BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
Pagi Yang Sibuk Untuk Bo Li


__ADS_3

Hari itu Ivander Liam kembali mengajak Bo Li untuk makan bersama lagi, bahkan pria berambut pirang itu menjemputnya sendiri di kamar.


Sikap Ivander Liam kini telah menjadi suatu kebiasan rutin yang akan terus menerus dilakukan oleh pria itu, yaitu menjemput Bo Li di kamar kemudian mengantarkannya lagi ke kamar dan hal itu berlangsung beberapa waktu ke depan.


"Aku tidak tahu masakan kesukaanmu, tapi aku berusaha saja dengan mengiranya, apa makanan kesukaanmu", kata Ivander Liam sambil memandangi Bo Li yang duduk di sebelahnya.


"Terimakasih telah menanyakannya padaku, aku tidak memiliki pantangan dalam makanan apapun tapi ini kurasa sudah cukup bagiku, makanan di rumahmu sangat lezat sekali", kata Bo Li.


"Oh iya, baiklah jika kamu menyukainya, aku akan menyuruh koki rumah untuk memasak makanan ini setiap sarapan", kata Ivander Liam seraya melirik Bo Li.


"Apa kamu serius ?", kata Bo Li kaget.


"Hmm...", gumam Ivander Liam.


"Jangan terlalu berlebihan, aku tidak memaksamu untuk melakukannya, aku dapat memakan apa saja selama itu bisa ditelan dan enak dilidah, sungguh", kata Bo Li.


"Tidak apa-apa, aku menyukainya, karena agendaku adalah memperhatikan tunanganku mulai dari sekarang, dan seseorang mengatakannya padaku untuk melakukan itu", kata Ivander Liam.


"Mmm..., mungkin kamu salah mendengarnya, tidak ada yang memaksanya demikian...", kata Bo Li.


"Aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan tapi aku tidak terpaksa untuk melakukan permintaanmu jika itu membuatmu senang tinggal di rumah ini", kata Ivander Liam.


"Emm, baiklah jika kamu suka melakukannya karena banyak permintaan yang akan aku ajukan", kata Bo Li sambil memasukkan sesuap daging ke dalam mulutnya.


"Boleh, selama permintaan itu masih wajar, aku akan mengabulkannya", kata Ivander Liam.


Mereka terdiam dan masing-masing sibuk menghabiskan sarapan mereka di pagi itu, sesekali Bo Li memperhatikan pria yang tengah lahapnya makan itu.


Tidak dipungkiri jika pria itu sangat tampan sekali dengan rambut pirangnya serta garis wajahnya yang tegas, membuat Ivander Liam sangat cocok sebagai seorang model tapi bukan itu profesinya melainkan seorang pengusaha besar dan ia sangat kaya raya.


"Apakah kamu menyukaiku ?", tanya Ivander Liam tiba-tiba.


"Eh !?", ucap Bo Li terkejut.


"Sedari tadi kamu memperhatikanku, aku rasa ada sesuatu yang sangat menarik dariku yang membuatmu suka melihatku", kata Ivander Liam seraya bertopang dagu.


"A--apa !?", kata Bo Li bengong.


"Dari ekspresi di wajahmu sangat jelas jika kamu sangat suka padaku dan sepertinya kamu mulai jatuh cinta padaku, benar bukan ?", kata Ivander Liam.


"Hah !?", Bo Li semakin terbengong dengan perkataan yang diucapkan pria itu.


"Jujur saja, bahwa sebenarnya aku ini sangat menarik untukmu dan aku dapat memahaminya", kata Ivander Liam tersenyum manis.


"Apa yang tengah kamu bicarakan ? Apakah kamu baik-baik saja ?", sahut Bo Li kesal.


Dia kesal karena pria itu memergokinya yang sedang diam-diam memperhatikannya dan ia juga malu karena ketahuan tengah mencuri pandang kearahnya.


Bo Li tidak bisa membayangkan raut wajahnya saat ini, dan ia benar-benar sangat malu ketahuan memperhatikan pria itu.


"Tidak usah merasa malu, aku suka itu, setidaknya tunanganku mulai memiliki perasaan", kata Ivander Liam geli.


"Apakah aku begitu tidak berperasaan ? Sekejam itukah diriku ini padamu, aku rasa kamu terlalu jauh menilaiku !?", kata Bo Li dengan wajah merah padam.


"Aku tidak mengatakan kalau kamu tidak berperasaan karena mengacuhkan tunanganmu bahkan tidak mengindahkan orang itu tapi dia berbesar hati menerimamu apa adanya", kata Ivander Liam melirik Bo Li.


"Apa yang kamu katakan ?", kata Bo Li tersindir.


