
Bo Li mengetuk pintu kantor yang terbuat dari kayu itu sebanyak tiga kali dan ia menggeser badannya kearah samping depan pintu.
Dia menunggu seseorang membukakan pintu itu dari dalam dan ia menunggunya diluar sambil menenteng bekal ditangannya, lima menit ia menunggu pintu terbuka tetapi tidak seorangpun yang membukakan pintu.
"Kenapa tidak ada respon ? Apakah aku langsung masuk saja ke dalam ruangan ?", kata Bo Li.
Bo Li diam agak lama di luar tepatnya di samping pintu kantor tetapi masih tidak ada respon dari dalam.
Dia hendak meninggalkan ruangan kantor itu dan melangkah pergi, tiba-tiba seseorang muncul dari balik pintu.
"Apakah sudah menunggu lama diluar ?", tanya pria berambut pirang.
"Mmm...!? Tidak, aku baru saja datang !", jawab Bo Li.
"Maaf, aku agak lama membuka pintu karena aku mengira kamu akan langsung masuk ke dalam ruangan kantorku", ucap Ivander Liam.
"Ini, bekal makan siangmu ! Aku membawakannya untukmu, terimalah !", ucap Bo Li.
Dia menyodorkan bungkusan kain kepada pria berambut pirang itu yang berdiri di depannya.
Ivander Liam tertegun, ia tidak menyangka jika perempuan cantik itu akan benar-benar mengantarkan bekal makan siangnya ke kantor sendiri.
Pria itu tidak mempercainya kalau Bo Li dengan sukarela membawakan bekal untuknya, ia tahu jika perempuan cantik itu sangat keras kepala dan berego tinggi.
"Kamu mengantarkannya sendiri !?", kata Ivander Liam.
"Iya, aku membawakannya sendiri, apakah kamu sedang menunggu orang lain ?", jawab Bo Li.
"Sulit dipercaya !? Kamu melakukannya untukku, ini kemajuan yang lumayan", kata Ivander Liam tersenyum puas.
"Apa yang kamu bicarakan !?", tanya Bo Li.
"Oh tidak, tidak apa-apa, terimakasih sudah mau mengantarkan bekal makan siang ini", kata Ivander Liam.
"Baiklah kalau begitu aku akan pergi dari sini jika tidak ada lagi yang penting, aku pamit pulang, ya", kata Bo Li lalu membalikkan badannya.
Ivander Liam buru-buru meraih lengan Bo Li dan menariknya masuk ke dalam ruangan kantornya, kemudian menguncinya dari dalam.
Bo Li terkejut saat Ivander Liam menariknya untuk duduk di sofa panjang kantor, lalu ia menyuruh perempuan cantik itu membuka bungkusan kain yang ia bawa tadi.
Perempuan cantik itu hanya terbengong saat Ivander Liam menyodorkan bekal yang masih terbungkus kain itu kearahnya.
Dia tidak mengerti maksud Ivander Liam, tapi ia menerimanya lalu membuka bungkusan kain itu.
"Aku sengaja menyuruhmu mengantarkan bekal ini agar aku dapat makan siang setiap hari bersamamu di kantor, karena aku tahu waktuku lebih banyak disini untuk mengurus perusahaan kita", kata Ivander Liam santai.
Pria itu menyerahkan sekotak bekal makan siang kepada Bo Li dan satu kotak bekal untuk dirinya sendiri.
Bo Li hanya diam saat membuka bekal makan siang itu yang masih terjaga hangat sehingga saat memakannya tidak terasa hambar dan dingin.
Koki di rumah Ivander Liam sungguh terampil dan berpengalaman dalam mengurus keperluan utama perut tuannya.
"Terimakasih atas undangan makan siangnya, kenapa kamu tidak menyuruh pelayan melakukannya ?", tanya Bo Li lalu memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya pelan.
"Bagaimana bisa aku menyuruh seorang pelayan melakukannya ? Apa hubungan antara aku dengan pelayan ?", jawab Ivander Liam acuh tak acuh.
"Maksudmu !?", tanya Bo Li.
__ADS_1
"Yeah..., maksudku, apakah pelayan itu punya hubungan spesial denganku ? Bukankah kamu adalah tunanganku, lalu untuk apa aku menyuruh pelayan di rumah melakukannya !?", jawab Ivander Liam sambil melahap cepat makanannya.
"Menurutmu fungsi dari seorang pasangan hidup atau tunangan hanya untuk mengantarkan bekal makan siang, apa begitu menurutmu ?", ucap Bo Li.
"Tidak lima puluh persennya benar, jika aku mempunyai tunangan maka itu sudah kewajiban tunanganku untuk lebih memperhatikanku, bukan pelayan rumah !", kata Ivander Liam lalu menghabiskan makan siangnya dengan cepat.
