecil didepannya yang tengah terbang rendah.


"Bagaimana ini, dia sudah datang kemari ? Apa yang harus aku lakukan sekarang ?", kata Bo Li panik.


"Tenanglah ! Pura-pura tidur saja dan jangan bersuara atau membuka pintu kamar ini, Bo Li !", kata peri Dryada lalu menyelinap cepat kebalik selimut.


"Eh...? Bagaimana bisa kamu pergi bersembunyi tanpa memberikanku petunjuk atau saran ?", kata Bo Li tercengang.


"Klik..., klik..., klik..., cepatlah masuk kedalam selimut dan cepatlah bersembunyi...", ucap peri Dryada dari balik selimut.


"Kamu tidak berniat menolongku ? Lihatlah, tubuhku masih transparan serta berwarna ungu seperti ini ?", kata Bo Li keheranan.


"Sudahlah, jangan banyak bertanya lagi, nanti pria itu keburu masuk kedalam kamar ini dan melihatmu seperti itu, Bo Li !", kata peri Dryada sembari mengintip dari selimut.


"Ya ampun, bagaimana ini bisa terjadi ? Kamu meninggalkanku begitu saja ?", kata Bo Li kaget.


Tok...Tok...Tok...


Terdengar pintu kamar diketuk sebanyak tiga kali dan seseorang memanggil dirinya dari balik pintu kamar.

__ADS_1


"Bo Li..., apakah kamu sudah tidur ?", tanya seorang pria dari balik pintu kamarnya.


Bo Li terkejut dan dia langsung melompat keatas ranjang tidurnya serta menarik selimut tebalnya.


Peri Dryada dan Bo Li, keduanya bersembunyi dibalik selimut tersebut tanpa suara dan bergeming.


***


"KRIEEET....."


Pintu kamar tidur Bo Li yang tidak terkunci itu lalu terbuka pelan dan tampak seorang pria berpakaian kasual masuk kedalam ruangan kamar tidur tersebut.


Pria berambut pirang itu berjalan masuk kedalam kamar dan memperhatikan keadaan seluruh kamar Bo Li.


"Bo Li, apakah kamu tidur ?", tanya pria itu seraya berjalan menghampiri ranjang tidur Bo Li.


Pria itu tampak berdiri tegap disamping ranjang tidur Bo Li dan memandangi selimut tebal yang menutupi seluruh permukaan ranjang tersebut.


Dia terdiam sesaat melihat kearah ranjang tidur Bo Li lalu menghela nafas panjang.


"Hmmm..., tampaknya dia telah tidur, mungkin aku salah lihat saja", kata pria berambut pirang itu.


Pria itu menatap sekali lagi kearah selimut tersebut tanpa rasa curiga sedikitpun kemudian membalikkan badannya sambil memperhatikan letak kamera-kamera pengawas yang ada disudut-sudut ruangan kamar tidur Bo Li.


Tidak ada yang aneh pada kamera pengawas itu dan semuanya terlihat baik-baik saja ditempatnya.


Dia berjalan cepat keluar dari dalam kamar Bo Li dan tidak lupa untuk menutupnya kembali.


"Sepertinya bayangan ungu itu bukanlah Bo Li, hanya perasaanku saja jika itu Bo Li dan mungkin saja bayangan tadi hanyalah sosok imajiner saja karena aku terlalu lelah untuk membaca dokumen-dokumen perusahaan tadi", kata pria itu sambil mengusap kedua matanya serta mendesah pelan.


Pria berambut pirang itu lalu melangkah cepat meninggalkan kamar tidur Bo Li tanpa ada keraguan sedikitpun.


***


Hari mulai menjelang malam dan suasana rumah mewah Ivander Liam terlihat bercahaya terang diseluruh ruangan rumah.


Cahaya-cahaya itu terlihat bersinar dari dalam jendela-jendela berukuran besar yang ada di rumah mewah.


"Apakah kamu telah menyiapkan makan malam untuk kami ?", tanya Ivander Liam pada salah satu pelayan rumahnya.


"Sudah tuan, tinggal dihidangkan menunggu perintah anda", kata pelayan itu sambil menundukkan kepalanya.


"Baguslah, dan panggil kemari Bo Li maksudku Nyonya kemari untuk makan malam jika dia menolaknya segera beritahu aku secepatnya atau berteriaklah sekerasnya sebagai tanda bahwa dia tidak ingin makan malam, kamu mengerti", kata Ivander Liam.


"Baik tuan, saya segera memanggil nona untuk makan malam sekarang", jawab pelayan itu.


"M..., bukan nona lagi tapi nyonya, aku tegaskan sekali lagi panggil dia, Bo Li dengan panggilan nyonya ! Mengerti !", kata Ivander Liam sambil tersenyum.


"Eh...!? B--b--baiklah tuan..., saya mengerti...", sahut pelayan itu terkejut saat melihat ekspresi wajah dari Ivander Liam yang sangat bercahaya bahagia.