"Iya, aku dapat memahaminya jika hubungan itu memerlukan waktu untuk saling mengenal satu dengan lainnya tapi buatku itu tidak penting, karena jika pihak laki-laki menyukai gadis itu, aku rasa bertunangan langsung atau menikah langsung bukan menjadi masalah, toh, akhirnya keduanya akan bersatu", kata Ivander Liam.

__ADS_1


"Eh...!?", ucap Bo Li semakin bengong.


"Baiklah, aku sudah menghabiskan sarapanku dan aku harus segera berangkat ke kantor untuk mengechek dokumen penting", kata Ivander Liam.


Pria itu lalu berdiri dari tempat duduknya dan merapikan pakaiannya seraya meraih jas yang ia letakkan di bahu kursi.


Dia berdiri gagah kemudian memandang Bo Li, ia memperhatikan piring makan perempuan itu yang telah kosong, dan tersenyum lega karena Bo Li menghabiskan makanan yang dibuat di rumah ini.


Awal yang baik dari sebuah hubungan, pria berambut pirang itu mulai memikirkan dengan serius hubungan diantara mereka berdua.


"Aku pergi dulu, dan jika kamu ingin sesuatu langsung beritahukan kepada pelayan di rumah ini karena aku telah berpesan pada mereka semuanya untuk memperhatikan nyonya mereka", kata Ivander Liam.


Bo Li mendongakkan kepalanya kearah pria itu yang tengah memakai jasnya dan sekali lagi pria itu mampu membuatnya kagum.


Dia juga telah mengejutkan dirinya dengan ucapannya, pria itu pintar mengalihkan seluruh perhatian Bo Li padanya.


"Selamat pagi, Bo Li !", kata Ivander Liam sambil mengusap cepat pipi perempuan cantik itu dengan jari tangannya.


Bo Li tersentak kaget dengan sikap Ivander Liam yang sangat tiba-tiba dan membuat Bo Li tersipu malu untuk kesekian kalinya.


Dia menatap punggung Ivander Liam yang berjalan pergi dari meja makan, dan mendadak menghentikan langkah kakinya.


"Oh, iya, aku tadi sudah berpesan pada pelayan di rumah untuk menyiapkanku bekal makan siang, aku mengatakan pada mereka bahwa kamu yang akan mengantarkan bekal-bekal makan siangku setiap hari", kata Ivander Liam sambil menoleh ke belakang.


"A--apa !?", kata Bo Li lebih terkejut lagi. "Bekal ?"


"Iya, bekal makan siangku ! Jangan lupa ya mengantarkannya nanti ke tempatku di kantor ! Langsung saja menemuiku di kantor karena aku juga sudah berpesan pada sekretaris perusahaan untuk menerima nyonya mereka !", kata Ivander Liam tersenyum.


"B--bagaimana bisa, kamu menyuruhku seperti itu ???", pekik Bo Li kesal.


"Daaah !", ucap Ivander Liam seraya melambaikan tangannya. "Aku pergi dulu, manis !"


Dia hanya bisa memandangi perginya pria itu dari hadapannya tanpa dapat menolak permintaan pria itu dan ia hanya bisa menggerutu kesal pada Ivander Liam dalam hatinya.


***


Bo Li sangat kesal sekali tapi ia harus segera pergi mengantarkan bekal makan siang Ivander Liam ke kantor.


Dia bersiap-siap pergi dengan menaiki mobil pribadi milik Ivander Liam yang telah terparkir di depan rumah mewah itu.


"Apakah kamu akan pergi kesana ? Tapi kenapa kamu tampak tidak suka, Bo Li ?", tanya Peri Dryada.


"Aku bukan tidak suka dengan pekerjaan baru ini, hanya saja ini sangat keterlaluan untukku, dan itu membuatku kesal sekali !", kata Bo Li dengan cemberut.


"Tidak perlu bersikap sekesal itu, Bo Li, karena ini adalah awal yang baik untukmu ?", kata Peri Dryada.


"Awal yang baik ? Bagaimana mungkin itu disebut awal baik ?", tanya Bo Li bingung.


"Bukankah kamu ingin kembali ke kantor dan menjalankan perusahaan lagi !? Mengantarkan bekal adalah langkah awal untuk masuk kembali ke perusahaan lagi dan pelan-pelan pria itu akan luluh padamu, mungkin saja akan mengijinkanmu kembali bekerja", kata peri kecil daun hijau.


"Benarkah !?", kata Bo Li.


Ucapan peri kecil Dryada juga terdengar masuk akal buat Bo Li, kemungkinan besar tunangannya itu akan memberinya ijin untuk kembali mengurus perusahaan itu.


Dia terdiam sesaat kemudian menganggukkan kepalanya cepat, ia mulai memahami jalan pikir peri kecil itu.