"Kewajiban ? Apa yang sedang kamu bicarakan ?", tanya Bo Li begitu kesalnya.
"Intinya nona, aku tidak memerlukan seorang pelayan untuk meladeniku dalam urusan makan siang atau memerintahkan bawahanku untuk menemaniku makan siang ! Karena aku bisa memesan makan siangku melalui telepon atau langsung membelinya sendiri di restoran", kata Ivander Liam.
Dia meletakkan kotak bekal makan siangnya yang telah kosong, dan habis ia makan dengan lahapnya ke atas meja.
Pria itu lalu menyandarkan badannya dengan santai sambil memperhatikan kotak makan siang Bo Li yang masih utuh.
"Bagaimana seorang perempuan begitu lambatnya, meski hanya untuk menghabiskan sekotak kecil makan siang !? Aku benar-benar tidak memahami perempuan sepertimu !?", kata Ivander Liam.
"Oh, aku pasti menghabiskan bekal ini tanpa harus kamu bantu menghabiskannya, karena sedari tadi kamu terus mengajakku berbicara", kata Bo Li berusaha membela dirinya.
"Yeah..., maka habiskanlah ! Nanti bekal makan siangmu keburu dingin, tidak enak !", kata Ivander Liam sambil berdecak keras.
"Bisakah kamu tidak mengajakku berbicara ? Bagaimana bisa aku menghabiskan makan siangku jika kamu terus-menerus berbicara padaku ?", kata Bo Li lalu melahap makanannya cepat.
"Pelan-pelan, nanti tersedak ! Fuih..., benar-benar mengurus perempuan itu tidaklah semudah yang aku bayangkan, ini sungguh rumit !?", hela nafas Ivander Liam.
Pria itu menggerak-gerakkan salah satu kakinya ketika menunggu Bo Li selesai menghabiskan makan siangnya.
Dia menunggu dengan sangat sabar sekali, dan terus-menerus menengok arloji yang ada di pergelangan tangannya.
Itu butuh waktu hampir tiga puluh menit, rekor waktu terlama bagi Ivander Liam dalam menonton orang makan siang.
Interkom nirkabel di meja kerja Ivander Liam tiba-tiba berbunyi nyaring, memecah suasana di ruangan tersebut.
Terdengar bersuara berulang-kali, Ivander Liam berdiri dan berjalan dengan langkah besar kearah meja kerjanya.
"Iya, ada apa Werner ?", kata Ivander Liam.
"Orang dari perusahaan asing telah datang dan mereka kini menunggu di lobi utama, apakah saya harus menyuruh mereka langsung bertemu anda, pak ?", terdengar suara pria dari interkom nirkabel itu.
"Suruh mereka langsung naik keatas untuk menemuiku di ruangan kantorku sekarang !", perintah Ivander Liam.
"Baik, pak !", jawab suara pria dari interkom nirkabel.
Terdengar bunyi terputus dari arah interkom nirkabel dan Ivander Liam terlihat duduk di kursi kerjanya, ia membuka dokumen yang terletak di atas meja kerjanya.
Dia tampak serius saat berada di depan meja kerjanya dan ia terlihat lebih tampan serta sangat maskulin apabila bersikap serius seperti itu.
"Wajahku sangat tampan ya, sampai membuatmu terkagum !?", kata Ivander Liam.
"Astaga, kamu selalu membanggakan diri, seolah-olah pria tampan hanya kamu seorang di dunia ini", sahut Bo Li cemberut.
"Kamu yang mengatakannya dan bukan aku, ucapanmu itu membuktikan bahwa aku memang satu-satunya di dunia ini bagi dirimu, dan aku tidak mengatakan apa-apa untuk memperjelasnya !?", kata Ivander Liam sambil senyum.
"Ya Tuhan, bagaimana ada orang yang begitu percaya dirinya seperti itu di dunia ini !", kata Bo Li.
"Lagi-lagi kamu mengatakan di dunia, sudah cukup jelas memang aku satu-satunya di dunia ini yang ada di dalam hatimu, nona", kata Ivander Liam menggoda Bo Li.
"Aku tidak akan berbicara lagi padamu, karena kamu selalu menang berdebat, tapi tidak pernah jujur untuk mengaku kalah !", kata Bo Li kesal.
__ADS_1
"Debat ? Aku tidak pernah mengajakmu berdebat, Bo Li !", jawab Ivander Liam menahan gelak tawanya.
Pria itu tidak pernah menyangka jika orang yang menjadi tunangannya masih bersifat kekanak-kanakan, tidak pernah sedikitpun dari sikapnya menunjukkan jika perempuan cantik itu adalah wanita dewasa.
Selera kakek memang sangat unik dan jauh dari bayangan Ivander Liam, ia sendiri membayangkan jika perempuan yang akan ditunangkan kepadanya adalah seorang wanita seksi yang menarik minat laki-laki.
