BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
Menjadi Dekat


__ADS_3


Bo Li melihat seorang pria berlari ke arahnya dan langsung memeluknya.


"Aku mencari mu kemana-mana, dan aku tidak berhasil menemukanmu, kamu tidak tahu bagaimana susahnya aku saat tidak melihatmu, Bo Li", kata Ivander Liam.


"Kamu darimana Ivander Liam ?", tanya Bo Li.


"Aku pergi mencari mu ke kamar kecil tetapi aku tidak menemukanmu di sana dan saat aku kembali ke aula, aku melihat makhluk aneh yang menyeramkan", sahut Ivander Liam.


"Apakah mereka melukaimu ?", tanya Bo Li.


"Tidak, karena aku sempat melarikan diri dari makhluk aneh itu yang terus mengejar ku", sahut Ivander Liam.


"Syukurlah kamu selamat, aku sedari tadi mencari mu tetapi aku tidak menemukanmu di gedung hotel ini", kata Bo Li.


"Aku berusaha menghindari kejaran makhluk aneh itu sehingga menyebabkan aku terjatuh ke ruangan yang berada di bawah bangunan utama", ucap Ivander Liam.


"Karena itulah aku tidak menemukanmu di seluruh ruangan gedung hotel ini disebabkan kamu terjatuh", kata Bo Li.


"Iya, maafkan, aku tidak mampu menjagamu, Bo Li", ucap Ivander Liam.


"Aku takut...", kata Bo Li.


Ivander Liam tertegun ketika mendengar ucapan Bo Li, tidak pernah melihat perempuan cantik itu merasa takut seperti sekarang ini.


"Jangan takut, ada aku disini sekarang !", ucap Ivander Liam.


"Aku takut...", ucap Bo Li.


Ivander Liam mendekap erat tubuh Bo Li dan berusaha menenangkannya, dia sangat menyesal telah membawa Bo Li ke acara pesta di hotel ini.


Dia berpikir seandainya ini tidak terjadi mungkin dia tidak akan pernah melakukan kesalahan yang dapat meregangkan hubungan mereka berdua.


"Ayo, kita segera pergi dari tempat ini !", ucap Ivander Liam sambil merangkul pundak Bo Li.


Bo Li hanya terdiam seraya menolehkan kepalanya mencari keberadaan pria bertopeng gagak yang terbuat dari emas itu tetapi dia tidak melihat pria misterius itu.


Beberapa jam setelah Bo Li dan pria misterius dengan membawa biola emas itu mengurus onggokan manusia yang mengering, menyembunyikan tubuh mereka di suatu tempat tersembunyi dengan bantuan anak buah pria bertopeng emas itu.


Pria misterius itu pergi dari pandangannya, bersamaan asap putih yang tiba-tiba muncul memenuhi seluruh ruangan lantai utama.


Bo Li tidak melihat pria bertopeng gagak itu lagi dan hanya dia sendiri yang berdiri tertinggal di dalam ruangan lantai utama hotel bintang lima.


Sejak itu Bo Li tidak pernah menemukan keberadaan pria misterius itu lagi.


Ivander Liam memapah Bo Li menuju ke mobil Rolls Royce miliknya dan mempersilahkan perempuan cantik yang tubuhnya telah kembali normal dan tidak berwarna ungu itu untuk masuk ke dalam mobil.


Kembali Bo Li kesulitan masuk ke mobil karena gaun pestanya yang menjuntai panjang itu menghalangi Bo Li untuk masuk dan dengan bantuan tunangannya, yaitu Ivander Liam maka Bo Li dapat naik ke dalam mobil.


"Fuih !? Lain kali berpakaianlah biasa saja jika pergi ke pesta karena gaun milikmu ini sangat merepotkan dirimu, Bo Li", ucap Ivander Liam.


"Iya, aku tahu itu dan maaf telah menyusahkan mu, Ivander Liam", sahut Bo Li.


"Baiklah, baiklah, kamu boleh memakai gaun apa saja sesuai selera mu dan aku tidak akan melarangnya", ucap Ivander Liam.


Pria berambut pirang itu melirik Bo Li yang tengah bersedih dan dia bermaksud menghiburnya untuk tidak membuat perempuan yang memiliki kecantikan bagaikan bidadari itu semakin sedih dengan kejadian yang di alami Bo Li, pria tampan itu berusaha mengalihkan pikiran Bo Li ke lainnya.


Mobil Rolls Royce bergerak cepat serta melaju kencang meninggalkan gedung hotel bintang lima yang masih menyimpan misteri.



Dua hari sejak kejadian yang mencekam itu...


Ivander Liam berusaha mencari cara untuk menghibur Bo Li dengan memberinya limpahan kasih sayang kepadanya, diantaranya menghadiahkan Bo Li gaun cantik, kotak cokelat manis yang menggungah rasa senang, serta selalu menyediakan kue-kue manis yang lezat.


Pria berambut pirang itu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membahagiakan Bo Li supaya perempuan cantik itu ceria lagi.