"Aku harap itu benar-benar terjadi dan ia akan memberiku ijin, dan ini mungkin adalah kesempatan terbaik untukku", kata Bo Li.


"Berharaplah terus didalam hatimu, mungkin Tuhan membuka jalannya seperti ini", kata Peri Dryada.

__ADS_1


"Tapi kenapa sistem itu tidak lagi memberi kita tugas lagi ya ? Apakah tugas telah selesai ?", kata Bo Li heran.


"Aku juga tidak tahu, tapi akan ada pemberitahuan dari sistem jika memang ada sebuah tugas untuk kita selesaikan", kata Peri Dryada.


"Berapa lama kita harus menunggunya ?", kata Bo Li.


"Aku tidak tahu kapan pastinya, dan aku rasa tidak akan lama sistem akan mengirim pemberitahuan sistem", kata peri kecil itu.


"Ah, iya, aku rasa lebih baik kita menunggunya, pasti sistem akan segera memberi kita pesan", kata Bo Li sambil menyandarkan badannya ke jok mobil.


"Benar, lebih baik kita menunggunya dengan sabar !", kata Peri Dryada.


"Sejak aku pergi ke surga para peri, tidak ada kabar lagi dari sistem Bo Li 115 yang memberitahukan misi selanjutnya", ucap Bo Li sambil memalingkan wajahnya kearah luar jendela mobil yang tertutup rapat.


"Tunggu saja ! Bersabar mungkin itu langkah terbaik untuk kita !", jawab Peri Dryada serius.


"Apakah pembicaraan ini tidak akan terdengar oleh para peri landak, Murdhuacha ?", tanya Bo Li dengan memandangi pemandangan di luar jendela mobil.


"Tidak mungkin, karena aku telah membuat pelindung di sekitar kita agar mereka tidak mencium bau kita dan tidak dapat melacak keberadaan kita ada dimana", kata peri kecil itu yakin.


"Syukurlah, karena sampah seperti Murdhuacha sangat merepotkan", ucap Bo Li.


"Ha..., ha..., ha..., aku harap mereka tidak marah bila mendengar ucapanmu, Bo Li, tapi memang benar jika peri landak-landak itu sangat mengganggu", kata Peri Dryada.


"Apakah mereka juga sering mengganggumu ?", tanya Bo Li.


"Kadang, peri landak menggangguku dengan membuat jalan menuju ke hutan mereka ubah dan terkadang itu membuatku tersesat saat kembali ke hutan ketika datang dari surga para peri", jawab Peri Dryada.


"Kapan-kapan aku akan mengajari mereka lebih keras lagi jika bertemu dengan mereka !", kata Bo Li dengan wajah dinginnya.


Peri Dryada hanya melihat kearah Bo Li dengan merinding, ia tidak mampu membayangkan akan nasib Murdhuacha jika kembali mengganggu Bo Li.


***


Mobil bergerak pelan memasuki halaman perusahaan lalu menuju kearah tempat parkir yang terletak diruang bawah gedung.


Berhenti tepat didepan pintu lift, dan pintu mobil terbuka sendirinya kearah atas sehingga Bo Li dan peri kecil daun hijau itu dapat keluar dari mobil.


"Kita akan langsung ke ruangan Ivander Liam, aku harap kamu lebih hati-hati dengannya, jangan sampai tunanganku itu melihatmu", kata Bo Li di dalam lift yang bergerak keatas.


"Baiklah, aku paham dan aku akan menyamar menjadi seekor semut yang menempel di pundakmu agar pria itu tidak menyadari kehadiranku", kata Peri Dryada.


"Hmm..., aku rasa itu ide yang bagus kedengarannya, cepatlah karena sebentar lagi kita akan sampai ke ruangannya !", kata Bo Li.


Peri Dryada dengan cepat mengubah tubuhnya menjadi seekor semut kecil dan diam di pundak Bo Li.


Pintu Lift terbuka dengan sendirinya saat tiba di lantai atas tempat ruangan Ivander Liam berada dan keduanya keluar dari lift menuju kantor Ivander Liam.


Bo Li berjalan dengan langkah cepat kearah ruangan yang ada di ujung dengan semut menempel di pundaknya.


"Tidak bisakah kamu mengubah bentuk badanmu lebih kecil ? Bagaimana bisa aku masuk ke ruangan kantor itu dengan semut besar di pundakku ?", ucap Bo Li.


"Ah, iya, aku lupa !? Aku akan memperkecil ukuran tubuhku seperti ukuran semut agar tidak terlihat !?", jawab peri kecil itu.


"Hmm...!?", gumam Bo Li.


"Apa ini lebih baik ?", kata Peri Dryada.


"Hmm..., benar !?", sahut Bo Li datar.

__ADS_1


__ADS_2