"Ya sudah, tunggu apalagi, cepatlah panggil nyonya segera makan malam !", perintah Ivander Liam.


"Iya, iya tuan, saya akan pergi memanggil nona..., eh, nyonya !", ucap pelayan itu buru-buru.


"Hmm...", sahut Ivander Liam santai.


Dia kemudian menarik kursi meja makan dan duduk disana sambil memandangi kearah meja makan didepannya.

__ADS_1


Terlihat pelayan rumahnya berlari cepat menuju kearah tangga rumah ke lantai atas tempat letak kamar tidur Bo Li berada.


Pria berambut pirang itu hanya terdiam sambil menunggu Bo Li datang untuk makan malam bersamanya.


Seseorang kembali mengetuk pintu kamar tidur, Bo Li yang sedang bersiap mengganti gaunnya sehabis mandi dengan pakaian panjang berwarna merah muda serta kain penutup kepala yang menjuntai panjang hingga batas pinggangnya tampak terkejut mendengar pintu kamar tidurnya ada yang mengetuk dari luar.


Tok...Tok...Tok...


Suara pintu kamar tidur Bo Li diketuk sebanyak tiga kali dan dia menolehkan kepalanya kearah pintu tersebut.


"Iya, siapa ?", tanya Bo Li dari dalam kamar.


"Maaf nyonya, saat makan malam tiba dan tuan memanggil anda untuk makan malam bersama dengannya sekarang !", ucap suara pria dari balik pintu kamar.


"A--apa...!? Nyonya...!?", bisik Bo Li terkejut panik.


"Ha...Ha...Ha...Ha..., kamu dipanggil nyonya, Bo Li ! Mereka rupanya telah mengakuimu sebagai nyonya di rumah ini !", kata peri Dryada geli.


"Ihhh..., pria itu selalu mengada-ada saja, bagaimana aku dipanggil dengan sebutan nyonya ?", kata Bo Li sewot.


"Nyonya Bo Li ! Apakah anda mendengar panggilan saya ? Tuan sekarang sudah menunggu anda untuk makan malam di lantai bawah rumah !", ucap pelayan pria itu dari balik pintu kamar.


"Iya, iya, aku mendengarnya ! Aku akan segera kesana !", sahut Bo Li cepat.


"Cepatlah Bo Li, jangan sampai menunggu dia datang untuk menjemputmu ! Bersikaplah biasa saja seakan-akan tidak ada sesuatu yang terjadi !", kata peri Dryada.


"Baiklah, aku akan bergegas kesana untuk makan malam !", kata Bo Li.


Bo Li kemudian berjalan cepat menuju kearah pintu kamarnya dan membuka pintu tersebut.


Seorang pria berdiri tegap didepan pintu kamar tidurnya sambil membungkukkan badannya kepada Bo Li, bersikap hormat padanya.


"Mari kita pergi keruangan makan sekarang !", kata Bo Li lalu berjalan melewati pelayan pria itu.


Tanpa banyak bicara pelayan itu berjalan cepat menyusul Bo Li yang melangkah didepannya.


Mereka menuruni tangga-tangga lebar itu kearah lantai bawah menuju ruangan makan yang terletak disebelah barat.


"Ini pertama kalinya aku makan malam di rumah Ivander Liam dan bagaimana aku harus berhadapan dengannya nanti ?", gumam Bo Li.


Langkah mereka berdua terhenti didepan sebuah pintu besar dan pelayan pria itu lalu membukakan pintu untuk Bo Li.


Pria itu sedikit membungkukkan badannya kepada Bo Li lalu tersenyum ramah.


"Silahkan masuk nyonya, anda sudah ditunggu tuan didalam sana, selamat menikmati makan malamnya dan selamat malam !", ucap pelayan pria itu.


"Terimakasih", sahut Bo Li agak sedikit tegang.


"Sama-sama nyonya...", sahut pelayan pria itu hormat.


Seorang pria berambut pirang terlihat duduk didepan sebuah meja panjang dengan hiasan lilin diatas meja ketika Bo Li masuk kedalam ruangan tersebut.


Pria itu menolehkan kepalanya seraya menatap serius kearah Bo Li yang berjalan pelan kearah meja makan.


Suasana didalam ruangan makan ini terasa sangat romantis sekali dirasa oleh Bo Li karena selain hiasan lilin, ia juga melihat hiasan bunga segar diatas meja makan panjang itu.


Ditambah aroma wangi diseluruh ruangan yang membuat suasana menjadi semakin romantis.

__ADS_1


Ivander Liam tersenyum lembut seraya menatap teduh kearah Bo Li, tunangannya yang tengah berdiri dihadapannya gugup.


Tatapan pria itu sedikit aneh saat memandang kearah Bo Li, dia sedikit menampakkan rasa cintanya kepada Bo Li tunangannya malam itu sedangkan Bo Li tidak menyadari rasa cinta itu tumbuh dihati Ivander Liam diam-diam kepadanya.


__ADS_2