Semenjak datang dari acara pesta perjamuan makan malam di hotel bintang lima, Bo Li selalu terlihat muram dan bersedih.


Entah, apa yang dipikirkan Bo Li tidak ada yang dapat memahaminya. Bahkan Ivander Liam tidak mampu membuat Bo Li tersenyum atau sekedar membuat Bo Li berdebat dengannya.

__ADS_1


Rumah terasa sangat sepi dan sunyi tanpa suara Bo Li yang biasanya mengisi ruangan rumah megah itu, atau terkadang terdengar keras apabila dia marah.


Ivander Liam hampir putus asa dengan sikap Bo Li yang kembali dingin seperti dulu lagi ketika pertama kalinya dia datang ke rumah megah itu.



KLIK... KLIK... KLIK...


Muncul kilauan cahaya kelap-kelip dari tubuh peri kecil daun hijau yang terbang melayang sembari mengepakkan kedua sayapnya yang mengeluarkan serpihan cahaya berkilauan indahnya.


Peri Dryada bergerak mendekat ke arah Bo Li yang diam termenung bersandar di sofa kamar tidurnya.


KLIK...


KLIK...


KLIK...


"Ada apa Bo Li ? Aku perhatikan kamu sejak dari acara pesta malam itu selalu termenung dan diam menyendiri", ucap Peri Dryada.


"Aku tidak apa-apa...", sahut Bo Li.


"Lalu apa yang menyebabkan mu sedih seperti ini ? Dan apa yang sebenarnya terjadi di acara pesta malam itu ?", tanya Peri Dryada.


"Tidak ada yang terjadi di pesta itu", sahut Bo Li.


"Benarkah ?", tanya Peri Dryada.


"Iya... Tidak ada apa-apa di acara pesta itu dan hanya pesta perjamuan makan malam saja, tidak ada yang menarik di sana...", sahut Bo Li.


"Mmm, aku juga melihat perubahan yang terjadi pada tunangan mu itu dan aku merasakan dia lebih perhatian padamu", kata Peri Dryada.


"Mungkin karena dia ingin memanjakan ku", sahut Bo Li.


"Benarkah !?", ucap Peri Dryada.


"Iya, mungkin juga karena Ivander Liam memenangkan tender sehingga dia berubah penuh perhatian", kata Bo Li masih berwajah muram.


"Aku tidak tahu hal itu karena aku tidak terlalu memperhatikannya, peri", sahut Bo Li.


Peri daun hijau kecil mulai mencurigai Bo Li karena sejak dia kembali dari acara pesta malam itu, peri ajaib dari surga peri itu merasakan bahwa ada yang berubah pada diri Bo Li dan Ivander Liam.


Di sisi lain, Ivander Liam memberi perhatiannya yang cenderung berlebihan terhadap Bo Li bahkan hampir setiap hari pria berambut pirang itu mencurahkan seluruh harinya untuk Bo Li.


Mulai pria itu bangun pagi langsung datang ke kamar Bo Li hanya untuk sekedar menanyakan kabar perempuan cantik itu hingga hari menjelang malam, Ivander Liam datang lagi ke kamar Bo Li dan lagi-lagi hanya sekedar untuk menanyakan kabar Bo Li, tunangannya itu.


Namun, peri kecil daun hijau itu tidak merasakan kebahagiaan diantara keduanya karena Peri Dryada melihat tatapan mereka berdua sangat serius sekali serta menyimpan sesuatu yang sengaja disembunyikan Bo Li maupun Ivander Liam.



TOK... TOK... TOK...


Terdengar suara pintu diketuk dari luar kamar tidur dan peri kecil daun hijau itu melihat Ivander Liam langsung masuk ke dalam kamar Bo Li, tidak seperti biasanya Bo Li yang membuka terlebih dahulu pintu kamar tidurnya.


Anehnya, Bo Li tidak merasa keberatan dengan sikap tunangannya itu.


"Bo Li... Bagaimana keadaanmu hari ini ? Aku tadi memesan dari toko kue, sekotak red velvet cake, khusus untukmu", ucap Ivander Liam.


"Terimakasih", sahut Bo Li.


"Red Velvet cake... Bukankah ulang tahun Bo Li masih lama sebulan lagi... Untuk apa pria berambut pirang itu membawakan red velvet cake untuk Bo Li secara khusus..."


Ucap peri kecil daun hijau dalam hatinya dari tempat persembunyiannya, setelah mendengar ucapan Ivander Liam, peri itu semakin penasaran dengan sikap kedua orang itu, antara Bo Li dan Ivander Liam yang terkesan misterius.


"Aku berencana mengajakmu liburan musim panas dan aku berharap kamu akan menerima ajakan ku ini", ucap Ivander Liam sembari mengiris red velvet cake.


Pria berambut pirang itu memberikan sepotong red velvet cake berukuran cukup besar kepada Bo Li.


"Aku sudah memesan tiket pesawat untuk kita berdua ke Finlandia sekalian aku melakukan perjalanan bisnisku ke sana", ucap Ivander Liam.