Pada kenyataannya, dia harus berurusan dengan perempuan cantik yang sifatnya masih seperti anak kecil.
Ivander Liam sempat berpikir jika perusahaan besar milik Li Sanders ditangani oleh wanita dewasa yang matang dan menarik perhatian kaum adam.
Ternyata ia hanya melihat perempuan polos yang penampilannya tidak menarik sama sekali tapi Ivander Liam diam-diam mengagumi kehebatan serta kecerdasan Bo Li dalam menangani perusahaan dalam kapasitas sebesar ini.
"Akan ada tamu perusahaan dari luar negeri yang berkunjung kemari dan hendak melakukan kerjasama dengan perusahaan kita, aku rasa akan lebih baik jika mereka juga mengenal salah satu pemilik perusahaan ini", kata Ivander Liam.
"Benarkah ? Tapi, bukannya kamu tidak mengijinkan aku untuk ikut campur dalam perusahaan lagi ? Untuk apa aku harus mengenal mereka ?", jawab Bo Li.
"Terserah padamu, jika kamu tidak suka bertemu dengan mereka juga tidak apa-apa, karena kamu ada disini maka aku sekalian memperkenalkan mereka padamu", jawab Ivander Liam.
Bo Li terdiam mendengar perkataan Ivander Liam, ia mulai berpikir serius dengan ucapan pria itu tadi. "Menerima permintaan Ivander Liam, aku rasa tidaklah salah, mengenal tamu perusahaan akan memberiku peluang besar untuk melangkah kembali ke dalam perusahaan, sebaiknya aku menerima ajakan Ivander Liam, ini kesempatan besar !", ucap Bo Li dalam hatinya.
"Baiklah aku akan berkenalan dengan mereka, itu bukan ide buruk, aku rasa akan lebih baik jika aku bertemu mereka sebagai salah satu pemilik dari perusahaan ini", kata Bo Li.
"Kamu ini mudah sekali berubah pikiran, tadi berkata tidak mau dan menolak, sekarang menerimanya, sulit untuk dipercaya", kata Ivander Liam dengan melihat kearah Bo Li.
"Apa kamu keberatan ? Berpikir mencari solusi adalah nilai tambah bagi seorang pengusaha karena kita terkadang harus bisa bersikap fleksibel dalam mengambil keputusan !", kata Bo Li.
"Yeah, aku tahu itu, tapi jangan sering bersikap seperti itu terus-menerus apalagi dalam urusan asmara akan membingungkan !", kata Ivander Liam.
"A--asmara !? K--kenapa melenceng begitu jauhnya !?", kata Bo Li keheranan.
"Itu hanya nasehat saja, bukan saran tapi sebaiknya kamu mendengar nasehat bijak ini ! Aku rasa kamu memahaminya", kata Ivander Liam.
Pintu kantor terdengar diketuk dari luar dengan keras dan kasar, seperti tidak sabar untuk masuk.
Benar-benar tamu yang tidak sopan dan menurut Bo Li perlu untuk didisplinkan, keduanya saling berpandangan serius ketika pintu terdengar di ketuk untuk ke sekian kalinya.
Ivander Liam berdiri dan berjalan cepat menuju kearah depan pintu kemudian dengan cepat membukakan pintu.
"Silahkan masuk tuan-tuan, maaf membuat kalian menunggu diluar lama !", sapa Ivander Liam ramah.
"Apa kabar ? Saya Abiyyu dari negara Kuota, senang berkenalan denganmu, boleh aku masuk sekarang ?", ucap pria muda dengan rambut lurus sebahu berwarna putih.
"Silahkan masuk, aku sudah menunggumu sedari tadi bahkan saat perwakilan perusahaan memberitahukan padaku bahwa anda akan datang ke negara ini", jawab Ivander Liam.
"Terimakasih, atas sambutannya tadi di lobi utama, para karyawanmu sangat ramah dan tidak lupa untuk menjamu dengan kue-kue manis yang lezat, penghormatan bagi kami semua", kata Abiyyu.
"Anda merendah Tuan Abiyyu, aku rasa kedatangan anda adalah sebuah kehormatan bagi perusahaan kami", kata Ivnader Liam seraya tersenyum tipis.
Pria muda itu lalu masuk ke dalam ruangan kantor Ivander Liam dengan langkah percaya diri.
"Abbiyyu ?", gumam Bo Li dalam hatinya.
Bo Li terkesiap saat melihat seorang pria yang tidak asing baginya, pria yang memberikannya penderitaan dan kematian yang mengenaskan.
Orang yang telah menghancurkan keluarganya, anak dari Elmar Kuota Sanders, pamannya dan salah satu kerabat terdekatnya.
Pria muda yang telah membunuh kedua orangtuanya dengan sangat kejamnya tanpa perasaan, Abiyyu Kuota, pembunuh berdarah dingin yang jahat.
__ADS_1