"Sudah kuduga, meski aku tidak menjawab ajakan mu, pasti kamu akan memaksakannya", sahut Bo Li.

__ADS_1


"Iyah... Aku berpikir itu akan lebih baik untukmu berlibur sejenak, aku hanya ingin kamu bahagia, Bo Li...", ucap Ivander Liam.


Ivander Liam meraih tangan Bo Li seraya menggenggamnya erat, seolah-olah ingin menyampaikan seluruh perasaannya kepada Bo Li.


"Hanya itu yang bisa aku perbuat untukmu, selain itu aku tidak banyak bisa membantumu dan ini bentuk penyesalanku kepadamu, itu saja", kata Ivander Liam.


"Aku tahu itu...", ucap Bo Li menundukkan kepalanya ke arah kedua tangannya.


"Nanti malam kita berangkat ke bandara untuk penerbangan ke Finlandia, maka bersiap-siaplah mulai sekarang", kata Ivander Liam.


"Aku mengerti", sahut Bo Li.


"Baiklah, jangan lupa membawa keperluan penting karena kita akan melakukan perjalanan yang cukup jauh dan lama di pesawat", ucap Ivander Liam.


"Iya, aku akan mengingatnya", sahut Bo Li.


"Aku pergi dulu untuk berkemas-kemas dan jangan lupa red velvet cakenya di makan karena aku memesannya khusus untukmu", ucap Ivander Liam.


"Kamu tidak ikut makan red velvet cake ini bersamaku ?", kata Bo Li.


"Mmm, jika kamu tidak keberatan, aku menemanimu menghabiskan red velvet cake ini bersamamu", sahut Ivander Liam.


"Tidak. Aku tidak merasa keberatan sama sekali jika kamu menemaniku dan aku akan merasa sangat senang sekali", kata Bo Li.


Ivander Liam hanya mengangkat kedua tangannya seraya memandangi red velvet cake yang dipesannya tadi dari toko kue.



Terus terang Ivander Liam tidak terlalu menyukai makanan manis ataupun kue-kue manis tetapi sejak dia mengenal Bo Li dan bertunangan dengan Bo Li, pria tampan itu mulai sedikit menggemari makanan manis seperti red velvet cake.


"Apa aku tidak salah lihat !? Bo Li dan Ivander Liam rukun !?"


Ucap peri Dryada dari tempat persembunyiannya yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa.


"Ternyata peri kecil kelap-kelip itu masih ada di kamar ini dan dia bersembunyi dari pandangan manusia... Siapa peri kecil itu ? Dan ada hubungan apa peri itu dengan Bo Li..."


Ivander Lim melirik ke arah sudut ruangan yang terdapat meja konsul dengan sebuah cermin berukuran lebar disamping meja itu.


"Bo Li...", panggil Ivander Liam.


"Iya, apa ?", tanya Bo Li.


"Apakah kamu tidak melihat sesuatu di tempat ini ? Ataukah kamu memiliki hewan peliharaan aneh ?", ucap Ivander Liam bertanya.


"Tidak, aku tidak memiliki hewan peliharaan atau merasakan se...", Bo Li lalu menghentikan ucapannya.


Dia memutar pandangannya ke arah sudut ruangan kamar, tepat di meja konsul dengan cermin lebar.


"Oh tidak, apakah Ivander Liam melihat Peri Dryada !?", ucap Bo Li dalam hatinya panik.


"Hmm..., tapi aku merasa ada yang aneh di kamar ini dan aku juga berpikir jika ada yang tersembunyi disini", sahut Ivander Liam.


"Mungkin itu perasaanmu saja, lebih baik kita segera bersiap-siap untuk liburan musim panas kita, Ivander Liam", kata Bo Li.


"Baiklah, kalau begitu, aku akan menghabiskan potongan red velvet cake ini terlebih dahulu setelah itu aku akan pergi berkemas dan jangan lupa kamu juga bersiap-siap", ucap Ivander Liam.


"Iya...", sahut Bo Li lembut.


Tak terasa waktu telah berlalu sangat cepat sekali dan hari mulai menjelang malam.


Tiba waktunya untuk Bo Li dan Ivander Liam berangkat ke bandara untuk melakukan perjalanan mereka ke Finlandia.


Tampak Ivander Liam sibuk membawakan koper-koper milik Bo Li sedangkan koper miliknya seorang asisten yang membawakannya.


"Apa kamu sudah siap, Bo Li ?", tanya Ivander Liam.


"Iya, aku sudah siap sedari tadi", jawab Bo Li.


"Ayo, kita masuk ke dalam mobil", ucap Ivander Liam seraya membimbing Bo Li ke mobil.


Bo Li tidak lupa membawa serta buku harian sistem miliknya beserta peri Dryada yang dia taruh di dalam tas jinjing kulitnya yang berwarna ungu. Dan mereka semua pergi meninggalkan rumah mewah itu menuju bandara dengan mengendarai mobil Rolls Royce warna hitam.

__ADS_1


__ADS_2